Kompolnas Kecam Penyerangan Polisi yang Tewaskan Matel di Kalibata

Kasus Pengeroyokan Matel di Kalibata: Kompolnas Menyampaikan Kecaman

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyampaikan kecaman terhadap kasus pengeroyokan dua orang mata elang (matel) di Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan. Peristiwa ini menarik perhatian lembaga pengawas eksternal Polri tersebut karena melibatkan enam anggota polisi.

Menurut Komisioner Kompolnas Choirul Anam, tindakan kekerasan dan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan dalam segala kondisi. Indonesia adalah negara hukum, dan para pelaku, termasuk polisi, bertugas untuk menjaga aturan, bukan melanggarnya.

”Kami menyayangkan bahwa salah satu bentuk kekerasan dilakukan oleh anggota kepolisian. Apapun alasannya, kekerasan atau main hakim sendiri tidak boleh dilakukan,” ujar dia pada Sabtu (13/12).

Tindakan Hukum yang Diambil

Kompolnas mendukung penuh langkah hukum yang kini diambil oleh Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri. Anam menegaskan bahwa tindakan tegas diperlukan terhadap para tersangka. Tidak hanya proses hukum, tetapi juga proses etik harus dilakukan.

”Kami mendukung upaya yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya untuk melakukan tindakan tegas. Mereka sudah mengumumkan bahwa mekanisme tidak hanya melibatkan pelanggaran etik, tetapi juga disebutkan bahwa etiknya pelanggaran etik berat. Selain itu, ada mekanisme pidana juga,” jelas dia.

Anam menekankan bahwa proses hukum pidana dan sidang etik sama-sama penting. Kompolnas berharap langkah tegas yang diambil oleh pihak kepolisian dapat menjadi efek jera, sehingga hal serupa tidak terulang kembali di masa depan.

Penanganan Lebih Lanjut

Selain itu, Anam menyampaikan bahwa dalam konteks yang lebih besar, perlu dibuat mekanisme khusus terkait debt collector. Pertanyaan tentang bagaimana penagihan dilakukan, apakah di tengah jalan atau di rumah, juga penting untuk dipertimbangkan.

Pada Kamis sore, 6 polisi mengeroyok dua orang matel berinisial M dan NAT. Kedua korban meninggal dunia dan ditemukan dalam kondisi terkapar dan bersimbah darah. Pengeroyokan itu disusul dengan aksi pengrusakan dan pembakaran berujung kerusuhan di Kalibata.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan