Kisah Nila Berjalan Kaki Melewati Banjir Menuju Ibu Kota, Terobos Hutan: 4 Hari Terisolasi

Pengalaman Nila Siddiq yang Terisolasi Akibat Banjari

Setelah empat hari terisolasi di rumahnya, Nila Siddiq (40), akhirnya bisa menerobos banjir. Warga Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, tersebut akhirnya memberanikan diri menerabas banjir berjalan kaki.

Dia memulai perjalanan menyusuri lintas nasional Aceh Tamiang ke Medan, Sumatera Utara, bersama keluarganya dengan berjalan kaki. "Kami ke arah Bukit Rata dan Kebun Tengah," kata Nila, per telepon, Senin (1/12/2025). "Di sana, ketinggian air tinggi sekali. Kami tak bisa lewat lintas nasional, terpaksa menyusuri hutan dan kebun sawit," imbuhnya.

Area hutan dan kebun sawit diterabas. Baginya, terpenting bisa keluar segera dari Aceh Tamiang menuju Medan, Sumatera Utara. "Empat hari kami terisolasi. Tak ada bantuan sama sekali, banjir kali ini luar biasa," katanya.

Dari Kebun Tengah, dia menuju Salahaji, Kecamatan Pematang Jaya, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Selama delapan jam berjalan kaki, barulah ia tiba di Dermaga Salahaji. Dari Salahaji, dia naik boat nelayan menuju Dermaga Pangkalan Susu, Sumatera Utara, selama dua jam. "Sampai Pangkalan Susu malam hari sekitar pukul 20.00 WIB," terang Nila.

Di situ, ia bertemu warga yang memberikannya tempat beristirahat dan baju bersih. "Ada warga di Pangkalan Susu yang menerima kami menginap secara gratis," lanjutnya. "Di situlah kami menginap seluruhnya, bahkan diberi pinjam baju ganti oleh warga di sana," imbuhnya.

Hari ini, dia meneruskan perjalanan ke Sumatera Utara ke rumah saudaranya. Baginya, sementara waktu lebih baik meninggalkan Kabupaten Aceh Tamiang. "Karena di sana makanan pun tidak ada. Stok di rumah sudah habis semua," tuturnya.

Dia menyarankan, jika warga dan relawan ingin menuju Aceh Tamiang lewat jalur Sumatera Utara, bisa menggunakan jalur laut dari Dermaga Salahaji menuju Dermaga Paya Bedi, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang. Lalu dari Paya Bedi menuju Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang.

Saat ini, Aceh Tamiang lumpuh total. Tidak ada sinyal, listrik, telekomunikasi, dan internet. Belum diketahui korban jiwa dan kerusakan lainnya.

Sebelumnya diberitakan, saat ini banjir juga merendam Kabupaten Aceh Timur, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Bireuen, Kota Langsa, Pidie, Pidie Jaya, dan Kabupaten Aceh Utara.

Kisah Rahmat yang Berjuang Menerabas Banjir dan Longsor

Warga lainnya, Rahmat (45), juga berjuang menerabas banjir dan longsor di Aceh selama tujuh jam. Warga Desa Sejudo dan Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Utara, ini menuju ibu kota kabupaten demi sekarung beras.

Pada Minggu (30/11/2025), ia akhirnya tiba di pendopo Bupati Aceh Timur di Idi, Aceh Timur. Agar bisa mengakses bahan makanan, Rahmat berjalan kaki, naik sepeda motor, dan menumpang mobil perusahaan di pedalaman kabupaten tersebut. Dia menyebutkan bahwa selama dua jam, dia harus berjalan kaki. Pasalnya, kondisi wilayah longsor dan tidak bisa dilewati kendaraan.

"Kalau tidak turun, kami kelaparan," ucapnya. Dia pun membawa satu karung beras berisi 50 kilogram dan bahan makanan lainnya yang bisa dibawa dengan sepeda motor. Dia menceritakan bahwa selama enam hari, mereka bertahan di area pegunungan.

Saat hendak turun, jalanan tertimbun longsor sehingga tidak bisa dilalui. "Kami kekurangan air minum, beras, bahan pangan lain, dan pakaian," katanya.

Sementara itu, Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menyebutkan bahwa kawasan tersebut belum bisa diakses. Namun, dirinya sedang mencari cara agar mendistribusikan bahan makanan lewat helikopter. "Kami turunkan saja bahan makanannya, daripada kelaparan," kata Iskandar. "Kami turunkan minimal roti dan lain sebagainya agar jangan kelaparan," tambahnya.

Malam itu juga, Rahmat pulang ke kampung halamannya. Tim gabungan mengantar Rahmat hingga batas yang bisa dilewati kendaraan. Seterusnya, Rahmat akan berjalan kaki selama dua jam dan mengendarai motornya yang disimpan di kawasan hutan.

Diberitakan, banjir dan longsor besar melanda Aceh dan menyebabkan kerusakan parah. Karena skala bencana yang sangat besar, tiga Bupati di Aceh menyatakan tidak mampu menangani bencana tersebut secara mandiri. Tiga bupati di Aceh yakni Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, Bupati Aceh Selatan Mirwan MS, dan Bupati Aceh Tengah Haili Yoga mengirimkan Surat Pernyataan Ketidaksanggupan kepada Pemerintah Provinsi Aceh.

Surat ini dikeluarkan karena akses transportasi terputus, banyak jembatan dan jalan rusak, aktivitas ekonomi lumpuh, pelayanan publik terganggu, kerusakan jaringan listrik dan komunikasi, dan sebagainya. Banjir melanda sejumlah Kabupaten di Aceh pada akhir November 2025. Ini merupakan salah satu bencana terbesar di provinsi tersebut, menelan lebih dari 100 korban jiwa dan berdampak pada ratusan ribu warga.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan