
Perubahan Pola Belanja Masyarakat Berdampak pada Penjualan Jagung
Di tengah hujan yang terus mengguyur, Rohmat dan istrinya duduk di jongkonya sambil menunggu pembeli. Tumpukan jagung yang tersusun rapi berdampingan dengan buah-buahan seperti jeruk dan jambu. Namun, suasana yang biasanya ramai di tahun baru kini terasa berbeda.
Tidak Lagi Ramai Seperti Dulu
Rohmat mengungkapkan bahwa penjualan jagung di penghujung tahun tidak lagi seheboh tahun-tahun sebelumnya. Ia mengingat masa lalu ketika penjualan mencapai tiga kuintal per hari. Tahun kemarin, jumlahnya hanya satu kuintal, dan tahun ini rencananya dua kuintal, namun jagung belum juga datang.
“Dulu-dulu mah sampai habis tiga kuintal. Tahun kemarin cuma satu kuintal. Tahun sekarang rencananya dua kuintal, tapi jagungnya belum datang juga,” ujarnya saat ditemui di jongkonya di Cimaung, Banjaran.
Ia menyebut perubahan pola belanja masyarakat sebagai salah satu faktor utama. Layanan belanja daring yang menawarkan antar langsung ke rumah membuat banyak orang enggan berhenti di lapak pinggir jalan, apalagi saat hujan turun.
“Sekarang mah banyak yang jualan online, diantar ke rumah-rumah. Kalau hujan gini, orang malas beli di sini,” tuturnya.
Harga Jagung Turun
Harga jagung pun ikut menyesuaikan kondisi pasar. Jika dulu jagung bisa dijual hingga Rp10 ribu per kilogram, kini harganya menurun seiring berkurangnya pembeli.
“Sekarang mah sekitar Rp25 ribu dapat tiga kilo, pembelinya juga sudah berkurang,” kata Rohmat.
Ia mengingat tahun-tahun baru sebelumnya yang cenderung cerah, sehingga orang-orang lebih leluasa bepergian. Kini, hujan yang datang hampir setiap hari membuat aktivitas jual beli ikut tersendat, meski pasokan jagung sendiri terbilang lancar.
“Pasokan mah lancar, cuma penjualannya aja yang agak sulit. Sama semua juga, tiap-tiap jongko juga begitu,” ucapnya.
Pengalaman Lebih dari 30 Tahun
Lebih dari 30 tahun Rohmat mengais rezeki di lokasi ini. Sejak dulu, ia menjual jagung dan berbagai buah-buahan. Ia juga menyaksikan perubahan wajah pariwisata di sekitarnya. Jika dulu wisatawan ramai berhenti dan membeli di lapaknya, kini banyak yang memilih membeli langsung di area wisata.
“Sekarang pengunjung mah ada aja, cuma di tempat wisata juga banyak yang jualan. Jadi belinya di sana aja. Paling yang beli di sini itu langganan-langganan,” katanya.
Meski tantangan semakin besar, Rohmat tetap bertahan dan konsisten berjualan mengandalkan para langganannya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar