
Perjuangan Keluarga dalam Pencarian Korban Bencana
Di tengah kesedihan dan kehilangan, seorang perempuan muda bernama Fitriyawanti Silalahi (34) berada di lokasi bencana yang terjadi di Desa Bair, Dusun Satu, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah. Ia ditemukan sedang duduk di pondok kecil yang menjadi tempat pencarian mayat oleh petugas gabungan seperti polisi dan Timsar.
Fitri mengalami kehilangan kedua orang tuanya akibat bencana banjir dan longsor yang terjadi pada Selasa (25/12/2025). Dalam ceritanya, ia menyebutkan bahwa orang tuanya berhasil ditemukan dua hari lalu di lokasi pencarian korban hilang saat ini.
Kehilangan Orang Tua dalam Bencana
Fitri menceritakan bahwa orang tuanya kemungkinan sempat berpelukan sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu. Lokasi ditemukannya mayat sang ibu dengan ayahnya cukup dekat dan tidak berjauhan. "Aku sudah tiga hari ke atas ini. Hari kedua, orangtua kami ketemu. Memang hari itu, aku udah ada feeling orang tua bakal ketemu," ujarnya.
Selang 15 menit, mayat sang ibu dapat, jenazah sang ayah pun juga langsung ditemukan. "Waktu angkat mamak, keliatan ada kaki. Kita pikir itu bapak. Dan ternyata benar. Mungkin sebelumnya berpelukan karena goncangan segala macam jadi lepas. Mungkin badannya berdempet," katanya.
Fitri mengaku sangat sedih saat mendengar kabar tersebut. Ia berlari dari Gereja yang lokasi menuju area bencana cukup jauh dan harus melewati tanjakan. "Posisi aku belum sampai atas, karena jalankan nanjak. Tapi begitu dengar aku dipanggil dari bawah jadi aku lari ke sini. Karena mereka nanya, posisi baju mamak hari kejadian warna apa," jelasnya.
Proses Pencarian dan Kesulitan Medan
Meski telah ditemukan, Fitri hanya diberi waktu 15 menit untuk melihat sang ibu. Dengan posisi setengah badan diletakkan di kantong jenazah. "Hanya lihat sebentar sebagai tanda itu mamak kami. Habis itu kami gak bisa pegang lagi. Dan jenazah diturunkan ditempat pengungsian," jelasnya.
Sementara sang bapak, ia tak sempat untuk melihat posisi pertama kali ditemukan Tim Gabungan. "Kata orang itu, mereka sudah tutup pencarian di hari itu. Karna, posisi juga lagi hujan jadi saya boleh melihat bapak di lokasi posko," katanya.
Akhirnya ketika diposko bencana mereka pun melihat kedua orangtuanya. Lalu menguburkan di tempat kuburan keluarga. Namun, dikatakannya, Tim gabungan baru datang dua hari belakangan. Padahal bencana sudah hampir dua minggu terjadi tepat di hari Selasa (9/12/2025) besok.
Peran Alat Berat dalam Evakuasi
Sebelumnya, ia bersama warga Kampung Bair bergotong royong untuk menemukan jenazah-jenazah yang hilang tertimbun longsor. "Sudah seminggu suami, abang saya dan warga disini menyewa alat dari perusahaan swasta seperti arit, senso dan lain-lain sejak satu hari setelah kejadian. Tapi itulah tidak berhasil," katanya.
Kata Fitri, andai saja alat eskavator itu cepat datang ke desanya, mungkin semua korban telah ditemukan dan tidak sesusah sekarang. "Ini sudah hampir 14 hari baru dua hari lalu tiga korban ditemukan masih ada orang lagi yang belum ditemukan. Tiga orang itu mamak saya almarhum Normi Hutagalung (56) dan bapak Marningot Silalhi (57) tahun," jelasnya.
Keterlibatan Relawan dan Tim Medis
Berdasarkan laporan Tim Medis relawan dari Cakra Medika Jakarta, Abdul Latif mengatakan, kedua orang tua Fitri ditemukan dalam keadaan berpelukan. "Sudah tiga korban ditemukan. Dua diantaranya sepasang suami istri yang ditemukan dalam keadaan berpelukan," jelasnya.
Evakuasi 7 korban tertimpa longsor dan banjir dilakukan oleh tim gabungan. "Kami sudah berada di Desa Aloban Bair 13 hari. Namun kita baru dapat info 5 hari ke belakang. Ada korban bencana. Ini hari kelima kita lakukan pencarian," kata Abdul Latif saat ditemui Tribun Medan dilokasi bencana, Senin (8/12/2025).
Awalnya, kata Abdul, ada warga yang menyampaikan ke kami adanya warga yang tertimbun longsor, makanya pada Hari Sabtu, pihaknya lakukan evakuasi. "Jadi warga sini informasiin ke kami. Kami lalu sampaikan ke tim sar. Bisa dikatakan telat," jelasnya.
Tantangan dalam Pencarian Jasad Korban
Namun setelah mengetahui ada korban, ia bersam timnya melakukan pencarian. Dan pada hari ketiga pencarian, ditemukan 3 korban. "Total ada empat korban. Hari ini ada Anjing pelacak dari petugas gabungan. Kemarin ibaru tim kami. Kami mencari jasad korban berdasarkan informasi warga melihat terakhir saja," katanya.
Dijelaskannya, evakuasi korban ke bawah juga cukup sulit. Sebab medan terjal yang dilewati cukup sulit. "Karena situasi yang kita tempuh, titik ada dirumahnya ketika kejadian makaa setelah dilihat di asesment diselamatkan untuk diambil jasadnya," ucapnya.
Harapan untuk Bantuan Lebih Cepat
Memang, seharusnya butuh alat berat untuk pencarian jenazah tersebut. "Jalur susah untuk mengangkatnya ekstra luar basa kita kerahkan timsar dan relawan untuk ditandu," jelasnya.
Sementara itu, keluarga salah satu korban Fitri juga mengakui lambatnya alat berat yang masuk ke sini. "Andai saja alat berat bisa diturunkan, mungkin pencarian korban yang hilang masih bisa ditemukan."
Hal senada juga disampaikan Elisabeth, ia meminta untuk ekskavator diturunkan. Sebab sudah 13 hari tidak ditemukan. "Minta alat berat untuk mencari jasad ayah dan abang kami," jelasnya.
Ketersediaan Alat Berat di Lokasi Bencana
Saat Pantauan Tribun Medan, sepanjang perjalanan menemui Desa Bair Kecamatan Tapian Nauli belum ada ditemukan sejumlah ekskavator. Namun saat sudah perjalan pulang alat berat dari Pemkab Tapteng sudah mulai berdatangan.
Saat dikonfirmasi, Humas Pemkab Tapteng Sonny mengatakan, sudah ada alat berat yang diturunkan. Sonny juga menjelaskan sudah mengetahui keadaan bencana di Desa Bair tersebut. "Sudah hanya alat berat sangat terbatas dan kemarin itu rapat di kota Sibolga kadis PU ada tambahan alat berat pastinya kita dengar kronologis besok ya," jelasnya singkat saat dikonfirmasi Tribun Medan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar