
aiotrade
– Kekalahan yang mengejutkan dengan skor 0-1 dari Timnas U22 Indonesia melawan Filipina dalam laga kedua babak penyisihan Grup C SEA Games 2025 menjadi sorotan berbagai pihak.
Salah satu pengamat sepak bola nasional, Rizal Pahlevi, menyebut bahwa kehilangan konsentrasi oleh pemain Indonesia menjadi masalah utama. Ia menilai gol Filipina yang tercipta melalui skema lemparan ke dalam (throw in) seharusnya tidak terjadi jika pemain mampu menjaga fokus dan mengawasi pergerakan lawan.
"Proses kebobolan adalah sesuatu yang bisa dihindari di akhir babak pertama. Ada momen penurunan konsentrasi dan itu peluang terakhir yang terjadi," ujar Rizal kepada aiotrade.
"Namun, kebobolan melalui throw in sangat mengecewakan dan bisa dihindari," tambahnya.
Selain itu, ia juga mengkritik respons yang terlambat dari Timnas U22 Indonesia setelah tertinggal dari Filipina. Meskipun dominasi penguasaan bola terlihat sepanjang pertandingan, Garuda Muda justru terbawa tempo lawan yang bermain dengan strategi low block.
Kurangnya kreativitas membuat tim kesulitan membongkar pertahanan lawan dan hanya mengandalkan tembakan dari luar kotak penalti yang kurang efektif.
"Kebobolan bisa saja terjadi, tapi yang saya harapkan adalah responnya. Menurut saya, hanya ada satu peluang emas dari Rafael Struick," kata Rizal.
"Selain itu, kita tidak memberikan respon yang baik sehingga menunjukkan bagaimana rapornya respons kita setelah ketertinggalan," sambungnya.
Permasalahan di Lini Serang yang Tampil Melempem
Sejak masa kepemimpinan pelatih Shin Tae-yong hingga Indra Sjafri, lini serang Timnas Indonesia selalu menjadi permasalahan dalam hal efektivitas penyelesaian akhir. Mulai dari Jens Raven, Rafael Struick, hingga Mauro Zijlstra masih belum memenuhi ekspektasi sebagai pemain depan.
Menurut Rizal, performa penyerang di Timnas U22 dan U23 tidak lepas dari minimnya suplai bola ke lini serang. Apalagi, sistem yang digunakan Indonesia sering kali memainkan penyerang tunggal yang terisolasi pergerakannya ketika tidak mendapatkan bola matang dari lini tengah.
"Dalam beberapa pertandingan terakhir, lini depan kita selalu tampil buruk, bukan hanya dari kesalahan mereka sendiri, tapi juga dari segi suplay bola. Menurut saya, sangat sulit bagi striker untuk tampil baik," ujarnya.
"Jadi siapa pun yang bermain di posisi nomor 9 akan kesulitan di sistem ini. Ini menjadi pekerjaan rumah untuk laga berikutnya melawan Myanmar," tambahnya.
Langkah Berat Timnas U22 Indonesia ke Semifinal SEA Games
Setelah kekalahan dari Filipina, Timnas U22 Indonesia menghadapi langkah berat untuk lolos ke semifinal SEA Games 2025 meski peluang belum sepenuhnya tertutup. Hasil laga ketiga melawan Myanmar harus bergantung pada hasil pertandingan Malaysia vs Vietnam di Grup B.
"Laga selanjutnya melawan Myanmar, paling apesnya bisa dikatakan hasil sudah tidak di tangan kita sendiri. Jadi tampaknya akan menjadi proses yang mengerikan bagi kita semua, karena kalah di laga pembuka seperti ini, hasilnya sangat buruk bagi kita," tutur Rizal.
Menurutnya, hasil yang diterima Timnas U22 Indonesia sangat tidak seharusnya terjadi. Pasalnya, persiapan tim cukup matang dan skuad yang praktis tidak banyak mengalami perubahan sejak era pelatih sebelumnya.
Namun, penampilan yang ditunjukkan di atas lapangan sangat jauh dari harapan pecinta sepak bola Indonesia.
"Hasil yang sangat tidak bisa diterima karena ini tim sudah sangat berpengalaman. Satu tahun terakhir banyak sekali laga yang sudah dijalani bersama. Jadi menurut saya, ini adalah laga yang sangat pahit untuk kita semua," pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar