
Kemenkop dan UKM Siap Perkuat Koperasi Pasca-Bencana di Sumatra
Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kemenkop dan UKM) telah memastikan koperasi di seluruh Indonesia akan terlibat aktif dalam pemulihan ekonomi dan sosial masyarakat pasca-bencana di wilayah Sumatra. Komitmen ini dilakukan melalui Gerakan Koperasi Peduli Bencana Sumatra yang terus diperkuat.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Juliantono, dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Intervensi Transisi Pemulihan Pascabencana Sumatra yang digelar di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Jakarta, Jumat (2/1). Rakor tersebut dipimpin oleh Menko PMK Pratikno bersama Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar. Sejumlah menteri turut hadir, antara lain Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri UMKM Maman Abdurahman, serta menteri dan wakil menteri terkait lainnya.
Dalam paparannya, Menkop Ferry mengungkapkan bahwa bencana alam yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat berdampak signifikan terhadap koperasi di daerah tersebut. Khusus di Sumatra Utara, banjir dan tanah longsor menyebabkan kerugian koperasi mencapai Rp37,72 miliar. Selain itu, terdapat sembilan koperasi mitra LPDB yang terdampak dengan total kerugian Rp20,66 miliar, terdiri dari lima koperasi di Aceh dan empat koperasi di Sumatra Utara.
Untuk menindaklanjuti kondisi tersebut, Kemenkop melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) telah menetapkan kebijakan restrukturisasi pembiayaan bagi koperasi terdampak bencana. Langkah ini diambil untuk meringankan beban koperasi sekaligus menjaga keberlanjutan usaha. “LPDB telah memberikan restrukturisasi berupa grace period dan perpanjangan tenor hingga 60 bulan. Selanjutnya akan dilakukan monitoring secara berkala agar kegiatan usaha koperasi tetap berjalan,” jelas Ferry.
Selain dukungan pembiayaan, Kemenkop juga telah menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui Gerakan Koperasi Peduli Bencana Sumatra. Bantuan tersebut meliputi kebutuhan dasar seperti pembalut wanita, hygiene kit, toilet portabel, alat penyulingan air, mainan anak, paket makanan bayi, mushaf Al-Qur’an, hingga kain kafan. Total donasi yang berhasil dihimpun mencapai Rp1,86 miliar. “Kami akan terus menambah anggaran untuk mendukung kegiatan Gerakan Koperasi Peduli Bencana ini,” tegas Menkop Ferry.
Posko Pemulihan di Beberapa Wilayah
Sebagai langkah lanjutan pemulihan, Kemenkop bersama gerakan koperasi akan mendirikan posko-posko pemulihan di Aceh Tamiang, Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Agam. Posko ini akan menjadi pusat distribusi bantuan sekaligus tempat konsolidasi berbagai pihak dalam mengaktifkan kembali usaha koperasi yang terdampak. “Posko tersebut akan membantu memulai kembali kegiatan produksi dan usaha koperasi, termasuk penyediaan suplai kebutuhan bagi hunian tetap sementara,” ujarnya.
Menkop Ferry juga menekankan pentingnya pendataan pascabencana yang akurat dan terintegrasi. Menurutnya, basis data yang presisi sangat diperlukan agar program pemulihan dapat berjalan cepat dan tepat sasaran. “Pendataan harus menjadi perhatian utama setelah masa darurat. Jika tidak, kita akan terus mengulang proses pendataan yang sama,” tambahnya.
Fokus pada Penguatan Koperasi
Ke depan, Kemenkop akan memprioritaskan pembangunan gerai, gudang, serta sarana pendukung lainnya bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang terdampak. Selain itu, koperasi akan mendapatkan pendampingan pemulihan usaha dan penguatan kelembagaan agar kembali berfungsi sebagai penggerak ekonomi masyarakat. “Kami bersama kementerian terkait akan mengumpulkan koperasi-koperasi di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh untuk kembali memulai aktivitas usaha, sekaligus membantu masyarakat yang terdampak bencana,” pungkas Menkop Ferry.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar