Korban Bencana Aceh Tamiang Terpaksa Minum Air Banjir Karena Tak Dapat Bantuan

Kondisi Mengerikan di Aceh Tamiang Akibat Banjir Bandang

Aceh Tamiang kini berada dalam situasi yang sangat memprihatinkan akibat banjir bandang yang melanda kawasan tersebut. Seluruh wilayah terisolasi, dengan 206.903 warga terpaksa mengungsi dan 18 orang dilaporkan meninggal dunia. Akses ke lokasi bencana telah terputus, sehingga penyelamatan dan distribusi bantuan semakin sulit.

Warga Menghadapi Kelaparan dan Kehausan

Banyak warga Aceh Tamiang terpaksa bertahan hidup dengan makanan sisa yang hanyut oleh air banjir. Mie instan basah, makanan rusak, atau apa pun yang bisa dimasak menjadi pilihan terakhir untuk bertahan hidup. Situasi diperparah dengan tidak adanya akses air bersih, sehingga banyak warga harus merebus air banjir untuk digunakan sebagai minuman.

“Kami sudah tiga hari tidak makan. Apa pun yang kami temukan, kami rebus dan makan. Untuk minum, kami rebus air banjir itu. Tidak ada pilihan lain,” ujar Muhammad Irwan, seorang jurnalis Transmedia yang juga menjadi korban banjir.

Bantuan Masih Belum Menyentuh Wilayah Terdampak

Meski beberapa laporan menyebutkan bahwa bantuan logistik telah dibawa oleh aparat, termasuk oleh Kapolda Aceh melalui helikopter, Irwan menegaskan bahwa tidak ada satu pun bantuan yang sampai ke wilayah tempat ia dan warga lain bertahan. Luasnya area terdampak dan banyaknya desa yang putus akses membuat distribusi bantuan menjadi sangat terhambat.

Kelaparan yang semakin parah memaksa warga berbondong-bondong menuju sebuah swalayan yang sebelumnya hancur dihantam banjir. Makanan apa pun yang masih bisa ditemukan di antara rak-rak yang roboh langsung diambil untuk sekadar menyambung hidup.

Komunikasi dan Listrik Lumpuh

Situasi di Aceh Tamiang diperburuk dengan hilangnya jaringan komunikasi. Tidak ada sinyal ponsel sejak listrik padam akibat terjangan banjir. Untuk mengirim laporan dan mencari koneksi internet, Irwan harus menempuh perjalanan ke Kota Langsa. Namun pada Selasa (2/12/2025) pagi, Langsa kembali mengalami pemadaman listrik sehingga komunikasi pun kembali terputus.

“Di Aceh Tamiang sinyal tidak ada karena lampu mati. Untuk mencari sinyal, saya harus ke Langsa, dan di sana pun sekarang mati lampu juga,” jelasnya.

Kondisi ini membuat upaya koordinasi penyelamatan dan penyaluran bantuan semakin sulit. Banyak warga tidak dapat menghubungi keluarga, melapor kondisi, atau meminta pertolongan.

Kondisi Terus Memburuk

Setelah berhari-hari terisolasi, Aceh Tamiang kini berada dalam situasi kritis. Warga masih bertahan dengan makanan seadanya, minum dari air banjir, dan hidup tanpa listrik, tanpa sinyal, serta tanpa kepastian kapan bantuan akan tiba. Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya dampak banjir bandang yang melanda kawasan tersebut.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan