
Kehidupan Azizah, Wanita yang Mengabdikan Diri sebagai Jasa Fardu Kifayah
Azizah (60), seorang wanita asal Kota Singkawang, telah mengabdikan dirinya selama tujuh tahun sebagai jasa fardu kifayah. Tugasnya mencakup memandikan hingga mengkafani jenazah. Ia menceritakan awal mula pilihannya untuk menjadi jasa fardu kifayah berasal dari ketulusan hati dan rasa sosial yang tinggi.
Awal Mula Keberanian Azizah
Azizah mengatakan bahwa keputusannya ini berawal dari keinginan untuk membantu sesama. Ia menjelaskan bahwa saat ada tetangga yang membutuhkan bantuan dalam mengurusi jenazah, ia dengan siap mengulurkan tangan. Bahkan, ketika ada orang tua yang tidak lagi mampu melakukan tugas tersebut, Azizah secara sukarela mengambil alih.
"Jadi kalau ada tetangga yang meninggal saya pergi ke rumah duka, lalu bantu-bantu. Lalu disaat ada yang tua dan tidak bisa lagi, saya kena ajak untuk mengantikkannya, hingga sampai sekarang inilah," ujarnya.
Pengalaman dalam Proses Fardu Kifayah
Azizah juga menyebutkan bahwa ia tergabung dalam pengurusan khusus di Kelurahan Melayu, Singkawang Barat. Selama proses fardu kifayah, ia tidak pernah merasa takut atau geli meskipun ada jenazah yang dalam kondisi tidak baik, seperti tubuh yang dipenuhi koreng, luka, atau mengeluarkan kotoran. Hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk tetap menjalankan tugasnya.
"Alhamdulillah, tidak ada rasa takut ataupun geli setelah mandikan jenazah," katanya.
Proses Pemakaman yang Dilakukan Azizah
Azizah menjelaskan bahwa proses fardu kifayah dimulai dari mengukur pakaian dan memotong kain kafan sesuai ukuran jenazah. Untuk jenazah perempuan, biasanya ia membuat baju, kerudung, bantal, dan celana dalam yang menyerupai popok bayi dengan dikasih kapas.
Setelah semua persiapan selesai, ia kemudian menanyakan kepada pihak keluarga mengenai waktu jenazah akan dimakamkan. Setelah itu, ia segera memandikan jenazah.
"Baru saya mandikan jenazah, dan sudah siap dikafankan beberapa menit kemudian baru jenazah dibawa untuk disholatkan dan dimakamkan," jelasnya.
Perasaan dan Pesan dari Azizah
Selama mengabdikan diri sebagai jasa fardu kifayah, Azizah tidak pernah merasa takut maupun kesan negatif. Justru, ia merasakan dua hal: rasa suka karena dapat bertemu dan bersilaturahmi dengan banyak kerabat, serta rasa sedih karena setiap proses mengurus jenazah selalu mengingatkannya pada kematian.
"Kadang saya merasa, Ya Allah kalau meninggal seperti inilah saya, itu yang biasanya terbesit dalam pikiran saya. Kalau sudah waktunya saya berpulang, tidak ada satupun bekal yang dibawa hanya serupa kain putih ini saja," ucapnya.
Pesan untuk Anak Muda
Menariknya, Azizah menyampaikan pesan penting bagi anak muda agar memahami pengetahuan tentang fardu kifayah. Ia berharap, saat kerabat atau keluarga ada yang meninggal, mereka tidak lagi kebingungan dalam mengurus segala proses fardu kifayah.
"Makanya, saya selalu menyiapkan kain (batik) untuk nanti, jadi anak-anak saya tidak perlu repot, beli sana-sini jadi sudah saya siapkan dari sekarang," katanya.
Warisan Keluarga
Azizah juga mengungkapkan bahwa dari silsilah keluarganya, banyak anggota keluarga yang pernah mengabdikan diri sebagai jasa fardu kifayah. Dari nenek, ibu, ayah, kakek, hingga kakaknya juga pernah melakukannya.
"Dulu semuanya seperti itu, dari Nenek, Mama, Ayah, Kakek dan Kakak saya juga. Dari zaman-zaman dulu, dari masa Kakek sudah pernah," jelasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar