Kehidupan Seorang Perempuan yang Menghadapi HIV
Di kantin Puskesmas Bagansiapiapi, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), seorang perempuan berinisial N duduk bersama suaminya dan anaknya yang masih berusia tiga tahun. Mereka sedang menunggu giliran untuk berkonsultasi dengan dokter penanggung jawab yang menangani pasien HIV. N adalah salah satu dari tujuh orang dengan HIV (ODHIV) yang dilayani oleh puskesmas tersebut.
N menceritakan kisah hidupnya sebagai ODHIV. Ia mengaku takut ketika bercerita tentang statusnya kepada orang lain. Namun, dukungan dari suaminya yang sangat mencintainya membuat N tetap semangat menjalani hidup. N mengetahui dirinya terinfeksi HIV pada tahun 2019. Ia tertular virus ini dari mantan pacarnya, yang tidak pernah menjalani pengobatan. Mantan pacarnya meninggal pada tahun 2017 atau 2018.
Pada tahun 2016, N pernah berhubungan tanpa alat pelindung dengan mantan pacarnya. Awalnya, ia hanya merasakan sakit di dada, seperti masuk angin. Namun, dalam waktu dua bulan, berat badannya turun drastis dari 46 kilogram menjadi 27 kilogram. Dokter awalnya mendiagnosis N mengalami penyakit jantung dan paru-paru. Untuk memastikan kondisi kesehatannya, N disarankan melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit.
Kondisi kesehatan N terus memburuk hingga ia sempat lumpuh dan mengalami koma selama sebulan. Dokter bahkan memvonis bahwa N hanya memiliki peluang hidup 20 persen. Namun, setelah menjalani perawatan intensif, N sadar dari koma. Dokter kemudian melanjutkan pemeriksaan dengan mengambil sampel darah dan liur. Hasil laboratorium menunjukkan bahwa N positif HIV.
Vonis tersebut menggoncang hati N. Ia merasa sedih dan tidak sanggup lagi menjalani hidup. Namun, dukungan dari orangtuanya memberinya semangat dan nasihat agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu.
Menemukan Pasangan Hidup
Pada tahun 2022, N menemukan sosok pria berinisial P melalui media sosial. Sebelum menikah, N secara jujur berbicara tentang kondisinya. Kejujurannya itu disambut dengan cinta yang tulus dari P. Mereka menikah pada tahun 2022 dan kini telah dikaruniai dua orang anak.
P mengaku tidak pernah merasa takut atau jijik terhadap kondisi istri yang dicintainya. Ia percaya bahwa istri mereka bisa sembuh. P setia menemani N dan selalu mengingatkan agar ia rutin minum obat yang didapat dari Puskesmas. Bahkan, ia melarang N melakukan pekerjaan berat agar kondisi kesehatannya tidak menurun.
"Saya ingatkan terus agar minum vitaminnya, karena terkadang dia lupa. Jadi saya ambilkan kotak vitaminnya dan suruh minum. Pas ketiduran saya bangunkan supaya bisa minum vitamin," ujar P.
Pandangan negatif masyarakat terhadap penyakit yang dialami N ternyata tidak terbukti. P mengaku rutin berhubungan suami istri dengan N. Selain itu, kedua anak mereka dinyatakan sehat setelah pengujian darah menunjukkan hasil negatif.

Dokter Dwi Septi Andria, salah satu dokter di Puskesmas Bagansiapiapi, menyatakan bahwa pengujian dilakukan di Jakarta dan hasilnya negatif. Ia juga menyarankan agar P menggunakan pengaman saat berhubungan intim agar tidak tertular. Meski begitu, Dwi mengungkapkan bahwa kondisi N terpantau baik karena rutin meminum ARV.
Selain N, masih ada enam pasien ODHIV yang dilayani oleh Puskesmas Bagansiapiapi. Namun, N termasuk pasien yang koperatif dan patuh mengikuti anjuran dokter.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar