
Rentetan Peristiwa Teror yang Menyerang Aktivis dan Pemengaruh
Di akhir tahun, terjadi rentetan peristiwa teror yang menyerang aktivis maupun pemengaruh di media sosial. Koalisi Masyarakat Sipil mengajak seluruh warga untuk saling menjaga dan memberikan dukungan kepada mereka yang mengkritik kinerja pemerintah dalam menangani bencana ekologis di Sumatera.
Koalisi ini terdiri dari 91 lembaga dan kolektif serta 51 individu yang mengecam serangan terhadap warga yang berani menyampaikan kritik. Beberapa organisasi yang terlibat antara lain Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Greenpeace, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, SAFEnet, Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, Imparsial, Indonesia Corruption Watch, serta sejumlah akademisi seperti Bivitri Susanti, Julius Ibrani, Feri Amsari, hingga Herlambang P. Wiratraman.
Koalisi menilai bahwa serangan teror ini adalah upaya untuk membungkam kritik dan partisipasi publik. Dalam pernyataan sikapnya pada Kamis, 1 Januari 2025, Koalisi Masyarakat Sipil menyampaikan pesan penting: "Warga jaga warga."
Tidak Mendorong Tuntutan Kepada Pemerintah
Koalisi menyatakan bahwa mereka tidak akan mendorong tuntutan atau desakan kepada pemerintah dalam peristiwa teror ini. Alasannya, koalisi percaya bahwa tuntutan kepada pemerintahan Prabowo dan Gibran tidak akan efektif dalam rezim penguasa yang dianggap pongah dan lalim.
"Kami justru mengajak kepada masyarakat luas untuk terus bersama saling menjaga setiap orang yang hari ini meluapkan ekspresi atas buruknya kualitas penyelenggaraan negara," ujar koalisi.
Mereka meyakini bahwa solidaritas antarwarga di tengah situasi krisis ini merupakan bukti konkret dan menohok bahwa pemerintah tak lagi bisa diandalkan dalam melindungi hak asasi warga negara. Koalisi juga menyatakan bahwa serangan teror dan ancaman tidak akan membuat masyarakat sipil berhenti untuk terus vokal mengkritik kinerja pemerintah, khususnya dalam menangani bencana Sumatera.
Serangan Teror yang Mengancam Kepedulian Warga
Pemerintah dinilai terlalu jumawa dan antikritik sehingga seakan lupa bahwa warga negara adalah bagian paling penting dalam setiap urusan dan kebijakan publik yang diambil oleh penyelenggara negara.
Koalisi menyatakan bahwa tindakan teror terhadap masyarakat sipil telah melecehkan semangat gotong royong warga. Padahal, kritik masyarakat sipil itu sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi warga terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Bentuk-Bentuk Teror yang Terjadi
Sebelumnya, aktivis dan sejumlah pemengaruh mendapatkan teror di penghujung tahun. Salah satu contohnya adalah pemusik asal Aceh DJ Donny yang mengaku mendapat kiriman bangkai ayam dan surat ancaman. Rumahnya juga dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal.
Selain Donny, pemengaruh asal Aceh bernama Shery Annavita mengaku dikirimi sekantung telur busuk dan mendapat tindakan vandalisme di mobilnya. Tidak hanya itu, rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik dikirimi bangkai ayam beserta pesan bernada ancaman. Teror terhadap Iqbal diduga berkaitan dengan kerja-kerja Iqbal Damanik sebagai pengkampanye Greenpeace, terutama soal kritik terhadap kinerja pemerintah dalam menangani bencana Sumatera.
Serangan Digital yang Mengganggu
Teror juga terjadi di dunia maya. Kreator konten Virdian Aurellio mengalami serangan digital setelah rutin mengunggah kondisi pascabencana di Aceh. Akun WhatsApp adiknya diduga diretas dan digunakan untuk mengirim konten pornografi ke sejumlah grup.
Selain itu, ada upaya pengambilalihan akun terhadap anggota keluarga lainnya serta pesan-pesan yang mendiskreditkan Virdian yang dikirim ke kerabatnya dari nomor tak dikenal. Teror serangan digital juga menyasar seorang aktor bernama Yama Carlos. Dia mengaku mendapat teror setelah mengunggah video satir soal situasi bencana Sumatera.
Bentuk intimidasi yang diterima antara lain pesan WhatsApp ancaman, perintah menghapus konten, serta paket cash on delivery (COD) fiktif yang dikirim ke alamatnya.
Pernyataan Menteri HAM
Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai berdalih belum mengetahui ada teror yang menyerang keamanan warga. "Saya sendiri belum tahu. Jadi bagaimana saya percaya mereka diteror? Oleh siapa? Karena apa?" kata dia dalam pesan singkat, Rabu, 31 Desember 2025.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar