Peristiwa Kericuhan di Kalibata, Jakarta Selatan
Pada malam hari Kamis (11/12/2025), kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, menjadi saksi atas peristiwa kericuhan yang menimpa sejumlah kendaraan dan tenda milik para pedagang. Peristiwa ini berawal dari aksi pengeroyokan terhadap dua orang penagih utang atau yang lebih dikenal dengan istilah mata elang (matel) di kawasan tersebut.
Berdasarkan pantauan, pada Jumat (12/12/2025) siang, sejumlah pedagang yang terdampak kericuhan mulai mengumpulkan sisa-sisa barang dagangannya. Mereka mencari barang-barang yang masih bisa diselamatkan setelah terbakar dalam kejadian tersebut.
Salah satu pedagang, Rustam (19 tahun), menceritakan bahwa kejadian bermula saat dua orang yang diduga matel dikeroyok oleh sejumlah warga di Jalan TMP Kalibata pada Kamis sore sekitar pukul 15.30 WIB. Ia melihat dua orang itu dikelilingi oleh banyak orang dan akhirnya dikeroyok. Menurut Rustam, kedua orang tersebut mengalami luka parah. Sementara itu, pelaku pengeroyokan langsung kabur dari lokasi kejadian.
Beberapa waktu kemudian, orang-orang yang diduga merupakan rekan dari dua orang yang dikeroyok datang kembali ke kawasan tersebut. Mereka menggunakan sepeda motor dan jumlahnya mencapai ratusan. Massa tersebut melakukan pembakaran terhadap tenda-tenda milik pedagang dan sejumlah kendaraan di lokasi tersebut.
Rustam menyebutkan bahwa tenda dan gerobak tempatnya bekerja juga ikut menjadi sasaran. Ia memilih menjauh dari lokasi untuk menyelamatkan diri. Ia mengatakan, suasana semakin memburuk seiring waktu, hingga akhirnya polisi tiba di lokasi kejadian.

PPSU membersihkan puing-puing sisa kebakaran kios pedagang pasca-kericuhan di kawasan Kalibata, Jakarta, Jumat (12/12/2025). Pasca kejadian tersebut, kondisi di lokasi berangsur kondusif. Setidaknya sembilan kios, enam kendaraan roda dua, dan satu kendaraan roda empat dibakar. Kericuhan ini dipicu oleh pengeroyokan terhadap penagih utang lapangan (debt collector) yang dipukuli orang tidak dikenal hingga tewas.
Dampak Kericuhan pada Pedagang Lain
Andi, salah satu pedagang lainnya, mengaku terdampak oleh kericuhan tersebut. Sejumlah barang dagangannya ikut terbakar, termasuk mesin chiller, mesin freezer, dan brankas. Ia memperkirakan kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan, ia sendiri terluka akibat kericuhan saat mencoba menyelamatkan diri ke Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Menurut Andi, awalnya massa ingin mencari pelaku pengeroyokan temannya. Namun karena tidak menemukan pelaku, mereka melampiaskan kemarahannya kepada para pedagang. Para pedagang tidak bisa melakukan apa-apa menghadapi ratusan massa yang datang. Akibatnya, mereka memilih untuk menyelamatkan diri.
Tanggapan dari Pedagang
Henny Maria, pedagang lainnya, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyampaikan bahwa para pedagang tidak terlibat dalam aksi pengeroyokan. Namun, massa yang melakukan kericuhan tetap tidak terima karena ada kawannya yang meninggal dunia. Ia menyebutkan bahwa seluruh tenda di sekitar lokasi terbakar, termasuk tendanya sendiri.
Ia menyesalkan tindakan massa yang sewenang-wenang. Meskipun para pedagang tidak memiliki hubungan dengan kasus tersebut, mereka justru menjadi korban dari kemarahan massa. Henny mengatakan bahwa hal ini menjadi bentuk ketidakadilan yang dialami para pedagang.
Kesimpulan
Peristiwa kericuhan di Kalibata, Jakarta Selatan, menjadi contoh bagaimana konflik antara pihak tertentu dapat berujung pada kerusakan yang merugikan banyak pihak. Para pedagang, yang tidak terlibat langsung dalam konflik, menjadi korban dari tindakan yang tidak proporsional. Dengan adanya intervensi dari aparat kepolisian, situasi akhirnya kembali stabil. Namun, dampak dari peristiwa ini akan terasa cukup lama bagi para pedagang yang terkena dampaknya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar