Kopi Mangrove, Inovasi Ekonomi Baru dari Pesisir Sapeken

Kopi Mangrove, Inovasi Ekonomi Baru dari Pesisir Sapeken

Inovasi Pemuda Pagerungan Besar dalam Mengolah Biji Mangrove Menjadi Kopi

Pemuda Desa Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, kembali menunjukkan kreativitasnya dengan mengembangkan inovasi ekonomi berbasis potensi alam pesisir. Mereka berhasil mengolah biji mangrove menjadi varian kopi baru yang mulai diminati masyarakat.

Inisiatif ini dikembangkan oleh beberapa kelompok karang taruna, seperti Karang Taruna Persada, Laskar Obor, dan Karang Taruna Bina Muda Berkarya. Proses pengolahan ini didukung oleh Kangean Energy Indonesia (KEI) serta pendampingan IkamatKeSEMaT. Dari awal hingga akhir, setiap tahap proses pengolahan biji mangrove diperhatikan agar bisa menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi.

Rasa dan Aroma Kopi Mangrove yang Unik

Kopi mangrove memiliki rasa yang lembut dan aroma mirip cokelat. Hal ini membuat produk ini menarik minat konsumen. Ketua Karang Taruna Laskar Obor Pagerungan Besar, Imran, menjelaskan bahwa pohon mangrove di wilayah tersebut sangat melimpah. Selain berfungsi sebagai pelindung pantai, mangrove juga memiliki potensi ekonomis jika diolah dengan tepat.

"Jadi kita manfaatkan untuk menjadi kopi. Manfaatnya banyak dan juga baik untuk kesehatan," ujar Imran saat ditemui berita, Selasa (9/12/2025). Ia menambahkan bahwa biji mangrove diolah melalui proses penghalusan menggunakan alat khusus. Setelah menjadi bubuk, kopi mangrove dapat diseduh dan dinikmati layaknya kopi biasa.

Dukungan dari Kangean Energy Indonesia (KEI)

Imran menyampaikan bahwa kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh dari Kangean Energy Indonesia (KEI). Bahkan, ada pendampingan langsung bagaimana cara mengolah biji mangrove yang awalnya tidak bernilai menjadi produk bernilai ekonomi bagi masyarakat.

"Kami praktik langsung dari awal sampai bisa diminum. Ini sangat bermanfaat dan kami berharap bisa terus berkembang hingga menembus pasar, khususnya di Sumenep," harapnya.

Karakteristik Mangrove di Pagerungan Besar

Ferry Agung Istiasmara, mentor dari Ikamat (Inspirasi Keluarga KeSEMaT) Semarang Jawa Tengah yang membina kelompok pemuda ini, menyampaikan bahwa mangrove di Pagerungan Besar memiliki karakter khas. Jenisnya apiculata, berlumour, dan berkarang. Selain sebagai pelindung dari abrasi, mangrove ini bisa menjadi tambahan ekonomi masyarakat di pulau-pulau Sumenep.

Proses pembuatan kopi mangrove ini ternyata cukup panjang. Biji mangrove harus direndam selama tiga hari dengan air bersih dan dicampur kapur untuk mengurangi kadar tanin. Air rendaman juga harus diganti setiap enam jam. Setelah itu, isi buah bakau dijemur di bawah terik matahari hingga kering. Bagian yang dijadikan kopi adalah "pentol" dari buah mangrove.

Proses Pembuatan yang Cepat dan Efisien

"Selain menjaga lingkungan pesisir, ekonomi juga jalan. Setelah dijemur, prosesnya cepat, sekitar 20 menit sudah bisa menjadi kopi dan langsung diminum," terang Ferry.

Inovasi ini tidak hanya memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir. Dengan memanfaatkan potensi alam yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal, pemuda Pagerungan Besar menunjukkan bahwa inovasi dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan