
Kulkas Hidup di Babakan Ciparay
Warga di Babakan Ciparay, Kota Bandung, kini memanfaatkan pekarangan rumah sebagai “kulkas hidup”, istilah untuk kebun hidroponik yang menyediakan sayuran segar secara berkelanjutan sekaligus bernilai ekonomi. Di tengah padatnya pemukiman, sebuah rumah berhasil menyulap atap dan teras menjadi lahan urban farming hidroponik produktif, dengan pendapatan jutaan rupiah setiap bulan.
Usaha ini dirintis oleh Kelompok Bara Hidro Urban Farming sejak Mei 2023, dengan memanfaatkan ruang kosong yang sebelumnya tidak terpakai. Tiga greenhouse dibangun di rooftop dan teras rumah dengan total 2.200 netpot, yang secara rutin menghasilkan sayuran segar seperti pakcoy, selada, dan kangkung.
Mencari Cara untuk Maju
Ketua Bara Hidro Urban Farming, Dr Ir Kartib Bayu, MSi, menjelaskan bahwa kunci sukses ‘kulkas hidup’ di Babakan Ciparay adalah “Mencari satu cara untuk maju, bukan mencari seribu alasan untuk gagal”. Ia mengamati kegagalan banyak program pekarangan bukan karena lahan sempit, melainkan karena orientasi yang keliru. Banyak kegiatan berhenti sebagai proyek tanpa perhitungan pasar dan manajemen produksi yang jelas.
Berbeda dengan pertanian konvensional yang bergantung musim, hidroponik memungkinkan tanaman tumbuh dengan media air bernutrisi. Sistem ini dinilai lebih efisien, hemat air, dan cocok diterapkan di kawasan perkotaan.
Di Babakan Ciparay, panen dilakukan hingga delapan kali dalam sebulan, atau dua kali setiap pekan. Pola tanam dan panen diatur ketat agar pasokan tetap stabil. Sistem tertutup juga membuat tanaman lebih aman dari hama, sehingga penggunaan pestisida kimia bisa ditekan.
Penjualan Hasil Panen
Hasil panen dipasarkan ke toserba, kafe, toko sayur, hingga konsumen langsung. Harga jual rata-rata Rp10.500 per kemasan 250 gram dengan sistem konsinyasi. Dari skema ini, pendapatan kotor per bulan mencapai Rp5–6 juta.
“Permintaan sebenarnya ada. Yang sulit itu menjaga pasokan tetap rutin,” kata pengelola.
Tak hanya itu, limbah tanaman diolah menjadi pupuk organik cair dan padat, lalu dimanfaatkan kembali. Konsep ini menerapkan prinsip ekonomi sirkular, menekan biaya sekaligus ramah lingkungan.
Model Pemanfaatan Pekarangan
Model pemanfaatan pekarangan ini dinilai bisa diterapkan di banyak wilayah perkotaan di Jawa Barat, mulai dari hidroponik, budidaya jamur, tanaman herbal, hingga aquaponik.
Keberhasilan di Babakan Ciparay membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk produktif. Dengan teknologi, manajemen, dan orientasi pasar yang jelas, pekarangan rumah bisa menjadi sumber penghasilan nyata.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar