Kisah Kades Aunul Hias Belangian Aranio, Warga Gotong Royong Bangun Toilet Umum

Kisah Kades Aunul Hias Belangian Aranio, Warga Gotong Royong Bangun Toilet Umum

Desa Belangian: Perubahan Besar dari Kebiasaan Buruk Menuju Kehidupan Bersih

Desa Belangian, yang terletak di Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, kini menunjukkan perubahan yang signifikan. Suasana kampung pegunungan yang sejuk dan asri semakin terasa kuat, seiring dengan perubahan perilaku warga dalam menjaga kebersihan lingkungan. Salah satu perubahan utama adalah tidak lagi adanya kebiasaan buang air besar sembarangan (BHBS), setelah dibangunnya toilet umum dan tersedianya air bersih.

Perubahan ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berlangsung secara bertahap. Di bawah kepemimpinan Pembakal Aunul Khair, desa ini mulai melakukan penataan diri melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Langkah sederhana ini memiliki dampak yang nyata hingga ke sudut-sudut desa yang berada sekitar 60 kilometer dari Kota Banjarbaru.

Sejarah dan Keunikan Desa Belangian

Belangian memiliki sejarah panjang. Nama desa ini berasal dari bahasa Dayak, yaitu Balai yang berarti tempat pertemuan dan Nian yang merujuk pada makhluk halus. Wilayah ini berada di tepian Waduk Riam Kanan, yang dulunya merupakan area perkebunan warga Desa Kalaan dan sekitarnya. Desa ini diresmikan pada tahun 1985 dan kini memiliki penduduk sekitar 350 jiwa. Selain itu, Belangian juga dikenal sebagai situs Geopark Meratus ke-36, serta desa yang sedang berkembang menuju kualitas hidup yang lebih baik.

Program STBM dan Perubahan Perilaku Warga

Kepala Desa Belangian, Aunul Khair, mengingat masa-masa ketika warganya masih memiliki kebiasaan buruk seperti BHBS. Ia mengatakan bahwa pemerintah desa melakukan pembenahan untuk mengubah pola masyarakat. Langkah pertama yang dilakukan adalah mendata warga yang belum memiliki toilet. Setelah itu, pemerintah desa memberikan stimulan berupa material, sedangkan pembangunan toilet dilakukan secara gotong royong.

Perubahan pun mulai terlihat. Kebiasaan berganti dengan kesadaran. Dulu, warga sering BAB di jamban tepi sungai, kini tak lagi. Karena di desa ini sudah ada sedikitnya 11 toilet, baik yang milik umum maupun yang dibangun oleh warga secara bersama-sama sejak 2017.

Selain itu, program STBM juga menyediakan keran-keran di depan rumah untuk memudahkan cuci tangan menggunakan sabun. Tujuannya adalah agar kebiasaan ini benar-benar berjalan, bukan hanya teori. Sosialisasi juga dilakukan kepada ibu rumah tangga agar bahan makanan seperti sayur, ikan, atau lauk lainnya dicuci dengan benar sebelum dimasak. Untuk urusan air minum, warga memiliki dua pilihan, yaitu menggunakan air dari depo isi ulang yang dinilai lebih bersih atau merebus air di rumah. Yang penting, air yang diminum tetap sehat.

Pengelolaan Sampah dan Limbah Cair

Masalah sampah juga mendapat perhatian. Pemerintah desa rutin memberikan penyuluhan, baik melalui pertemuan warga maupun pengajian. Selain itu, sebuah bank sampah telah dibentuk untuk mendorong warga memilah sampah rumah tangga. Meski belum memberi dampak ekonomi besar, bank sampah membuat lingkungan lebih rapi. Warga juga mulai meninggalkan plastik ketika berbelanja dan beralih menggunakan kantong dari kain bekas yang dijahit ulang.

Pengelolaan limbah cair juga menjadi fokus. Dulu, air sisa dapur dan cucian dibiarkan mengalir bebas. Namun sejak 2017, pemerintah desa memberikan stimulan untuk pembuatan lubang resapan. Warga yang membangun resapan akan diberi subsidi sebesar Rp 500 ribu oleh pemerintah desa.

Kesadaran Hidup Bersih dari Dalam Diri Sendiri

Perubahan perilaku warga bukan hanya soal jamban atau sampah. Lebih dari itu, ini adalah bagaimana sebuah desa kecil di pegunungan Meratus membangun kesadaran hidup bersih dari dalam diri sendiri. Aunul Khair berharap Belangian bisa menjadi desa yang bersih, sehat, dan nyaman bagi semua.

Penghargaan yang Mengakui Upaya Desa Belangian

Berkat upaya tersebut, Desa Belangian mendapatkan dua penghargaan sekaligus, yaitu GERMAS Award tingkat Kabupaten Banjar dan STBM Award tingaa Provinsi Kalimantan Selatan. Penghargaan ini secara langsung diserahkan oleh Bupati Banjar pada 17 November lalu.

Sadiah, salah satu warga Belangian, merasa bersyukur karena kini desanya sudah lebih mapan dan terfasilitasi. Jadi kalau pun ada pengunjung datang, mau rekreasi ke Kahung lewat Belangian juga lebih nyaman, air bersih tersedia hampir di beberapa titik depan rumah warga, secara gratis, ujarnya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan