Kisah Saleha, Ibu Petani yang Berjuang Jual Sawah untuk Anak Jadi TNI


SUMBAWA, aiotrade
Saleha (60), seorang perempuan paruh baya yang tinggal di Dusun Lekong Atas, Desa Lekong, Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menjadi sosok yang menginspirasi. Perjuangannya dalam membesarkan anak-anaknya dan membantu salah satu dari mereka meraih mimpi menjadi anggota TNI AD menunjukkan kekuatan hati seorang ibu.

Perjuangan Seorang Ibu

Usia Saleha memang tidak lagi muda, tetapi semangatnya untuk bertani dan memperjuangkan masa depan anak-anaknya tetap menyala. “Bagi saya, sawah bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga harapan,” ujarnya dengan mata bersinar. Setiap musim tanam, ia bergelut dengan tanah, menanam padi, jagung, dan tanaman lainnya. Itu adalah bentuk doa dan usaha agar anak-anak bisa merasakan kehidupan yang lebih baik.

Setelah kehilangan suami pertama, Saleha harus menjadi tulang punggung keluarga. Ia berjuang keras membesarkan dua anak seorang diri. Selang beberapa tahun, ia pindah dari kampung suaminya di Dusun Sejari, Desa Plampang, Kecamatan Plampang ke Desa Lekong Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa. Kemudian, ia menikah lagi dengan pria yang kini jadi suami kedua. Ia memiliki dua anak dari suami kedua, tetapi satu anak meninggal dunia saat usia satu tahun. Hingga kini, ia memiliki 3 anak, yaitu dua dari almarhum suami pertama dan satu anak dari suami kedua.

Prioritas Pendidikan

Di tengah kesibukannya bertani, Saleha tetap memprioritaskan pendidikan anak-anaknya. Ia menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk membuka pintu masa depan yang lebih cerah. “Saya selalu memotivasi mereka untuk belajar dengan giat. Karena saya yakin, dengan ilmu, mereka bisa meraih cita-cita setinggi langit,” ujarnya penuh semangat.

Salah satu anaknya dari pernikahan dengan suami pertama, Saparudin, memiliki mimpi besar untuk menjadi anggota TNI AD. “Anak saya Saparudin sekolah di Sumbawa, karena dia punya kemampuan bela diri dan prestasi di bidang olahraga,” ujarnya. Saleha mendukung penuh cita-cita tersebut. Ia bahkan rela menjual sawah demi mewujudkan cita-cita anaknya.

“Saya jual sawah yang menjadi peninggalan warisan keluarga almarhum ayah Saparudin di Desa Plampang agar jadi biaya untuk anak ikuti seleksi jadi TNI AD,” ceritanya. Saleha selalu memberi semangat dan doa agar anak-anak bisa meraih apa yang diimpikannya.

Mimpi Terwujud

Perjuangan Saparudin tidak sia-sia. Berkat kerja keras, doa, dan dukungan ibunya, dia berhasil lolos seleksi dan diterima menjadi anggota TNI AD pada tahun 2004. “Saya sangat bangga dan terharu, tidak menyangka anak saya bisa meraih cita-cita sebesar ini,” kata Saleha sambil tersenyum haru. “Ini bukti bahwa doa dan usaha seorang ibu tidak pernah sia-sia,” tambahnya dengan penuh kebanggaan.

Kini, Saparudin telah menjadi prajurit TNI AD di Markas Rindam IX Udayana Denpasar. Ia bertugas menjaga keamanan dan kedaulatan negara. Meski jauh dari kampung halaman, ia tak pernah melupakan ibunya. “Setiap kali ada kesempatan, dia selalu menghubungi saya dan menanyakan kabar,” cerita Saleha dengan mata berkaca-kaca. “Itu adalah kekuatan saya, melihat anak saya sukses dan bahagia.”

Inspirasi Nyata

Kisah Saleha adalah inspirasi nyata bahwa ketangguhan seorang ibu, dedikasi seorang petani, dan doa yang tulus mampu mengubah nasib. “Saya hanya ingin anak-anak saya bahagia dan bisa meraih cita-cita mereka,” ujarnya lembut. Di Dusun Lekong Atas, Saleha tetap menjadi sosok yang sederhana dan bersahaja, terus bertani dan memberikan inspirasi bagi masyarakat sekitar.

“Cinta seorang ibu tak pernah padam. Itulah kekuatan yang membuat kita terus maju,” katanya. Saleha menjadi cerminan ketangguhan seorang ibu, dedikasi seorang petani, dan bukti bahwa mimpi bisa diraih meski di tengah keterbatasan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan