Kisah kepanikan warga Sikka saat gempa dan tsunami di Flores, bangun pondok dari daun kelapa

Kisah kepanikan warga Sikka saat gempa dan tsunami di Flores, bangun pondok dari daun kelapa

Kisah Pilu Gempa dan Tsunami di Kabupaten Sikka, NTT

Pada 12 Desember 1992, sebuah peristiwa alam yang tak terduga mengguncang wilayah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pukul 13.00 Wita, gempa bumi dengan kekuatan besar mengguncang pulau Flores, diikuti oleh tsunami yang melanda kawasan pesisir. Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi warga setempat, yang hingga kini masih menyimpan kenangan kelam dari masa lalu.

Kanisius, seorang warga Talibura, mengingat peristiwa tersebut dengan jelas. Saat itu, ia sedang berada di pesisir pantai bersama warga lainnya untuk menangkap ikan. Tanpa diduga, gempa bumi tiba-tiba mengguncang tanah, membuat mereka kaget. Tak lama kemudian, air laut mulai surut secara drastis, memberi kesan aneh dan menakutkan. Waktu itu, kami sedang berada di pantai, sementara ambil ikan, kami kaget saat terjadi gempa, tak lama, air laut langsung surut, ujarnya.

Namun, ketenangan itu hanya sementara. Ombak besar datang dan menghancurkan segalanya. Rumah-rumah tenggelam, mobil-mobil mengapung, dan hewan peliharaan hilang. Bahkan, pohon-pohon besar tercabut dari akarnya. Air laut yang bercampur lumpur menghancurkan pemukiman warga. Kebiasaan sehari-hari menjadi berantakan dalam hitungan detik.

Saat gempa dan tsunami terjadi, warga setempat langsung berlari ke arah perbukitan untuk mencari perlindungan. Mereka membawa makanan seperti jagung dan ubi, sementara barang-barang lain tidak sempat diselamatkan. Di tempat aman, warga membuat pondok dari daun kelapa untuk bertahan hidup selama sekitar satu bulan. Mereka harus tinggal di sana karena rumah mereka rusak akibat dampak gempa.

Romanus, seorang warga lainnya, juga mengingat kejadian itu. Saat gempa terjadi, ia sedang berada di kebun. Tiba-tiba tanah bergetar, dan batu-batu dari perbukitan terguling ke daerah dataran rendah. Peristiwa ini menunjukkan betapa hebatnya kekuatan gempa yang melanda wilayah tersebut.

Gempa dan tsunami pada tahun 1992 menewaskan sekitar 2.000 orang warga Kabupaten Sikka. Pulau Babi, yang merupakan pusat gempa, sempat tenggelam dan dianggap hilang. Namun, kini pulau tersebut telah berubah menjadi Taman Wisata Alam Laut (TWAL) yang dikenal dengan nama Teluk Maumere. Perubahan ini menjadi simbol kebangkitan dan pengharapan bagi warga setempat.

Peristiwa alam ini juga meninggalkan bekas patahan pada dasar laut Pulau Babi. Patahan ini memiliki panjang sekitar 100 meter dan kedalaman antara 10-20 meter. Patahan ini menjadi episentrum saat tsunami melanda, menjadikannya sebagai bukti nyata dari kekuatan alam yang tak terduga.

Warga Pulau Babi yang selamat direlokasi ke pemukiman baru yang dibangun pemerintah di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura. Proses relokasi ini menjadi langkah penting dalam membangun kembali kehidupan warga yang terkena dampak gempa dan tsunami.





Meski waktu telah berlalu, ingatan akan peristiwa kelam ini tetap hidup dalam benak warga. Mereka terus belajar dari masa lalu, sembari berharap agar kejadian serupa tidak pernah terulang lagi. Dengan adanya Taman Wisata Alam Laut dan pembangunan infrastruktur yang lebih baik, masyarakat Kabupaten Sikka berusaha bangkit dan membangun masa depan yang lebih cerah.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan