Kisah Siswa SRMA 9: Dari Kesulitan Membaca ke Impian Kuliah

Sekolah Rakyat Menengah Atas 9: Tempat Perubahan dan Harapan


Di sudut Jakarta Timur, berdiri Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 9, sebuah sekolah berasrama yang menjadi rumah bagi puluhan remaja dari keluarga pra-sejahtera. Bagi banyak dari mereka, ini adalah pertama kalinya menjalani kehidupan dengan rutinitas teratur, kedisiplinan ketat, serta dukungan penuh dari guru, wali asrama, dan pekerja sosial. Enam bulan berlalu, perubahan besar mulai terlihat.

Dari pagi hari yang dimulai sebelum azan hingga malam yang berakhir pukul sembilan, siswa belajar bahwa masa depan adalah soal usaha, bukan hanya keberuntungan. Di sekolah kecil berasrama ini, disiplin bukanlah hukuman, melainkan pintu menuju kehidupan yang mungkin tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Guru Bimbingan Konseling di SRMA 9, Ika Indah Ngawarni, masih mengingat bagaimana gambaran anak-anak saat pertama kali masuk. Sebagian besar belum mampu memahami bacaan sederhana. Ia menyebut proses ini sebagai pembangunan fondasi logika berpikir. "Empat bulan pertama penuh latihan," cerita Ika. Selama dua kali seminggu, anak-anak mengikuti kegiatan literasi, membaca buku, belajar menganalisis isi, hingga menulis ulasan. "Sekarang tinggal 2030 persen yang masih kesulitan," ujar Ika.

Bakat mereka pun mulai muncul. Setelah melalui tes DNA pemetaan minat-bakat, anak-anak menemukan potensi diri. Ada yang menonjol di desain grafis, ada yang kuat di bahasa, dan ada pula yang berbakat kinestetik.

Membentuk Disiplin Remaja di Tengah Aturan Ketat

Di asrama, ruang gerak anak-anak dibatasi bukan untuk mengekang, melainkan membentuk karakter. Gawai hanya boleh digunakan pukul 16.3020.00 dan selalu diawasi wali asuh. Tidak ada TV, tidak ada laptop di kamar, dan tidak ada izin keluar asrama di akhir pekan.

Amelia Rizki (16), siswi yang akrab disapa Ameng, mengatakan minggu-minggu pertama terasa berat. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa aturan yang ada selama ini bukan membatasi, tapi lebih kepada membentuk karakter kuat dalam dirinya. "Awalnya bosen banget, enggak ada ponsel. Tapi, jadi punya waktu untuk ngobrol, dekat dengan teman sekamar, atau sekadar bercerita mengenai lelah jam belajar."

Hidup bersama sepuluh orang dalam satu kamar membuat Ameng dan teman-temannya belajar berempati, berbagi, saling memahami, dan mengelola konflik kecil khas remaja. "Awalnya geng-gengan, tapi makin lama makin baur," ungkap Ameng.

Kedisiplinan Kian Membuahkan Hasil

Nessa, guru Informatika sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, melihat perubahan besar dalam hal kemandirian. "Ada yang dulu bahkan belum bisa mencuci baju sendiri," ujar dia. Kini mereka terbiasa bangun sebelum azan subuh, menjaga kebersihan kamar, dan menjalani jadwal padat hingga sore.

Dari sisi akademis, juga ada banyak tantangan. Ada siswa yang belum lancar membaca, ada yang tak mengenal fitur dasar komputer. Dalam mata pelajaran informatika, Nessa memulai dari nol, bagaimana cara mengetik, menyimpan dokumen, hingga membuat presentasi di Canva. Anak-anak kini mulai terbiasa memegang laptop, tentu hanya di kelas, dengan pengawasan ketat.

Untuk mencegah bullying atau konflik sosial, setiap wali kelas, wali asrama, serta guru BK bekerja bersama. Jika ada perselisihan kecil, anak segera dibina dan diajak berdiskusi. "Bagi anak yang kesulitan beradaptasi, terutama di minggu pertama, pekerja sosial turun tangan. Dulu ada yang tantrum, tapi sekarang sudah sangat baik," kata Ika.

Mengisi Hari dengan Kegiatan dan Harapan

Setiap Sabtu, asrama dipenuhi suara riuh. Kerja bakti, ekskul bulu tangkis, latihan marching band, atau paduan suara. Di sela-selanya, mereka menyelesaikan tumpukan tugas, karena di SRMA, kurikulum SMA reguler tetap berjalan dengan penyesuaian.

Perubahan fisik anak-anak pun makin nyata. "Banyak yang sekarang badannya berisi. Orangtua melihat perubahan itu dan bersyukur," kata Nessa. Di balik segala keterbatasan, anak-anak SRMA menyimpan mimpi besar.

Ameng, misalnya, yang bercita-cita menjadi pengusaha kuliner. "Pengin punya banyak usaha kuliner, saya selama ini suka sekali memasak," ujar Ameng, polos. Ia ingin kuliah, meski dulu sempat berpikir harus masuk SMK dan langsung bekerja. Kini, dengan dukungan sekolah, ia percaya bahwa cita-cita tak harus terhenti karena biaya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan