
Banjir dan Longsor Menghancurkan Sekolah dan Rumah Warga di Batang Anai
Pada hari Kamis (27/11/2025), kawasan SDN 05 Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, mengalami bencana alam yang sangat memilukan. Tiga rumah warga yang berada di gerbang sekolah tersebut porak-poranda akibat banjir dan longsoran tanah yang melanda wilayah tersebut.
Dahniar (58), salah satu pemilik rumah yang terkena dampak bencana, masih terlihat terpukul saat menceritakan peristiwa tersebut. Ia mengatakan bahwa air mulai masuk ke dalam rumah sejak subuh. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa banjir akan berubah menjadi bencana yang lebih besar.
Air mulai masuk sejak subuh. Tapi ketika ketinggiannya sudah mencapai atap, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah bukit, katanya dengan suara bergetar.
Tidak lama kemudian, material longsoran meluncur deras dari bukit di belakang sekolah. Hantaman itu menciptakan gelombang air yang sangat kuat yang langsung menerjang rumah warga dan bangunan SDN 05 Batang Anai.
Longsoran itu seperti ombak besar. Dinding rumah saya roboh seketika, sekolah pun hancur, kata Dahniar saat ditemui TribunPadang.com, Kamis (11/12/2025).
Sisa-sisa bangunan yang hancur berserakan di sekitar gerbang sekolah, meninggalkan luka mendalam bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan kenangan yang tersapu air bercampur lumpur.
Mendengar suara longsor dan melihat rumah sekolah roboh, Dahniar mengaku langsung berlari menyelamatkan diri ke rumah tetangga yang berada di lokasi lebih tinggi.
Saya lari karena sini juga banjir. Takut gelombang air makin besar, katanya.
Ia memperlihatkan bagian dinding rumah yang hancur akibat kuatnya hempasan air.
Paling parah bagian dapur. Dindingnya hancur karena hantaman air, jelasnya.
Selain rumah Dahniar, dua rumah lain yang berada di kiri dan kanan rumahnya juga mengalami kerusakan parah.
Rumah tetangga saya juga rusak. Penyebabnya sama, karena hempasan air, ungkapnya.
Sebelumnya, banjir dan longsor yang melanda Batang Anai 15 hari lalu membuat bangunan utama SDN 05 Batang Anai rata dengan tanah. Atap bangunan masih terlihat utuh, namun seluruh dinding dan struktur ambruk tersapu gelombang besar yang dipicu material longsor.
Di belakang sekolah tampak bekas tebing longsor dengan bongkahan tanah besar dan batu-batu yang ikut terbawa. Pagar sekolah juga roboh. Hanya gedung perpustakaan yang selamat karena posisinya terpisah dari bangunan utama.
Plt Kepala Sekolah, Lisa Rifendi, menyebut banjir sudah terjadi sejak pagi akibat luapan sungai di belakang sekolah.
Kejadiannya pagi hari, anak-anak belum datang. Hujan sudah seminggu tak berhenti dan lokasi ini memang rawan banjir, katanya.
Air sempat mencapai atap bangunan sebelum akhirnya longsor menghantam genangan air, memicu gelombang besar yang merobohkan bangunan sekolah.
Saat air menyentuh atap, terjadilah longsor. Material tanah menghantam air dan menimbulkan gelombang besar hingga sekolah roboh, ungkapnya.
Karena lokasi sekolah berada di dataran rendah dan dekat sungai, pihak sekolah juga setuju jika sekolah direlokasi.
Kami takut terjadi banjir dan longsor susulan, katanya.
Dampak kerusakan tersebut membuat 94 siswa SDN 05 Batang Anai terpaksa mengikuti Ujian Sumatif Akhir Semester (SAS) di Mushala Nurul Imam pada Kamis (11/12/2025). Mushala itu berjarak sekitar puluhan meter dari sekolah.
Sebelumnya, siswa sempat belajar dua hari di tenda darurat yang disiapkan pemerintah kabupaten. Namun hujan pada hari keempat ujian membuat tenda tidak bisa dipakai karena lantainya becek dan licin.
Pantauan TribunPadang.com, para siswa dibagi ke dalam enam kelompok sesuai kelas. Mereka duduk di lantai mushala sambil mengerjakan soal ujian, sementara guru mengawasi jalannya ujian.
Senin dan Selasa kami ujian di tenda. Rabu kami alihkan ke rumah siswa karena air naik dan khawatir longsor susulan. Hari ini ujian kami pindahkan ke mushala karena tenda becek, jelas Lisa.
Ia mengakui pelaksanaan ujian di mushala tidak ideal.
Anak-anak menulis di lantai karena tak ada meja. Tapi kami harus selesaikan ujian semester, ujarnya.
Usai ujian, para siswa akan diliburkan dan masuk kembali pada 5 Januari 2026.
Lisa berharap pemerintah mempercepat pembangunan sekolah baru.
Anak-anak tidak bisa belajar lama di tenda. Kalau hujan lantainya becek, kalau panas sangat gerah, tutupnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar