
Kisah Pilu Pasangan Pengantin Baru yang Tewas dalam Bencana Longsor di Sibolga
Dian Saputra Simajuntak, warga Jalan Murai, Kelurahan Aek Manis, Sibolga Selatan masih merasa duka. Akibat bencana longsor dan banjir pada akhir Oktober 2025, Dian harus kehilangan lima anggota keluarganya. Dua di antara lima keluarganya yang meninggal adalah pasangan suami istri yang baru dua hari menikah.
Diceritakannya, dua hari sebelum kejadian, ia bersama keluarganya baru mengadakan pesta pernikahan kakaknya dan abang iparnya di kediaman sang orang tua (Gang Murai). "Kami pestakan kakak kami Hari Minggu. Jadi sebagian sudah datang di Hari Sabtu sampai hari Selasa (25/11/2025) lalu," jelasnya saat ditemui Rabu (10/12/2025).
Pada saat kejadian, seluruh keluarga sedang berada di rumah semua. Hanya sang adik yang paling kecil sedang berada di luar. "Kami di sini mulai dari hari Sabtu. Karena kakak saya mau pesta. Jadi hari Selasa kami masih di sini. Ternyata dua hari mereka menikah ajal menjemput mereka," ucapnya sambil menahan tangis.
Disinggung apa yang paling diingat olehnya tentang kakak dan abang iparnya, Dian hanya menarik nafas cukup berat dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Gak terucap dengan kata-kata lagi," ucapnya.
Trauma yang Menghiasi Keluarga
Dikatakannya, untuk sepasang pasutri tersebut baru didapatkan jasadnya setelah 2 hari 1 malam pencarian. "Posisi mereka berada di dalam kamar. Cuman sedih lah. Kalau ingat itu jujur kami masih bukan trauma lagi di atasnya trauma sudah," katanya.
Kini kelima korban sudah dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum Sibolga. Ditemui pada Rabu (10/12/2025), Dian bersama dua adiknya serta bapaknya mulai mendatangi area longsor untuk mencari barang-barang yang masih bisa digunakan. "Kami cari barang. Tadi dapat dompet bapak, celana dan baju untuk kami gunakan," jelasnya.
Sementara itu tampak alat berat yang berada di lokasi bencana longsor dan banjir di Jalan Murai, Kelurahan Aek Manis, Sibolga Selatan mulai memperbaiki jalan. Hal itu dilakukan karena telah selesainya pencarian 43 korban yang meninggal akibat bencana longsor dan banjir pada Selasa (25/12/2025). Sebagian warga juga mulai mencari-cari baju atau benda di area rumahnya yang terkena banjir dan longsor.
Pasar Mulai Beraktivitas Namun Harga Masih Mahal
Setelah bencana banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, warga mulai menghadapi berbagai kesulitan untuk keberlangsungan hidupnya. Mulai dari permasalahan krisis air bersih, ekonomi, gas, listrik di sejumlah kecamatan yang masih mati, hingga harga bahan sembako dan pokok.
Pantauan Tribun Medan, di Kota Pandan dan Sibolga, pasar-pasar tradisional sudah mulai aktif berjualan. Seperti di Pasar Kalangan Pandan yang terletak di Jalan Lintas Padangsidimpuan-Sibolga. Seluruh pemilik kios di pasar ini, sudah mulai menjajakan jualannya. Hanya beberapa kios yang masih belum buka.
Namun anehnya, pasar kalangan ini bisa dibilang cukup sepi pembeli. Padahal, sebelum bencana pasar Kalangan ini selalu ramai diserbu khususnya warga Kecamatan Pandan, dan Tukka. Hal itu dikarenakan lokasi pasar ini dekat dengan dua kecamatan tersebut.
Selain itu, semua yang dijajakan oleh pedagang tidak seperti biasanya. Hari ini tidak ada yang menjual ikan laut atau ikan sungai hanya ada yang menjual ikan teri dan asin. Tidak ada yang jual daging sapi. Padahal, pasar Kalangan ini bisa dikatakan pasar tradisional yang cukup lengkap.
Perubahan Harga dan Ketersediaan Bahan Pokok
Menurut Idar, saat ini kondisi listrik di Tapteng Pasca bencana belum 100 persen hidup secara merata. Masih banyak kecamatan yang terdampak listriknya belum hidup hingga saat ini. Untuk itu, kata Idar mereka memilih membeli cabai giling. Sebab, jika listrik mati, mereka tetap bisa masak sambal tanpa blender.
"Pasca banjir ini harga sembako memang masih naik. Tapi enggak drastis kayak hari pertama bencana terjadi. Dan saat ini banyak warga yang membeli bumbu giling. Karena listrik masih mati hidup," katanya saat ditemui Tribun Medan di kios jualannya, Rabu (10/11/2025).
Dikatakannya, langka dan naiknya harga bawang merah disebabkan akses jalan Tarutung-Sibolga yang masih terputus. Dan Faktor cuaca. Sementara untuk harga cabai, saat ini masih tinggi. Tetapi tidak seperti beberapa waktu lalu pasca bencana yang sempat harganya sampai Rp 300 ribu per kg.
Itu tiga hari pasca bencana harga cabai hampir Rp 300 ribu. Meningkat tiga kali lipat. Tapi hari ke empat pasca bencana itu harganya turun drastis Rp 180 ribu. Kemudian hari ke lima turun lagi Rp 100 ribu. Dan saat ini menjadi Rp 65 ribu. Ini masih tinggi tapi tidak naik drastis," ucapnya.
Diterangkannya juga, sementara untuk tomat harga tetap stabil. Tetapi untuk bawang putih itu naik Rp 10 ribu yang tadinya Rp 30 ribu jadi Rp 40 ribu. "Namun yang paling langka saat ini adalah sayur. Biasanya kita ambil sayur dari Kecamatan Lopian dan Tukka. Tapi lihatlah hancur semua lahannya. Makanya kita sekarang ambil sayur di Sorkam, itupun yang ada cuman sayur singkong dan sayur kangkung harganya Rp 5.000 satu ikat biasanya Rp 2.000 per ikat," jelasnya.
Untuk itu, pasca bencana ini, diakuinya jualannya tetap jalan seperti biasanya dan tetap ada keuntungan. Namun diakuinya warga membeli dalam jumlah sedikit. "Tetap nya untung dan tidak rugi. Tapi itulah lebih banyak orang beli bumbu giling. Bahan makanan lainnya mereka beli dalam jumlah yang lebih sedikit," jelasnya.
Hal senada juga disampaikan pedagang daging ayam. Menurutnya tidak ada kelangkaan daging ayam. Hanya saja memang harga lebih naik namun tidak signifikan. "Harga ayam Rp 40 ribu. Naik. Biasanya Rp 30-35 Ribu. Pembeli ramai tapi mereka beli sedikit-sedikit enggak beli kek biasanya 1 Kg," jelas penjual ayam.
Sementara itu, seorang warga Pandan Rauda Hutagalung mengatakan, ia tak bisa membeli dalam ukuran banyak, karena suaminya belum bisa bekerja seperti biasanya. "Kami beli secukupnya saja. Karena harus pandai ngatur keuangan. Suami lagi gak nelayan ke laut. Karena ombak masih tinggi. Sementara saya gak bisa jualan di kantin karena anak sekolah masih libur. Jadi yang penting sekarang, kami sehat rumah sudah bisa ditempati. Tinggal memikirkan ekonomi lah ini," ucapnya singkat.
Sementara itu, Bupati Masinton mengatakan akan melakukan sidak ke sejumlah pasar pasca bencana banjir dan longsor. Hal itu dilakukan agar harga bahan sembako, makanan yang dijual warga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. "Kami akan mulai tinjau pasar-pasar. Agar harga bahan pokok dan makanan stabil. Kami juga mengusahakan percepatan perbaikan infrastruktur jalan agar bahan-bahan sembako bisa masuk dengan cepat ke Tapteng," ucapnya pada saat diwawancarai Tribun Medan di Gor Pandan beberapa waktu lalu.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar