Korban Longsor Sepak Bola Sumedang Ceritakan Detik-Detik Mengerikan

Korban Longsor Sepak Bola Sumedang Ceritakan Detik-Detik Mengerikan

Pengalaman Korban Selamat Longsor Proyek Mini Soccer

Beberapa detik yang terasa seperti tak berujung, tanah dan batu mulai menghancurkan segala sesuatu di sekitar. Saat itu, para pekerja proyek pembangunan lapangan minisoccer di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang sedang menjalani tugas mereka. Tiba-tiba, tebing di sekitar lokasi longsor, menimbun enam orang pekerja.

Dari keenam korban tersebut, dua orang berhasil selamat. Mereka adalah Ahmid (71) dan Dian (41). Keduanya kini masih menjalani perawatan medis intensif di Rumah Sakit Universus Padjadjaran (RS Unpad) Jatinangor. Meski mengalami luka gores dan syok akibat kejadian maut tersebut, kondisi Ahmid mulai membaik dan sudah bisa berbicara dengan petugas medis.

Ahmid menceritakan pengalamannya saat tebing ambrol. Ia mengatakan bahwa saat itu suasana menjadi gelap dan hanya terdengar teriakan minta tolong dari para korban lainnya. Ia mengaku sangat pedih untuk menceritakan kembali kejadian tersebut, namun ia juga menyadari bahwa ini adalah pelajaran penting baginya. Allah SWT masih memberinya kesempatan hidup.

“Waktu ambruk itu gelap. Semua korban minta tolong, suaranya kedengaran sama yang lain,” ujarnya dengan suara bergetar dan air mata yang menetes.

Ahmid mengakui bahwa dirinya tidak pernah menyangka bisa selamat dari peristiwa maut tersebut. Saat tertimbun tanah, ia merasa pasrah dan menyerahkan sepenuhnya hidup dan mati kepada Allah SWT.

“Saya enggak mengira bisa selamat. Sudah pasrah saja, saya serahkan semuanya kepada Allah,” katanya.

Ahmid juga menyebutkan bahwa semua korban yang meninggal dunia merupakan rekan kerjanya sendiri. Hubungan mereka bukan sekadar sesama pekerja, melainkan sudah seperti keluarga. “Semuanya yang meninggal, saya kenal semua. Semuanya teman,” ucapnya.

Menurut informasi yang diperoleh, Ahmid bekerja sebagai buruh harian di proyek tersebut, bukan pekerja borongan. Ia mengatakan bahwa dulu ia bekerja kontrak, namun sekarang hanya sebagai buruh harian. “Pekerjaannya harian, bukan borongan,” katanya.

Saat ditanya apa yang terlintas dalam pikirannya ketika tertimbun longsor, Ahmid mengatakan bahwa dirinya hanya mengingat Allah dan anaknya, Dian. “Saya enggak ingat siapa-siapa. Ingat sama Allah saja, dan ingat anak saya. Anak saya anak-anaknya masih kecil-kecil, kalau enggak ada bapaknya, kebayang,” tuturnya.

Peristiwa longsor tersebut terjadi pada Jumat (2/1/2026) siang. Tebing di lapangan minisoccer di Desa Cisempur ambrol, menimbun enam orang pekerja proyek pembangunan tembok penahan tanah di kawasan perbukitan kaki Gunung Geulis. Dua orang berhasil diselamatkan, sementara empat korban lainnya meninggal dunia. Seluruh korban telah berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan