Koordinasi dengan Bupati Aceh Timur, LAZNAS AQL Peduli Luncurkan Program Pemulihan Berbasis Masjid

LAZNAS AQL Peduli Bergerak untuk Pemulihan Aceh Timur Berbasis Masjid

Pascabencana alam yang melanda Aceh Timur dan sekitarnya, mendorong Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) AQL Peduli untuk bergerak cepat dalam upaya pemulihan. Program yang dijalankan LAZNAS AQL Peduli bertujuan untuk memperkuat pascabencana dengan pendekatan berbasis masjid. Langkah awal yang dilakukan adalah koordinasi langsung dengan Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si.

Pertemuan tersebut berlangsung pada Jumat (2/1/2026), dihadiri oleh KH Bachtiar Nasir, Pembina LAZNAS AQL Peduli, serta Samade, Direktur LAZNAS AQL Peduli. Dalam pertemuan ini, Bachtiar Nasir menyampaikan bahwa banyak infrastruktur masyarakat yang rusak, termasuk rumah, jalan, jembatan, fasilitas umum seperti rumah ibadah, rumah sakit, puskesmas, dan sarana pendidikan baik negeri maupun swasta.

Berdasarkan data yang telah dikumpulkan oleh tim LAZNAS AQL Peduli, program “Pulihkan Aceh dari Masjid” akan menjadi fokus utama. Tujuan dari program ini adalah menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, distribusi bantuan, pendidikan, serta penguatan ekonomi umat. Bachtiar Nasir menegaskan bahwa LAZNAS AQL Peduli memiliki komitmen untuk mengawal Aceh Timur melalui pemulihan berbasis masjid, penguatan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, serta koordinasi erat dengan pemerintah daerah, BNPB, dan tokoh lokal.

“Aceh bukan hanya dipulihkan infrastrukturnya, tetapi juga iman, ilmu, dan kemandirian ekonominya,” tegas Bachtiar Nasir.

Di tempat yang sama, Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menjelaskan bahwa bencana banjir terjadi pada 26 November 2025 akibat hujan deras yang melanda selama sepekan. Dampak banjir terparah dirasakan di Aceh Timur, sementara wilayah lain yang terdampak antara lain Aceh Utara, Bireuen, dan Aceh Tamiang, dengan karakter dampak dan penanganan yang berbeda-beda.

Bupati mengungkapkan bahwa sejak hari pertama, ia langsung melihat kondisi lapangan dan memimpin penanganan bencana. Pada hari pertama, hampir seluruh Aceh Timur dilaporkan tenggelam. Evakuasi dilakukan menggunakan speedboat, termasuk penyelamatan lima warga Desa Seumali yang terjebak di atap rumah, di antaranya anak-anak.

Kondisi diperparah oleh listrik dan jaringan internet yang terputus total, sehingga masyarakat bertahan hidup selama tiga hari dengan makanan seadanya. Sebagian warga bahkan tidak makan sama sekali karena ketakutan dan keterbatasan logistik.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur memperkirakan masa pemulihan membutuhkan waktu hingga 3 (tiga) tahun dengan estimasi kebutuhan anggaran sekitar Rp7,1 triliun, dan tercatat 57 korban meninggal dunia serta sejumlah desa harus direlokasi. Saat ini, program hunian sementara dan hunian tetap dari pemerintah masih terkendala persoalan lahan.

Bupati Aceh Timur juga menyatakan bahwa kebutuhan yang sangat mendesak untuk para korban bencana antara lain logistik pangan hingga Ramadhan, perlengkapan dapur, perlengkapan sekolah, tenda untuk sekolah dan puskesmas darurat, serta pembangunan mushalla yang hilang.

“Rumah warga yang rusak akan menjadi tanggung jawab pemerintah, sementara peran lembaga kemanusiaan diharapkan dapat memperkuat pemulihan ekonomi masyarakat dan layanan sosial berbasis komunitas,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bupati berharap kepada LAZNAS AQL Peduli untuk tidak sungkan dalam berkoordinasi dalam menjalankan misi kemanusiaannya membantu pemulihan pascabencana. Ia sangat berterima kasih atas bantuan dan kontribusi LAZNAS AQL Peduli dalam menghadirkan program pemulihan dari masjid.

“Semoga program ini dapat dilaksanakan sebaik-baiknya, apalagi ini dipimpin langsung oleh KH Bachtiar Nasir, yang sangat kami hormati dan sungguh sangat membuat kami bersemangat dalam menuntaskan pembangunan pascabencana,” pungkas Bupati.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan