
JEMBER, nurulamin.pro
- Banjir yang meluap dari sungai akhirnya mulai surut, namun Supakmi (70) masih tetap waspada terhadap kemungkinan air kembali datang.
Warga Dusun Krajan RT 7 RW 2 Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember ini masih terlihat termenung saat melihat halaman rumahnya hingga Selasa (16/12/2025) sore.
Supakmi masih mengingat betul peristiwa Senin (15/12/2025) malam sekitar pukul 22.00 WIB ketika air Sungai Bedadung mulai menggenang di halamannya dan lingkungan sekitar.
Perempuan berusia 70 tahun itu awalnya bingung ketika melihat banyak orang berlalu lalang dengan motor di depan rumahnya.
"Dateng aengnga (datang airnya)," ucapnya menirukan suara orang-orang semalam.
Ia dan keluarganya kemudian menyadari bahwa orang-orang tersebut sedang memperhatikan debit air Sungai Bedadung di beberapa titik yang tidak jauh dari rumahnya.
"Padahal gak ada hujan dua hari ini," katanya lagi, menunjukkan kebingungan.
Rupanya, cuaca di dusun tersebut cukup cerah pada hari itu, membuat banyak orang kaget ketika debit air sungai meningkat tajam dan menjadi sangat deras.
Sementara itu, laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember menyebutkan bahwa kenaikan debit air di sejumlah sungai hingga meluap ke permukiman disebabkan oleh guyuran hujan sejak siang hingga sore hari.
Desa Nogosari dilaporkan sebagai wilayah dengan dampak terbesar. Terdapat 429 kepala keluarga (KK) yang terkena dampak banjir.
Solehati (41), warga setempat, juga mengatakan bahwa tidak ada hujan yang mengguyur hari itu. Ia mengaku sempat melihat kondisi air sungai dan memutuskan untuk pulang serta membawa barang-barang dapur ke atas.
Bersama adiknya, ia segera menutup sumur air menggunakan plastik yang diikat erat, harapan agar air sungai tidak masuk ke dalam rumah.
Air pun akhirnya meluap dan memenuhi halaman rumahnya.
"Pokok sumur langsung tutup, air kali deres. Tapi barang lainnya masih saya biarkan semoga gak tambah tinggi," ungkapnya menceritakan kegentingan malam tadi.
Ia merasa agak tenang karena rumahnya dibuat sedikit lebih tinggi dari halaman.
Rumah tersebut dirancang demikian sejak banjir bandang Panti menghancurkan rumahnya pada 2004 silam.
Sementara suaminya malam itu tidak bisa pulang karena sedang berjualan bakso di dusun seberang.
"Air di sana sudah tinggi, jalan gak bisa dilewati. Jadi suami saya baru pulang pas air surut," ujarnya.
Menurutnya, air mulai surut pada Selasa dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.
Ibu dua anak itu mengaku masih bersyukur rumahnya tidak kemasukan air, seperti kebanyakan rumah yang berada di bantaran sungai.
"Ada yang airnya sampai nyentuh jendela, selutut, ya masuk rumah. Di sini alhamdulillah hanya menggenang di halaman," bebernya.
Pantauan nurulamin.pro di lapangan menunjukkan bahwa debit air Sungai Bedadung di desa tersebut mulai turun.
Tampak sisa luapan air masih membekas, berkerak coklat di aspal serta sampah-sampah berserakan hingga ke petak-petak sawah dan pohon bambu.
Banyak halaman rumah yang masih tanah pun becek dan sangat basah.
Hingga sore tadi, beberapa warga masih sibuk membersihkan rumah dari bekas luapan air dan lumpur, mencuci peralatan dapur, serta membereskan kembali perabotan yang dikeluarkan.
Binatang-binatang ternak juga masih diikat di pinggir jalan.
Beberapa di antaranya juga sengaja membiarkan perabotan rumah yang dinaikkan ke tempat lebih tinggi, seolah berjaga-jaga jika air akan meluap lagi.
Banyak penjual yang biasa membuka dagangan di rumahnya pun tutup.
Tangkis di salah satu titik tepi Sungai Bedadung di Dusun Krajan itu tampak terkikis dan nyaris ambrol.
Hingga berita ini ditulis, cuaca cerah dan hujan belum mengguyur wilayah tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar