
Perayaan Bambu Fest 2025 di Tasikmalaya: Kombinasi Tradisional dan Modern dalam Mode
Acara pembukaan Priangan Bambu Fest 2025 di Tasikmalaya tidak hanya menjadi ajang pameran seni dan budaya, tetapi juga menjadi momen penting untuk memperkenalkan inovasi di bidang mode. Acara ini turut dihadiri oleh berbagai desainer lokal yang menciptakan karya-karya yang menggabungkan elemen tradisional dengan sentuhan modern.
Salah satu acara menarik dalam festival ini adalah fashion show yang diselenggarakan pada Jumat, 12 Desember 2012. Dalam acara tersebut, para model tampil dengan busana yang menggabungkan kreasi batik, bordir, dan kain tenun khas Tasikmalaya. Perpaduan antara kain tenun yang biasa diproduksi di kota santri dengan kain bordir khas Tasikmalaya membuat penampilan model terlihat anggun dan stylish tanpa kehilangan ciri khas budaya setempat.
Istri Wakil Walikota Tasikmalaya, Rani Permatasari, menyaksikan langsung peragaan busana tersebut dan mengaku cukup terkesan dengan inovasi yang dilakukan oleh pengusaha asal Cibereum, Hj Pupun Naylupar. Menurutnya, kolaborasi antara kain bordir khas Tasikmalaya dengan motif tenun yang kaya akan nilai budaya terlihat sangat stylish dan menarik. Ia yakin, model seperti ini bisa menjadi pilihan bagi wanita yang menyukai sentuhan etnik.
"Kolaborasi antara kain bordir khas Tasikmalaya dengan motif tenun yang sarat nilai budaya terlihat tetap stylish, menarik dan diyakini bisa jadi pilihan kaum hawa yang suka sentuhan etnik," ujar Rani saat meninjau stan peserta Bambu Fest 2025 di kawasan Gedung PPIK.
Rani juga mendorong Hj Pupun dan desainer lain untuk terus mengembangkan inovasi tersebut agar sesuai dengan selera pasar. Menurutnya, model seperti ini tidak hanya cocok untuk acara resmi, tetapi juga fleksibel untuk berbagai kegiatan sehari-hari.
Hj Pupun sendiri terinspirasi untuk merancang model fashion ini guna merespons perkembangan tren fashion yang terus berubah. Ia melihat bahwa kain bordir sangat identik dengan Tasik dan banyak diproduksi di sini. Begitu pula dengan kain tenun yang sering diproduksi untuk pasar Sumatera maupun timur Indonesia.
"Maka saya coba berinovasi dan mengkombinasikannya jadi sebuah fashion yang dapat menciptakan kesan modern tanpa menghilangkan unsur tradisional yang menjadi identitas budaya Tasikmalaya," ujar Naylupar.
Dengan fleksibilitas gaya yang ditawarkan, setiap orang dapat menciptakan penampilan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan jenis acara yang dihadiri. Ia mengaku masih akan mengembangkan desainnya sebelum memutuskan untuk dilempar ke pasaran.
"Bila respon pasarnya bagus, kenapa kita tak dikembangkan oleh para perajin di Tasikmalaya," ujar Naylufar.
Mr Kang, salah seorang undangan Bambu Fest Festival, juga mengaku terkesan dengan sejumlah inovasi yang ditawarkan dalam ajang tersebut. "Saya kira cukup bagus dan banyak produk unik yang bagus dan bisa diterima pasar. Sayang pengunjungnya tidak terlalu banyak," ujar dia.
Inovasi Mode: Masa Depan Industri Fashion Lokal
Perpaduan antara tradisi dan modernitas dalam industri mode di Tasikmalaya menunjukkan potensi besar untuk berkembang lebih jauh. Dengan kombinasi kain bordir dan tenun yang kaya akan makna budaya, karya-karya seperti ini memiliki peluang besar untuk diterima oleh pasar baik lokal maupun nasional.
Desainer seperti Hj Pupun Naylupar menunjukkan bahwa inovasi tidak harus meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, inovasi bisa menjadi cara untuk menjaga warisan sambil tetap relevan dengan kebutuhan pasar masa kini. Hal ini menjadi langkah penting dalam melestarikan budaya sambil memberikan peluang ekonomi bagi para perajin dan pengusaha lokal.
Dalam konteks yang lebih luas, Bambu Fest 2025 bukan hanya sekadar pameran seni, tetapi juga menjadi wadah untuk menginspirasi dan mempromosikan karya-karya yang berakar pada budaya lokal. Dengan dukungan dari masyarakat dan pemerintah, acara semacam ini bisa menjadi pintu masuk bagi industri kreatif di Tasikmalaya untuk berkembang lebih pesat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar