
Dampak Banjir terhadap Ketersediaan Air Tanah di Jakarta
Kondisi banjir yang semakin sering terjadi di Jakarta memengaruhi persediaan air tanah yang selama ini menjadi andalan warga. Di tengah keadaan ini, banyak warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur bor yang sebelumnya bisa diandalkan kini tidak lagi stabil.
Kesulitan Mendapatkan Air Bersih
Ersa (44), warga Cengkareng, Jakarta Barat, merasakan langsung dampak perubahan lingkungan terhadap kualitas air tanah. Selama 10 tahun, ia nyaman menggunakan air tanah karena merasa kualitasnya bagus dan tidak berbayar.
"Dulu saya pikir ngapain bayar kalau bisa gratis. Di sini juga rata-rata punya sumur bor semua. Airnya bening dan dingin, masih segar buat mandi," ujar Ersa.
Namun, wilayah rumahnya yang sering terendam banjir hingga empat kali setahun memengaruhi kualitas air tanah. Saat banjir datang, air dari keran rumahnya kerap berwarna cokelat dan berbau. Ia mengaku harus membeli air galon isi ulang untuk kebutuhan harian.
"Akhirnya saya pakai air isi ulang. Biasanya Rp 7.000 per galon. Saya beli itu buat mandi dan mencuci piring," cerita Ersa.
Langkah ini justru membuat persediaan air bersih semakin sulit dan menambah beban ekonomi keluarga. Akhirnya, Ersa memutuskan beralih ke layanan air PAM meski harus merogoh kocek lebih dalam.
Perubahan pada Mesin Pompa
Pras (58), warga Cengkareng lainnya, juga mengalami masalah serupa. Ia memutuskan beralih ke air PAM pada awal 2025 karena debit air tanah di sumur bor miliknya mulai berkurang. Suara mesin pompa yang meraung keras menjadi tanda bahaya bagi Pras.
"Air tanah di sini mulai sedikit keluar, jadi susah. Pompanya bekerja keras dan sering rusak," keluh Pras.
Kelelahan menghadapi masalah teknis membuat Pras memilih beralih ke air PAM dan membayar tagihan bulanan daripada terus memperbaiki mesin pompa.
Kesadaran Lingkungan yang Masih Rendah
Keputusan Ersa dan Pras mencerminkan bahwa peralihan warga Jakarta dari air tanah ke air PAM didorong oleh kondisi alam dan ketersediaan air tanah yang semakin menipis. Namun, kesadaran akan isu penurunan permukaan tanah atau land subsidence masih jauh dari pemahaman dasar para warga.
Pras mengaku kepindahannya murni karena kebutuhan air bersih sehari-hari, bukan karena takut Jakarta tenggelam akibat penurunan permukaan tanah.
"Enggak pernah tahu soal penurunan tanah, dan enggak pernah ada yang ngasih tahu," kata Pras.
Ia pun enggan disalahkan apabila penggunaan air tanah dinilai merusak lingkungan karena penurunan permukaan tanah. Baginya, ketersediaan air bersih adalah hal paling utama.
Harapan Perbaikan Layanan
Setelah memutuskan beralih sepenuhnya ke air perpipaan, baik Ersa maupun Pras menaruh harapan besar pada penyedia layanan air, yaitu PAM Jaya. Mereka berharap layanan air dikelola dengan baik dan harga tetap terjangkau.
"Semoga layanannya meningkat. Sama air sih jangan sampai mati. Harganya juga jangan naik," ujar Pras.
Ersa juga berharap tarif air bisa lebih bersahabat bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang sudah terbebani biaya hidup di Jakarta yang semakin mahal.
"Semoga bisa lebih murah lah airnya. Kan kebutuhan kita makin mahal semua. Jadi enggak membebani banget ke kita-kita, ke warga-warga kecil kayak kita gitu," tutupnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar