Diskusi Buku Antologi Puisi Sunda “Tihang” di Ciamis
Diskusi buku antologi puisi bahasa Sunda Tihang menjadi salah satu peristiwa sastra yang menutup tahun 2025 di Ciamis dengan intensitas intelektual yang tinggi. Buku ini, yang memuat gagasan “kukulutus” sebagai sikap puitik, dibahas dalam Majelis Sore dan Malam (Marlam) yang digelar Rumah Koclak Ciamis pada Selasa, 30 Desember 2025, bertempat di Cafe Qitrie, Kompleks Gedung Pramuka Ciamis. Meski diguyur hujan, diskusi berlangsung hangat, intim, dan justru memunculkan perdebatan yang tajam antarpeserta.
Tihang sendiri merupakan antologi puisi bahasa Sunda yang pertama kali rilis pada November 2025. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Malire dengan ISBN 9786340450941 dan didistribusikan oleh Rumah Koclak Ciamis.
Sebelum dibahas di Ciamis, Tihang telah lebih dulu didiskusikan dalam Pekan Realisme Magis Sesi Botram di Toko Buku Pelagia, Bandung, pada Sabtu sore, 27 Desember 2025. Rangkaian diskusi ini menandai bahwa buku tersebut tidak hanya hadir sebagai artefak sastra, tetapi juga sebagai teks yang memancing pembacaan lintas disiplin dan lintas perspektif.
Dalam Marlam tersebut hadir sejumlah tokoh muda sastra Tatar Galuh yang berpengaruh dalam perkembangan sastra Indonesia kontemporer. Di antaranya pasangan sastrawan Toni Lesmana dan Wida Waridah, kritikus sastra Cep Subhan KM, dosen Universitas Islam Darusalam Ciamis sekaligus filsuf Fahmy Farid Purnama, Rifki Syarani Fachry dosen Institut Nahdlatul Ulama, Dani Ebell Jamaludin seniman dan aktivis pendidik alternatif di Ciamis, anggota komunitas Amorfati, mahasiswa, serta pegiat sastra lainnya. Keberagaman latar belakang ini membuat diskusi tidak berjalan satu arah, melainkan penuh silang pendapat, bahkan saling menegasikan.
Acara diawali dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas perjumpaan dan keberlangsungan ekosistem sastra di Ciamis. Setelah itu, diskusi mengalir dengan pembacaan puisi, pengantar kritik, dan perdebatan terbuka yang menjadikan Tihang sebagai pusat tarik-menarik gagasan.
Sekilas Proses Kepenyairan Willy Fahmy Agiska: Dari Urbanisasi hingga Bahasa Ibu
Willy Fahmy Agiska bukan nama asing dalam dunia sastra Indonesia. Pemuda asal Kawali, Ciamis, ini telah meraih berbagai penghargaan, di antaranya Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia (HPI) 2019 untuk buku Mencatat Demam (2018). Beberapa puisinya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Korea, menegaskan posisinya sebagai sastrawan muda yang diakui secara nasional.
Dalam diskusi Marlam, Willy memaparkan proses kepenyairan Tihang yang dimulai sejak tahun 2020, bersamaan dengan penulisan antologi Unboxing. Dari 23 puisi yang termuat dalam Tihang, puisi pertama yang ditulis adalah “Har”. Ia mengungkapkan bahwa sebenarnya unsur “kukulutus”—mengumpat, mengeluh, meluapkan kemarahan—sudah hadir dalam Unboxing. Namun karena ditulis dalam bahasa Indonesia, ekspresi tersebut mengalami eufemisme. Dalam Tihang, kukulutus hadir lebih telanjang, sarkas, dan ekspresif.
Prinsip kepenyairan Willy masih sama: menggunakan bahasa lisan sehari-hari, tetapi disampaikan dengan nalar puisi. Baginya, bahkan kata-kata yang dianggap menjijikkan pun dapat menjadi puisi jika ditempatkan dalam sistem puitik yang tepat. Bahasa Sunda memberinya ruang untuk melompat secara nalar dan karakter, sementara bahasa Indonesia ia rasakan cenderung linear karena sering digunakan dalam ruang-ruang formal.
Proses penulisan Tihang juga tidak lepas dari goncangan identitas akibat perpindahan ruang hidup. Willy lahir dan tumbuh besar di Kawali, Ciamis, kemudian menempuh pendidikan dan perkembangan intelektual di Bandung, lalu bekerja di Jakarta dengan segala karakter urbanitasnya. Pengalaman sebagai manusia urban yang berpindah-pindah tempat ini melahirkan keterasingan sekaligus ledakan ekspresi. Ia merasa banyak peristiwa dan emosi yang tidak bisa diwadahi bahasa Indonesia, tetapi justru menemukan bentuknya dalam bahasa Sunda.
Awalnya, antologi ini akan diberi judul Manifesto Kukulutus, diambil dari puisi terakhir dalam buku tersebut. Namun Willy merasa frasa itu terlalu “memenjarakan” imajinasi pembaca, karena isi bukunya memang sudah kukulutus. Setelah kembali “ngalenyepan” puisi “Tihang”—yang kemudian menjadi judul buku—ia merasa kata tersebut memiliki makna yang lebih luas.
Tihang mencerminkan sikap ingin “lempeng” atau lurus saja dalam menghadapi kondisi sosial yang membuatnya kukulutus, meski pada akhirnya ia menyadari bahwa kelurusan itu sendiri tak pernah sepenuhnya mungkin.

Perdebatan dalam Diskusi: Bahasa, Kelas, Psikologi, dan Eksistensi
Diskusi Tihang menjadi menarik karena tidak berhenti pada apresiasi, tetapi berkembang menjadi polemik. Cep Subhan KM, yang memberi pengantar pembacaan, melihat penggunaan bahasa Sunda keseharian dengan cara ungkap yang “pok torolong” atau to the point sebagai upaya mengembalikan bahasa Sunda yang egaliter. Di mana, sebelum Sunda dikuasai Mataram, bahasa Sunda tidak mengenal sistem kelas yang kaku. Puisi Willy terasa sangat dekat dengan pembaca karena bahasanya akrab dan tidak berjarak.
Cep Subhan juga mengungkapkan pengalamannya menerjemahkan puisi Sunda Willy yang dibacakan dalam acara Nyiar Lumar. Ia menyatakan bahwa ada sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia, yakni atmosfer dan nada atau bunyi kata. Ia bahkan menilai bahwa dengan gaya bahasa Willy, anak-anak muda hari ini pun bisa terdorong menulis puisi dengan bahasa keseharian mereka. Ia merujuk pada majalah Mangle edisi terbaru yang menunjukkan perubahan penggunaan bahasa Sunda ke arah yang lebih cair.
Toni Lesmana, yang bertindak sebagai moderator sekaligus founder Rumah Koclak, menyoroti aspek visual dan referensial. Ia menilai sampul buku Tihang yang menggunakan kolase karya Muhammad Rafi sangat selaras dengan isi puisinya. Toni teringat pada buku Wasiat Konglomerat karya Taufik Faturohman, serta novel Panganten karya Deden Abdul Azis yang menggambarkan kehidupan manusia urban dengan segala keganjilannya.
Rika Jo melihat dari sudut pandang psikologi. Ia menilai sikap Willy yang memilih Tihang dan kukulutus menunjukkan ego yang tegak dan keras kepala, tetapi sadar konflik. Penggunaan benda sebagai objek puisi dibaca sebagai bentuk anti-antropo sentrisme psikis, yakni upaya melepaskan manusia sebagai pusat ekspresi emosi. Dalam kerangka psikologi, hal ini dapat dipahami sebagai displacement kritis atas superego kolektif—cara cerdas menyalurkan kemarahan melalui humor dan metafora benda. Rika juga menafsirkan hal tersebut sebagai kesadaran eksistensial atas absurditas keterasingan manusia modern.
Namun perdebatan memanas ketika Fahmy Farid Purnama menyampaikan kritiknya. Ia menilai bahwa karya Willy tidak benar-benar mendobrak kelas atau mengembalikan egalitarianisme sebagaimana disebut Cep Subhan. Menurut Fahmy, puisi-puisi dalam Tihang hanya bergerak dalam satu segmen. Ia bahkan menyebut sikap puitik Willy sebagai “pengecut”, karena kukulutus-nya lebih banyak diarahkan pada benda-benda, bukan langsung kepada subjek manusia. Dari 23 puisi, hanya satu puisi berjudul “Kepada Zulfa” yang secara frontal menyasar manusia. Dalam puisi-puisi lainnya, benda-benda justru diberi nilai emosional.
Pendapat ini diperluas oleh Rifki Syarani Fachry yang menyebut Willy sebagai sosok “placeless”. Menurutnya, karena tidak sepenuhnya berakar pada satu tempat, benda-benda menjadi objek relasi yang lebih aman. Masalah relasi ini membuat hubungan masa lalu menjadi lebih kuat dan abstrak, sementara mempertahankan relasi menjadi lebih penting daripada membangun interaksi baru dengan manusia di sekitarnya.
Rika mencatat bahwa dari 23 puisi dalam Tihang, terdapat enam puisi yang menggunakan diksi yang bermakna atau mendekati makna kematian. Ia menafsirkan hal ini sebagai bentuk kecemasan atas ketidakpastian kontrol yang dimiliki Willy sebagai manusia urban yang terus berpindah tempat, sekaligus sebagai bentuk isolasi dari energi relasional.
Di sisi lain, Dani Ebell Jamaludin justru melihat puisi-puisi Willy sebagai sesuatu yang sangat “Ciamis”. Meski mengalami urbanisasi, kata-kata yang digunakan tetap menunjukkan kekhasan daerah. Secara bunyi, puisi-puisi tersebut memiliki nada yang enak didengar dan dibaca, meski tidak bermain dengan rima secara konvensional. Namun Dani mengaku masih bingung menerjemahkan Willy dalam soal eksistensi dan cinta, karena cinta dalam puisi-puisinya tidak pernah merujuk pada sosok tertentu. Untuk menutup perjumpaan itu, Dani memilih lagu “Kondom” dari Doel Sumbang sebagai simbol ironi, humor, dan kegelisahan yang sejalan dengan semangat Tihang.
Diskusi Tihang menunjukkan bahwa antologi ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan medan tafsir yang terbuka. Kukulutus dalam karya Willy Fahmy Agiska tidak berdiri sebagai kemarahan tunggal, melainkan sebagai sikap puitik yang terus diperdebatkan. Dari bahasa, kelas, psikologi, hingga eksistensi, Tihang membuktikan bahwa sastra Sunda kontemporer masih memiliki daya gugah dan daya gugat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar