Kisah Ibu Zhee yang Menggemparkan: Kebenaran di Balik Kematian Putrinya Usai Pramuka

Kisah Ibu Zhee yang Menggemparkan: Kebenaran di Balik Kematian Putrinya Usai Pramuka

Kecelakaan Pramuka di Pringsewu yang Berujung pada Kematian Siswi

Seorang siswi kelas VI di sebuah sekolah di Pringsewu, Lampung, Aisyah Aqila Fazila Yusyah (12) meninggal dunia pada 23 November 2025, sehari setelah mengalami kecelakaan saat kegiatan Pramuka di luar kelas. Peristiwa ini terjadi setelah korban tergelincir dari tebing saat mencari tumbuhan herbal bersama kelompoknya tanpa pendamping guru.

Kegiatan Pramuka yang Tidak Terkendali

Pada 22 November 2025, Zhee, begitu ia akrab disapa, mengikuti kegiatan mencari tumbuhan herbal selama jam kosong kelas. Kegiatan tersebut dipandu oleh guru pembina Pramuka, dengan setiap kelompok terdiri dari 89 siswa. Mereka diarahkan untuk berjalan sekitar satu kilometer dari sekolah menuju sebuah bukit.

Nia, ibu kandung Zhee, menyebutkan bahwa putrinya memiliki riwayat radang otak sejak kecil. Sejak kelas IV, Nia sudah meminta pihak sekolah agar kegiatan fisik Zhee diawasi secara intensif dan tidak dilibatkan dalam kegiatan Pramuka. Ia juga menjelaskan bahwa Zhee jarang keluar rumah, apalagi ke alam.

Kecelakaan yang Tidak Disampaikan Secara Jujur

Saat berada di puncak bukit, Zhee dan seorang rekannya diduga tergelincir dari tebing. Korban jatuh dan menghantam pondasi batu bata di bawah tebing. Warga sekitar memberikan pertolongan pertama. Menurut Nia, Zhee masih bisa berdiri, meskipun rok pramukanya kotor dan ikat pinggangnya penyok hingga harus dibuka dengan obeng.

Siswa-siswa dalam kelompok disebut berusaha mencari guru pendamping, namun menurut penuturan anak-anak, guru tidak ada di lokasi saat kejadian. Korban kemudian dibawa ke klinik. Namun, Nia, yang saat itu berada di Surabaya, baru mengetahui kondisi anaknya setelah menghubungi pihak keluarga yang mendampingi di klinik.

Awalnya, Nia mendapat informasi bahwa Zhee hanya mengalami masuk angin dan kelelahan karena tidak sarapan. Dari sini, Nia mulai curiga dan berusaha mencari tahu sendiri apa yang terjadi. Ia mengungkapkan bahwa teman-teman Zhee yang satu tim memberikan informasi bahwa korban jatuh dari tebing.

Penyembunyian Informasi oleh Pihak Sekolah

Nia mengaku kesulitan meyakinkan keluarganya di rumah bahwa Zhee mengalami jatuh dari ketinggian. Menurutnya, guru yang mengantar korban ke klinik mengatakan bahwa Zhee hanya kepleset biasa akibat tidak sarapan. Ia merasa informasi yang diberikan oleh pihak sekolah tidak jujur.

Menjelang sore, Nia berhasil mengumpulkan keterangan dari teman-teman Zhee dan mengetahui bahwa putrinya bukan sekadar tergelincir ringan. Saat menghubungi kepala sekolah dan wali kelas, mereka tetap mengatakan bahwa Zhee baik-baik saja, hanya mengalami luka di kaki dan lutut.

Keesokan harinya, Nia mendatangi klinik tempat Zhee pertama kali diperiksa. Dari rekam medis yang diperlihatkan, dokter mendiagnosis adanya nyeri ulu hati serta kemungkinan pendarahan otak, dan menyarankan agar korban segera dirujuk untuk CT scan. Nia menyebut informasi tersebut tidak disampaikan kepada dirinya oleh pihak sekolah.

Keterbukaan Informasi yang Kurang

Nia juga mengungkap bahwa teman-teman Zhee sempat diminta untuk tidak menceritakan detail jatuhnya korban dari ketinggian. Meski pihak sekolah menyatakan kesanggupan untuk membantu pengobatan, Nia menilai tidak ada keterbukaan informasi sejak awal kejadian.

Dalam unggahan di media sosial, Nia menulis bahwa hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan putrinya mengalami trauma pada organ dalam, termasuk ginjal, kandung kemih, jantung, serta pendarahan otak. Zhee meninggal dunia 28 jam setelah kejadian.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan