
Pengalaman Makan di Dapur Laiqa Tenggarong
Setelah sebelumnya mencicipi makanan khas Kutai di Samarinda, saya dan keluarga diajak oleh kakak ipar ke Tenggarong untuk mencoba hidangan khas daerah asalnya. Tujuan kami adalah ke rumah makan bernama Dapur Laiqa, yang katanya menyajikan makanan khas Kutai seperti jukut baong hombong.
Nama jukut baong hombong terdengar familiar, tetapi maknanya tidak begitu jelas. Jika dalam bahasa Sunda, jukut berarti rumput dan baong artinya nakal, maka jukut baong bisa diartikan sebagai "rumput nakal". Namun, dalam bahasa Kutai, jukut berarti ikan, baong berarti baung, dan hombong berarti diasap. Jadi, jukut baong hombong berarti ikan baung yang diasap.
Kami sangat antusias untuk mencoba hidangan ini karena sebelumnya belum pernah memakan ikan baung yang diasap. Sebelum membahas tentang kuliner, saya ingin sedikit menjelaskan tentang wilayah Kutai. Kutai adalah wilayah bersejarah di Kalimantan Timur yang dikenal sebagai lokasi Kerajaan Hindu tertua di Nusantara. Rajanya yang paling terkenal adalah Mulawarman, yang tercatat dalam prasasti Yupa, prasasti tertua di Indonesia.
Sekarang, nama Kutai merujuk pada beberapa wilayah administratif modern, termasuk Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kabupaten Kutai Barat. Tenggarong adalah ibu kota dari Kabupaten Kutai Kartanegara.
Pengalaman Makan di Dapur Laiqa
Kami tiba di Dapur Laiqa di Tenggarong untuk makan siang. Rumah makan ini memiliki nuansa pedesaan dengan bangunan rumah panggung sederhana yang berada di atas kolam dan dikelilingi pepohonan hijau. Saat pertama kali melangkah ke lantai kayu, saya merasa kaki saya menginjak kayu yang padat dan kokoh dengan warna coklat kehitaman.
Di sana, kami makan dengan duduk lesehan. Untuk mendapatkan ikan asap yang ingin kami pesan, disarankan untuk melakukan reservasi terlebih dahulu. Selain ikan baung, Dapur Laiqa juga menyediakan ikan patin dan ikan jelawat. Semuanya adalah jenis ikan sungai yang diasapi menggunakan alat khusus dan dibuat secara segar agar kesegarannya terjaga.
Saya diperbolehkan melihat proses pengasapan ikan tersebut. Menurut pegawai di sana, ikan-ikan tersebut diberi garam terlebih dahulu sebelum diasapi. Ketika jukut hombong dihidangkan, saya langsung tertarik melihat sajiannya. Ikan patin sudah biasa, tapi ikan baung dan ikan jelawat baru saja saya lihat.
Ikan baung memiliki kulit yang licin, sedangkan ikan jelawat memiliki tubuh yang bulat dan sisik besar. Hasil pengasapannya sangat baik, tidak terlalu kering dan matang sempurna. Saya mencicipi jukut hombong dan rasanya smoky dengan rasa asin yang cukup. Ikan baung terasa kenyal, sedangkan ikan jelawat bertekstur tebal dan padat.
Tanpa rempah-rempah, jukut hombong akan terasa monoton. Oleh karena itu, kami memesan cacapan, yaitu cocolan atau sambal yang sering disajikan bersama makanan khas Kutai. Kami memesan beberapa jenis cacapan, seperti cacapan empelan (mangga), cacapan kecombrang, cacapan belimbing (wuluh), dan cacapan perasan (irisan bawang merah dan cabe rawit yang diberi minyak).
Semua cacapan terasa sangat pedas dan memiliki rasa unik masing-masing. Cacapan membuat jukut hombong lebih enak, meskipun mulut terasa panas dan air mata keluar. Penggemar pedas pasti akan menyukai sambal ini.
Selain jukut hombong, kami juga memesan sayuran seperti labu santan dan tunu terong besantan. Keduanya adalah kuah bersantan yang mirip sayur lodeh, tetapi lebih ringan. Labu santan terdiri dari labu kuning, kacang panjang, dan daun kacang panjang, sedangkan tunu terong besantan berisi terong ungu bakar.
Menu lain yang unik adalah sanga cabek patin, yang disajikan menggunakan cobek hotplate. Isinya adalah leunca (takokak) dan suwiran daging ikan patin dengan bumbu tumis yang pedas. Rasanya sangat mantap.
Setelah makan utama selesai, kami menikmati makanan penutup yang bernama lempeng pisang. Bentuknya pipih seperti roti canai, dengan adonan campuran tepung dan pisang. Rasanya gurih dan manis, sehingga saya harus memesan tambahan karena terlalu enak.
Lingkungan dan Fasilitas
Hawa Tenggarong saat itu cukup panas, tetapi karena tempat makan berdinding terbuka dan berada di area terbuka yang luas, suasana tidak terlalu panas. Pemandangan air kolam yang dikelilingi pepohonan hijau membuat suasana menjadi lebih sejuk.
Selain makanan yang otentik, Dapur Laiqa juga menyediakan mushola sebagai fasilitas beribadah. Mushola ini unik karena letaknya di atas kolam dan menggunakan kayu ulin sebagai bahan utama. Kayu ulin dikenal sebagai kayu besi karena keras, kuat, dan awet. Warna kayu ulin pada bangunan mushola berwarna hitam alami.
Saya masuk ke dalam mushola untuk menunaikan shalat dan terkesan dengan interiornya. Sederhana, tapi unik. Lantai mushola terbuat dari kayu ulin berwarna coklat kehitaman, sama seperti lantai di tempat makan. Dindingnya juga dilapisi kayu ulin hitam yang dipernis.
Saya jadi berangan-angan, suatu hari ada ruangan di dalam rumah saya yang terbuat dari kayu ulin hitam, hehehe...
Kesimpulan
Itulah pengalaman saya dan keluarga makan di Dapur Laiqa Tenggarong. Kesan kami terhadap rumah makan ini sangat baik. Makanannya lezat dan otentik khas Kutai, terutama menu jukut hombong-nya. Selain itu, tempatnya pun unik dan asri. Senang rasanya bisa mencicipi menu khas Kutai di tempat asalnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar