Inisiatif Pertandingan Persahabatan untuk Pembinaan Atlet Angkat Berat
Cabang olahraga angkat berat yang berada di bawah naungan NPCI Kota Bandung terus mencari solusi agar pembinaan atlet tetap optimal meskipun kompetisi resmi minim. Salah satu upaya nyata dilakukan melalui pertandingan persahabatan antar pengurus cabang (pengcab) yang diselenggarakan pada Rabu, 10 Desember 2025, di GOR PABBSI Jabar, Komplek Olahraga Pajajaran, Kota Bandung.
Kegiatan ini melibatkan 15 atlet dari lima daerah, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Bogor. Meski dalam format persahabatan, atmosfer kompetisi tetap terasa kuat. Para atlet tampil maksimal demi menguji kemampuan fisik, teknik, serta mental bertanding.
Keprihatinan atas Minimnya Kalender Pertandingan
Koordinator cabang olahraga angkat berat NPCI Kota Bandung, Usdi Permana, menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan atas minimnya kalender pertandingan resmi angkat berat di lingkungan olahraga disabilitas.
“Kalau bicara kejuaraan, cabang angkat berat ini sangat jarang dipertandingkan. Kadang setahun itu tidak ada sama sekali. Event besar seperti Peparda atau Peparnas pun hanya hadir empat tahun sekali. Karena itu kami berinisiatif membuat pertandingan persahabatan seperti ini agar atlet tetap punya panggung,” ujarnya.
Menurutnya, pertandingan semacam ini memiliki nilai strategis, bukan hanya sebagai ajang uji coba fisik, tetapi juga untuk menjaga semangat dan mentalitas bertanding para atlet. Terlebih, dalam laga ini banyak atlet baru yang turut ambil bagian.
“Banyak wajah baru yang kami turunkan. Mereka sangat butuh jam terbang. Kalau hanya latihan tanpa pertandingan, motivasi bisa turun. Dengan adanya pertandingan, mental mereka terasah, kepercayaan diri meningkat, dan mereka paham bagaimana mengelola tekanan saat tampil,” katanya.
Usdi berharap, kegiatan serupa tidak berhenti sebatas agenda insidental. Ia menargetkan pertandingan persahabatan bisa digelar secara rutin setiap tiga atau enam bulan.
“Saya ingin kegiatan seperti ini berjalan berkelanjutan. Bisa tiga bulan sekali, empat bulan, lima bulan, sampai enam bulan sekali. Intinya, atlet tidak jenuh hanya berlatih tanpa target bertanding,” tambahnya.
Program Pembinaan NPCI Kota Bandung
Hal senada disampaikan Ketua NPCI Kota Bandung, Yadi Sofyan. Menurutnya, uji coba ini merupakan bagian dari program pembinaan yang selama ini telah dirancang NPCI Kota Bandung, khususnya melalui konsep try out dan try in untuk seluruh cabang olahraga.
“Ini sebenarnya sudah masuk program kami. Tapi karena angkat berat itu kejuaraannya jarang, akhirnya kami mengambil inisiatif. Saya langsung berkoordinasi dengan Pak Usdi selaku koordinator cabor untuk mengundang pengcab lain datang latihan bersama di sini,” tutur Yadi.
Tak hanya berdampak pada peningkatan kualitas atlet, kegiatan ini juga menjadi alat ukur kekuatan antardaerah.
“Dengan hadirnya atlet dari kota dan kabupaten lain, kami bisa melihat sejauh mana kemampuan atlet kami dibanding daerah lain. Ini penting untuk menyusun strategi pembinaan ke depan,” jelasnya.

Tantangan dan Rencana Jangka Panjang
Lebih jauh, Yadi mengungkap tantangan besar yang saat ini dihadapi cabang angkat berat NPCI, yakni perubahan kebijakan klasifikasi atlet. Tidak lagi dipertandingkannya klasifikasi tuna rungu dan tuna netra di angkat berat berdampak signifikan terhadap jumlah atlet.
“Kota Bandung hampir kehilangan sekitar 25 persen dari total atlet yang terdaftar. Saat ini total atlet kami kurang lebih 200 orang. Jadi dampaknya cukup terasa,” ungkap Yadi.
Untuk menutup potensi kekosongan tersebut, NPCI Kota Bandung telah menyiapkan rencana seleksi terbuka guna menjaring atlet tuna daksa baru.
“Bukan mengurangi, tapi menambah. Kami akan menggelar seleksi terbuka untuk semua cabang olahraga. Siapapun yang berdomisili di Bandung, ataupun yang belum terdaftar di pengcab lain, kami buka peluang sebesar-besarnya,” tegasnya.
Selain program jangka pendek, NPCI Kota Bandung juga menyiapkan agenda jangka menengah dan panjang. Salah satunya adalah rencana menggelar kejuaraan berskala lebih besar seperti Wali Kota Cup yang minimal digelar setahun sekali.
“Nanti cabangnya bisa dipilih yang paling pas untuk momen wali kota cup. Bisa juga digilir, tahun ini beberapa cabor, tahun berikutnya cabor lain,” katanya.
Capaian Kejurda Jabar 2025
Yadi juga menyinggung capaian prestasi pada Kejurda NPCI Jawa Barat 2025, di mana Kota Bandung berhasil keluar sebagai juara umum. Meski begitu, ia menilai hasil tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan riil.
“Alhamdulillah hasilnya membanggakan. Tapi itu belum kekuatan sesungguhnya. Masih banyak atlet kami yang tidak turun, begitu juga dari daerah lain. Tapi paling tidak, ini menjadi gambaran bahwa pembinaan kami berjalan dengan baik,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh atlet dan pelatih yang telah berkontribusi. Tak lupa, pesan motivasi disampaikan langsung kepada para atlet agar terus menjaga konsistensi latihan dan semangat meraih prestasi.
“Bagi yang sudah meraih medali emas, pertahankan dan tingkatkan. Bagi yang belum berhasil, tetap fokus berlatih. Dalam olahraga prestasi, tidak ada hasil tanpa latihan dan keseriusan,” tutup Yadi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar