Korban banjir bandang di Malalak kembali ditemukan saat alat berat normalisasi sungai

Korban banjir bandang di Malalak kembali ditemukan saat alat berat normalisasi sungai
Ringkasan Berita:
  • Satu korban banjir bandang di  Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam kembali ditemukan, Sabtu (3/1/2026)
  • Korban diidentifikasi berusia 6 tahun bernama Aqila
  • Saat ini masih ada 2 korban banjir bandang  di  Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur yang terjadi Rabu (26/11/2025) sore silam belum ditemukan

nurulamin.pro, PADANG-Tim gabungan kembali menemukan satu korban banjir bandang di kawasan Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), Sabtu (3/1/2026).

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan dievakuasi oleh petugas gabungan menggunakan terpal berwarna biru. 

Informasi yang diterima nurulamin.promenyebutkan, korban berjenis kelamin perempuan dengan usia sekitar 6 tahun.

Penemuan jasad tersebut dibenarkan Camat Malalak, Ulya Satar, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon. 

Ia mengatakan korban ditemukan sekitar pukul 13.30 WIB saat alat berat tengah melakukan upaya normalisasi aliran sungai pascabanjir bandang.

“Benar, satu korban banjir bandang kembali ditemukan di Jorong Toboh sekitar pukul 13.30 WIB. Korban ditemukan saat alat berat yang bekerja menormalisasi sungai tidak sengaja membongkar timbunan tanah, dan di dalamnya terdapat jasad korban,” ujar Ulya.

Setelah ditemukan, jasad korban langsung dievakuasi oleh tim gabungan relawan, aparat, dan masyarakat setempat menuju rumah duka untuk disemayamkan.

Ulya menyebutkan, korban diketahui bernama Aqila, seorang anak perempuan yang merupakan warga setempat. 

Identifikasi dapat dilakukan dengan cepat karena sebelumnya masih terdapat tiga warga Jorong Toboh yang dilaporkan hilang akibat banjir bandang tersebut.

“Di Jorong Toboh sebelumnya masih ada tiga orang yang dinyatakan hilang, yakni Aqila, adiknya yang berusia sekitar satu tahun, serta seorang perempuan paruh baya. Dari ciri-ciri yang ditemukan, mengarah kepada Aqila,” jelasnya.

Dengan ditemukannya korban ini, proses pencarian terhadap korban banjir bandang di wilayah tersebut masih terus dilanjutkan oleh tim gabungan, khususnya terhadap dua warga lainnya yang hingga kini masih dinyatakan hilang.

Ada 14 Korban Jiwa

Banjir bandang melanda kawasan Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Rabu (26/11/2025) sore silam.

Aliran air deras membawa tumpukan material berupa lumpur, batu, dan kayu, hingga menghantam rumah-rumah warga. 

Sejumlah bangunan mengalami kerusakan cukup parah akibat terjangan material tersebut.

Sebelumnya, korban yang meninggal akibat banjir bandang di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak berjumlah 14 orang. 

Tiga orang dilaporkan hilang. 

Dengan ditemukannya satu korban tadi siang, maka di Jorong Toboh masih ada 2 warga lagi yang belum ditemukan. 

Detik-Detik Banjir Bandang Malalak

M Rizal warga Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam mendengar bunyi truk bongkar muatan jelang banjir bandang yang menghilangkan belasan warga setempat.

Kejadian nahas itu berlangsung pada Rabu (26/11/2025), sekira pukul 15.45 WIB saat ia bersama keluarganya berada di rumah.

Sebelum kejadian hujan deras memang menerjang kawasan itu, lebih dari sepekan hujan terjadi.

Hanya saja, pada saat kejadian, hujan di daerah itu sempat mereda, Rizal coba melihat-lihat kondisi di sekitar rumahnya.

“Saya berdiri di luar, kebetulan anak saya mau pergi memancing karena hujan agak reda,” ujarnya saat ditemui di posko pengungsian, Sabtu (29/11/2025).

Melihat anaknya hendak pergi, Rizal awalnya sudah tidak enak hati, tapi anaknya tetap memilih untuk memancing.

Beberapa waktu saat anaknya membawa sepeda motor, terdengar dari kejauhan oleh Rizal bunyi truk melintas.

Suara itu, memang suara familiar baginya, tapi agak berbeda ketika suara truk itu dilanjutkan dengan bunyi bongkaran batu yang saling beradu.

“Bunyinya cukup deras, agak terkejut saya. Tapi dilihat di sekitar awan masih mendung. Tapi tiang listrik banyak yang sudah rebah, kabel semrawutan,” ujarnya.

Benar saja hanya berjarak beberapa menit dari suara itu muncul air cokelat pekat di depan rumahnya.

Rizal kaget bukan kepalang, ingatannya langsung menuju pada anaknya yang baru saja pamit mancing.

Ia masuk ke dalam rumah dan melihat kondisi di sekitar, ternyata batu, lumpur, pohon sudah berpacu mengejar rumah warga di Jorong Toboh.

“Saya tidak percaya, kondisinya tak pernah terbayangkan,” ujarnya.

Suara minta tolong bersahutan terdengar, satu persatu rumah mulai dilahap banjir bandang.

Rizal menyangka anaknya turut terdampak karena baru saja keluar, tapi di teras rumah ia kembali tenang.

Anaknya ternyata selamat dan sempat berlari ke tempat aman, sawah di bagian samping rumah.

“Untuk anak selamat, saya sudah pasrah padahal,” ujarnya.

Di sisi lain, masyarakat terus berusaha menyelamatkan diri, kebanyakan lari dengan tenaga seadanya dan semampunya.

Warga pun berlari meraih tempat yang lebih tinggi dan aman.

Kisah yang tak jauh beda juga dialami  Mailis (71).

Rabu (26/11/2025) menjadi sore yang mencekam bagi warga Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat itu.

Suara gemuruh sekejap memecah sore yang dilanda hujan. 

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, patahan kayu, batu dan air meluncur deras, menghantam puluhan rumah warga Malalak Timur.

Di antara kepanikan dan kesedihan ada seorang pria bernama Mailis (71) berhasil selamat dari banjir bandang yang menerjang.

Mailis berjalan dibantu tongkat dari kayu perlahan serta memakai sarung memasuki posko pengungsian di Masjid Nurul Iman, Bukit Malanca, Sabtu (29/11/2025).

Ia menceritakan nasib baik dan buruk yang diterimanya bersama istri.

“Alhamdulillah saya selamat bersama istri tapi tidak ada yang  bisa diselamatkan selain baju yang melekat di badan,”katanya.

Banjir bandang menerjang seisi rumah hingga lumpur ada di mana-mana bahkan material lain seperti kayu dan batu juga bersepihan dimana-mana.

Mailis tidak menyangka akan ada banjir bandang separah ini.

Kayu dan batu berukuran besar berserakan menghantam rumah warga hingga ada yang rusak.

“Saya mendengar dentuman keras kemudian lumpur menghantam rumah dan tanah bergetar, kami lari ke tempat aman menyelamatkan diri,”jelasnya dengan suara yang parau.

Mailis bersama istri sudah mengungsi sekitar tiga hari di Masjid Nurul Iman bersama warga terdampak lainnya.

Bantuan makanan dan baju bekas perlahan sudah berdatangan hingga bisa dimanfaatkan.

“Dalam bencana ini juga memakan korban jiwa sekitar 10 orang meninggal dan 6 orang masih belum ditemukan sampai saat ini,”jelasnya.

Ia berharap orang yang hilang bisa ditemukan segera dan bencana ini cepat usai.

“Saya hanya pasrah ini kehendak Tuhan yang jelas harus selalu berdoa dan bersyukur,”tutupnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan