Kisah Kepala Desa di Aceh Tengah: Suara Gemuruh dan Gempa Sebelum Banjir Bandang

Peristiwa Bencana Alam di Kampung Umang, Aceh Tengah

Pada hari Rabu (26/11/2025) sekitar pukul 09.00 WIB, Wahyu Putra, Reje Kampung Umang, Kecamatan Linge, Aceh Tengah bersama lima rekannya membawa anjing peliharaan masing-masing dan berencana untuk berburu ke hutan. Saat itu, cuaca sedang hujan deras. Wahyu berharap hujan akan reda dalam beberapa saat agar bisa melanjutkan perburuan. Namun, setelah menunggu beberapa jam, ia merasa tidak enak hati dengan kondisi cuaca yang semakin memburuk dan memutuskan untuk kembali ke rumah.

Setiba di rumah, Wahyu berbincang dengan rekan-rekannya dan sepakat untuk berkumpul di suatu tempat. Pada saat itu, air mulai mengalir dari bukit di dekat kampung. Sekitar pukul 16.00 WIB, warga Kampung Umang mendengar suara gemuruh dan gempa bumi. Mereka keluar dari rumah sambil menyebut nama Tuhan.

Menurut Wahyu, pada hari Rabu, hujan terus mengguyur, meski tidak terlalu deras. Namun, pada sore hari, warga mendengar bunyi dentuman dan getaran gempa. Akibatnya, tanah dari pegunungan turun ke kampung, menyebabkan retakan di wilayah tersebut.

Kampung Umang yang terdiri dari 95 kepala keluarga (KK) akhirnya harus mengungsi ke lokasi bernama Simpang Kelampang. Pada hari Jumat, sejumlah warga di dusun Pantan Jemungket terjebak saat berangkat menuju lokasi pengungsian. Untuk mengatasi situasi ini, warga membuat jembatan darurat dari kayu agar mereka bisa keluar dan berkumpul di Simpang Kelampang.

Sekitar 221 orang penduduk Kampung Umang terdampak bencana ini. Setelah bencana, masyarakat tidak lagi ingin kembali ke kampung. Mereka menginginkan lokasi permukiman baru.

“Kami ingin pindah kampung karena di kampung itu kami tidak nyaman lagi, kami ingin direlokasi,” ujar Wahyu.

Kondisi Pengungsi yang Memprihatinkan

Wahyu juga mengungkapkan bahwa sudah ada warganya yang sakit di tenda pengungsian. “Sabtu ini, 35 persen warga saya sudah sakit, 75 persen memiliki gejala penyakit,” katanya.

Ia mengatakan bahwa BBM untuk keperluan kampung sudah habis. “Kami ke posko pemda, tetapi BBM tidak tersedia,” ujarnya.

Jika beras tidak sampai ke kampung, mungkin masyarakat akan mengalami kelaparan. Saat ini, para pengungsi dipusatkan di Simpang Gelampang. Posko hanya satu unit dan dibuat secara sederhana.

Tenda hanya ada satu, dan warga sudah menerima beras pada Selasa melalui jalur darat. Di tenda pengungsi, terdapat sekitar 5 balita, dan yang sakit hanya ditangani oleh bidan di desa. Tim medis tidak bisa turun dari kecamatan karena akses jalannya tidak memungkinkan.

Ancaman Gempa dan Longsoran Tambahan

Wahyu menyebutkan bahwa terjadi dua kali gempa setelah bencana. Gempa tersebut terjadi selama sekitar satu menit. Ia khawatir, gempa akan memicu longsoran lanjutan.

“Ada Gunung Masjid yang akan turun ke sungai. Jika gunung itu turun atau pecah, maka kampung kami akan menjadi lautan. Itu yang kami khawatirkan,” ujarnya.

Akibatnya, warga terpaksa mengungsi ke Simpang Gelampang. Jika hujan kembali turun, hal tersebut akan terjadi. Oleh karena itu, mereka harus pindah ke Simpang Gelampang.

Kebutuhan Tenaga Medis dan Alat Komunikasi

Saat ini, para pengungsi membutuhkan tenaga medis serta alat komunikasi. Ketiadaan listrik dan jaringan handphone serta internet membuat kondisi mereka semakin memprihatinkan.

“Kami mohon perhatian dari semua pihak, mohon bantu kami,” ujar Wahyu.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan