
Peristiwa Kudeta Gagal di Benin dan Upaya Pemulihan
Di kota Cotonou, ibu kota ekonomi Benin, situasi telah kembali tenang setelah terjadi upaya kudeta yang gagal pada akhir pekan lalu. Militer Benin sedang memburu sejumlah tentara yang terlibat dalam insiden tersebut. Sejauh ini, sedikitnya 12 pelaku kudeta telah ditangkap, sementara seluruh sandera, termasuk dua perwira senior, telah dibebaskan.
Pada Senin (8/12/2025), sumber militer loyalis mengungkapkan bahwa semua sandera telah dilepaskan. Hal ini menunjukkan bahwa pihak berwenang berhasil mengatasi ancaman yang muncul dari kelompok yang mencoba menggulingkan pemerintahan.
Presiden Benin Mengklaim Kontrol Situasi
Presiden Benin, Patrice Talon, tampil di televisi pada Minggu malam dan menyatakan bahwa situasi di negara itu sepenuhnya terkendali. Talon, yang akan mengakhiri masa jabatannya pada April 2026 sesuai batas maksimal dua periode kepemimpinan, menggarisbawahi pentingnya menjaga stabilitas negara.
Selama beberapa tahun terakhir, Benin menghadapi gangguan keamanan dari kelompok pemberontak di wilayah utara. Namun, kini situasi tampak lebih stabil setelah upaya kudeta gagal.
Bentrokan Bersenjata dan Korban Jiwa
Dalam peristiwa tersebut, terjadi bentrokan bersenjata antara pelaku kudeta dan Garda Republik di kediaman presiden di Cotonou. Insiden ini menimbulkan korban di kedua pihak. Salah satu korban tewas adalah Kepala Staf Militer Presiden, Jenderal Bertin Bada, beserta istrinya dalam peristiwa terpisah.
Nigeria, negara tetangga Benin, merespons cepat dengan mengirimkan pasukan dan meluncurkan serangan militer ke Cotonou pada Minggu malam. Selain itu, dukungan militer juga datang dari blok regional Afrika Barat, ECOWAS.
Penangkapan dan Pencarian Pelaku Kudeta
Seorang sumber militer mengungkapkan bahwa jumlah pasti pelaku kudeta yang terlibat maupun yang masih buron belum bisa dipastikan. Namun, sejumlah pelaku diduga melarikan diri ke wilayah pedesaan. "Pencarian masih berlangsung," ujar sumber tersebut, seraya menambahkan bahwa beberapa penangkapan telah dilakukan.
Sumber lain menyebutkan bahwa sekitar 12 orang telah ditahan. Namun, pemimpin kudeta, Letnan Kolonel Pascal Tigri, masih dalam pelarian. Sementara itu, dua perwira tinggi yang sebelumnya disandera—Kepala Staf Angkatan Darat Abou Issa dan Kolonel Faizou Gomina—sudah dibebaskan pada malam hari.
Dukungan Regional dan Internasional
ECOWAS menyatakan bahwa pasukan dari Ghana, Pantai Gading, Nigeria, dan Sierra Leone dikerahkan ke Benin untuk membantu menjaga ketertiban konstitusional. PBB, Uni Afrika, dan Perancis selaku mantan penguasa kolonial turut mengecam upaya kudeta Benin.
Persiapan Pemilu dan Kritik terhadap Kepemimpinan
Menurut konstitusi, Talon tidak diperkenankan mencalonkan diri kembali. Menteri Keuangan Romuald Wadagni disebut sebagai calon kuat dalam pemilu presiden mendatang yang dijadwalkan pada April 2026. Namun, partai oposisi utama, Demokrat, tidak diizinkan ikut pemilu karena dianggap tidak memenuhi persyaratan administratif.
Dalam pernyataan yang dikirim ke AFP, partai tersebut mengecam upaya kudeta dan menegaskan penolakan terhadap segala bentuk perebutan kekuasaan secara paksa. “Peristiwa keji dan tragis ini kembali menegaskan pentingnya semua aktor politik untuk mengedepankan dialog,” bunyi pernyataan partai Demokrat.
Kritik atas Gaya Kepemimpinan
Meskipun dikenal berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi, Patrice Talon mendapat kritik atas gaya kepemimpinannya yang dinilai semakin otoriter. Sejak merdeka dari Perancis pada 1960, Benin mengalami serangkaian kudeta dan percobaan kudeta militer.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar