
Kasus Pembunuhan Ibu Kandung oleh Siswi SD di Medan
Video terakhir yang diunggah Faizah Soraya menampilkan momen keharmonisan yang hangat bersama putrinya. Namun, kemesraan tersebut justru berubah menjadi tragedi yang mengoyak hati semua pihak.
SAS, seorang siswi kelas 6 SD, diduga menjadi pelaku tunggal yang tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri, Faizah Soraya. Peristiwa mengerikan ini diperkirakan terjadi pada Rabu, 10 Desember 2025, di kediaman mereka yang berlokasi di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatra Utara.
Bocah perempuan bertubuh relatif tinggi ini disinyalir menggunakan pisau sebagai alat untuk melakukan pembunuhan. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya beberapa luka tusukan di sekujur tubuh Faizah. Tak lama setelah insiden itu, terduga pelaku, SAS, segera diamankan oleh pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan intensif.
"Pelaku sudah dibawa ke Polrestabes Medan, hingga kini masih proses pendalaman dan pemeriksaan dengan pendampingan," terang Kasatreskrim Polrestabes Medan, AKBP Bayu Putro Wijayanto.
Postingan Terakhir yang Menyayat Hati
Viralnya kasus pembunuhan ibu kandung oleh siswi SD di Medan ini membuat postingan terakhir korban di media sosial langsung menjadi buruan netizen. Akun TikTok Faizah Soraya kini dibanjiri komentar. Menariknya, akun TikTok korban ternyata hanya memuat tiga konten video. Video yang kini menjadi sorotan adalah unggahan terakhir Faizah lima tahun silam, tepatnya pada tahun 2020.
Di sana, Faizah menampilkan keakraban dengan putri bungsunya, SAS, saat mereka mengikuti tren make up bersama. Konten lain menunjukkan potret utuh keharmonisan keluarga kecilnya, bersama suami dan kedua putrinya yang tampak cantik. Faizah terlihat berdiri tepat di belakang SAS.
Kehangatan yang terpancar dari konten tersebut kini berubah menjadi kenangan pahit, mengingat kehancuran terjadi pada tahun 2025 di mana SAS tega menghilangkan nyawa ibunya sendiri.
Sosok Pelaku di Mata Tetangga: Si Baik yang Berprestasi
Keputusan SAS untuk tega menghabisi nyawa sang ibu kandung memicu kejutan besar, terutama dari para tetangga sekitar. Warga sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP) mengenal SAS sebagai pribadi yang baik dan pendiam, namun selalu ramah saat berinteraksi dengan orang lain. Bahkan, ia juga dikenal kerap menorehkan prestasi dalam berbagai lomba di sekolahnya.
"Ia (SAS) adalah anak yang paling ramah, baik saat bertemu dengan orang. Tak hanya itu, ia juga berprestasi dalam mengikuti lomba di sekolahnya," tutur seorang warga yang memilih untuk tidak disebutkan namanya.
Kebaikan SAS inilah yang membuat warga setempat sama sekali tidak menyangka bahwa siswi kelas 6 SD tersebut bisa menjadi pelaku pembunuhan keji terhadap ibunya.
Keluarga yang Tertutup dan Dugaan Motif
Sementara itu, keluarga korban termasuk terduga pelaku digambarkan oleh tetangga sebagai sosok yang terdiam dan tertutup. Mereka jarang keluar rumah untuk berinteraksi atau bergaul dengan warga sekitar. "Ketika berpapasan barulah mereka menegur kami. Korban memang tidak pernah bergaul dengan tetangga dan tidak pernah keluar," kata salah satu tetangga.
Keterbatasan interaksi ini menyebabkan warga tidak mengetahui polemik atau masalah internal yang mungkin terjadi di dalam rumah tangga mewah di Jalan Dwikora tersebut. Warga pun mengaku terkejut ketika mendengar kabar terjadinya kasus pembunuhan.
Mengenai dugaan motif yang melatarbelakangi tragedi ini, tetangga mengurai kesaksian yang mengejutkan. Diduga kuat, pelaku nekat membunuh ibu kandungnya karena sakit hati. "Mungkin karena emaknya itu cerewet jadi mungkin sakit hati. Padahal sudah mau tamat sekolah pelaku ini," ungkap tetangga tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar