
Mahasiswa Unesa Terima Beasiswa Penuh Karena Dampak Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera
Unaysah Azkia Madania, seorang mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menjadi salah satu dari 63 mahasiswa yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh dari kampus. Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa yang orangtuanya terdampak bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatera.
Dari total 458 mahasiswa yang berasal dari daerah terdampak, hanya 63 yang benar-benar mengalami dampak langsung dari bencana tersebut. Wakil Rektor IV Unesa, Dwi Cahyo Kartiko, menyampaikan bahwa Unesa melalui Cak Hasan berkomitmen memberikan beasiswa penuh hingga mahasiswa lulus, termasuk sampai semester ke-8.
Selain beasiswa pendidikan, mahasiswa yang rumahnya rusak atau kehilangan orang tua juga akan menerima tambahan bantuan living cost. Bahkan, seorang dosen yang turut kehilangan rumah di Tapanuli juga mendapat perhatian khusus.
Lega dan Terharu
Unaysah Azkia Madania mengaku terharu dan lega setelah mendapatkan beasiswa. Ia sempat khawatir tentang biaya kuliah sebesar Rp 3,2 juta per semester di tengah musibah yang menimpa keluarganya di Pidie Jaya, Aceh.
“Saya merasa senang karena khawatir bagaimana nanti membayar UKT,” katanya. Ia bahkan sempat berpikir untuk mencari pekerjaan jika keluarganya tidak mampu membayar kuliahnya. Namun, ia akhirnya mendapatkan bantuan yang sangat membantu.
Momen Menakutkan Saat Banjir Menghancurkan Keluarga
Unaysah adalah anak pertama dari empat bersaudara. Adik bungsunya masih berusia 12 tahun, sementara dua adik lainnya tinggal di pondok pesantren di Madura. Saat bencana banjir terjadi, mereka tidak bisa dihubungi karena tidak memiliki akses ponsel.
Keluarga Unaysah mendapatkan kabar saat tengah malam, dan awalnya ia mengira itu hanya banjir biasa. Namun, keesokan harinya, ia mendengar kabar mengenai bencana yang cukup parah di Sumatera. Usaha untuk menghubungi keluarganya gagal, membuatnya panik dan cemas.
Pada Rabu pagi, ia akhirnya menerima telepon dari ibunya. Suara panik di ujung telepon membuat tubuhnya gemetar. Air sudah mencapai sebahu orang dewasa, dan ayah serta ibunya hanya bisa naik ke atas meja agar tidak tenggelam.
Kesulitan Bertahan Hidup Di Tengah Banjir
Unaysah mengisahkan kesulitan kedua orangtuanya bertahan hidup di tengah kepungan banjir. Mereka hanya bisa minum dua gelas air mineral kecil sehari, sedangkan makanan hanya Indomie yang diremukkan tanpa dimasak.
Setelah air surut, bantuan makanan mulai masuk, meski tidak banyak. Semua barang di rumahnya rusak karena terendam banjir selama beberapa hari.
Perasaan Takut dan Harapan
Unaysah tidak ingin bertemu orangtuanya di Pidie Jaya. Ia berharap ayah dan ibunya datang ke Surabaya untuk mengungsi. “Lebih baik mereka ke sini saja,” ujarnya.
Di akhir percakapan, Unaysah menyampaikan pesan untuk orangtuanya. “Alhamdulillah selamat. Enggak apa-apa. Kalau barang masih bisa kita cari, setidaknya kita menyelamatkan diri saja dulu.”
Pendampingan Kampus
Selain beasiswa, Unesa juga menyediakan trauma healing kelompok bagi mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana banjir. Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis Unesa, Mutimmatul Faidah, menjelaskan bahwa trauma akibat kehilangan kabar keluarga membuat banyak mahasiswa rapuh secara mental.
Oleh karena itu, Unesa mengadakan trauma healing kelompok, penguatan psikologi, sosial, hingga spiritual. Hal ini dilakukan untuk membantu mahasiswa menghadapi situasi sulit pasca bencana.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar