
Masalah Transaksi Digital di SPBU Pertamina
Kendala dalam penggunaan aplikasi MyPertamina saat melakukan transaksi pembelian bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi isu yang dikeluhkan oleh konsumen. Masalah ini terjadi ketika pembayaran melalui aplikasi dianggap berhasil, namun tidak terbaca oleh mesin electronic data capture (EDC) milik SPBU.
Pengalaman Erwin Saat Mengisi BBM
Erwin, seorang pengguna aplikasi MyPertamina, mengalami kendala serupa saat mengisi BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, pada Jumat (2/1/2026). Ia telah membayar sebesar Rp 300.000 untuk pembelian 30 liter Pertalite melalui aplikasi dan menerima notifikasi bahwa transaksi berhasil dilakukan pada pukul 16.18 WIB.
Namun, petugas SPBU menyampaikan bahwa transaksi tersebut belum masuk ke sistem EDC sehingga pengisian BBM belum dapat dilakukan. Erwin mengungkapkan bahwa notifikasi di aplikasinya menunjukkan transaksi berhasil dengan detail pembayaran yang jelas. Namun, mesin EDC di SPBU belum menerima data tersebut.
Proses Penyelesaian Masalah
Erwin kemudian diminta menunggu karena petugas melakukan pengecekan ke sistem komputer di kantor operasional SPBU. Sayangnya, komputer tersebut tidak dapat diakses karena kata sandi hanya diketahui oleh petugas lain yang tidak berada di lokasi.
Petugas SPBU lantas menyarankan agar Erwin melaporkan kejadian tersebut ke nomor WhatsApp tertentu dengan mekanisme pengembalian dana yang diperkirakan memakan waktu sekitar tiga hari kerja. Namun, saran tersebut ditolak oleh Erwin karena ia merasa ragu akan kepastian pengembalian uang dan proses yang terlalu lama.
Perdebatan pun terjadi hingga sekitar 45 menit. Pada akhirnya, petugas SPBU memutuskan tetap mengisikan Pertalite ke kendaraan Erwin sesuai jumlah transaksi, setelah mengambil foto bukti pembayaran di ponsel miliknya.
Pengalaman Serupa dan Kritik Terhadap Sistem
Erwin menyebut bahwa kejadian serupa bukan kali pertama ia alami saat menggunakan aplikasi MyPertamina, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat, di SPBU Pertamina lain. Ia mengatakan bahwa kejadian ini biasanya terjadi di SPBU yang mesinnya sudah usang dan tidak siap.
Ia menilai bahwa masalah ini menunjukkan masih lemahnya kesiapan sistem transaksi digital, khususnya pada perangkat EDC di sejumlah SPBU. Padahal, menurut dia, penggunaan sistem nontunai terus didorong.
“Saya sebenarnya bawa uang cash. Tapi prinsip saya, selama masih bisa pakai digital, ya saya pakai digital. Tapi kalau sering gangguan begini, terus apa gunanya ada aplikasi?” kata Erwin.
Saran untuk SPBU dan Konsumen
Erwin juga menyoroti posisi konsumen yang kerap dirugikan ketika terjadi kendala sistem. Menurutnya, konsumen sudah melakukan kewajiban dengan membayar, namun ketika ada masalah di sistem mereka, konsumen yang justru dirugikan.
Ia menyarankan apabila sistem pembayaran digital sedang bermasalah, sebaiknya SPBU memberitahukan konsumen agar tidak ada yang dirugikan di kemudian hari. “Kalaupun memang enggak bisa digunakan (pembayaran digital) saat itu atau sistem jaringannya sedang error, tolong petugas SPBU tulis saja pengumuman bahwa sistem sedang error, harap membayar tunai,” kata dia.
Meski demikian, Erwin mengapresiasi sikap petugas SPBU yang bersedia menalangi transaksi tersebut dengan uang pribadi agar pengisian BBM tetap dapat dilakukan sesuai pembayaran.
Tanggapan dari Pertamina
Menanggapi keluhan tersebut, Pj Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan pembaruan dan pemantauan sistem aplikasi MyPertamina secara berkala. Ia menyebutkan bahwa sistem MyPertamina terus diperbarui dan dimonitor, baik dengan maupun tanpa adanya laporan dari masyarakat.
Menurut Roberth, kendala transaksi dapat dipengaruhi sejumlah faktor, seperti kondisi sinyal, cuaca, maupun faktor teknis lainnya. Namun, ia menegaskan bahwa gangguan tersebut tidak terjadi secara masif.
“Apabila masyarakat sebagai konsumen dan pengguna MyPertamina mengalami kendala, dapat melaporkan ke Pertamina Contact Center di 135 agar dapat segera ditindaklanjuti dan diselesaikan,” kata Roberth.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar