
Kehidupan Tiwi di Rumah Mewah
Di dalam ruangan yang mewah dan klasik, suasana terasa berbeda. TV pintar, speaker nirkabel, dan AC di dinding tampak agak rendah, sementara lampu hias jadul berada di sisi kiri-kanan. Sofa berwarna cream dengan motif U menghadap ke TV, ditemani bantal korsi coklat dengan motif batik. Tapi tidak ada siapa pun yang terlihat tenang. Ibu Tiwi, laki-laki yang sudah menikah, Bapa téréna, dan laki-laki yang sangat menarik.
Ibu Tiwi tertawa, “Mau menghabiskan waktu saja, ya?” dia bangun dengan wajah yang terlihat sedih.
Tiwi hanya menunduk. Tidak ada suara yang keluar.
Tiba-tiba, ia berdiri dan mengangkat gado anak perempuan satu-satunya. Wajah Tiwi terlihat jelas oleh cahaya. Namun, tangannya langsung menyentuh pipi Tiwi.
“Mah!” Bapa téréna berdiri, lalu memanggil ibunya ke kursinya. Diam-diam disuruh duduk.
“Sabar, Mah…”
“Wirang, Pah. Wirang!”
“Gugurkan saja!” kata laki-laki itu bersamaan.
“Dosa! Untuk mah eukeur Mamah tidak bisa mengambil, Mamah embung menambah lagi dosa. Jaba sudah lima bulan, sudah nyawaan.”
“Terus harus bagaimana?” Bapa téréna menghela napas, lalu melihat Tiwi, “Wi, jangan bicara. Jika begitu tidak ada solusi.”
Lalu Tiwi mengangkat kepalanya. Mengingat laki-laki yang sejak menikah ibunya dua tahun lalu, sangat ingin disebut Bapa olehnya. Laki-laki yang omongannya tidak terlalu bijaksana tapi memiliki sorot mata yang menarik. Sorot mata tajam yang siap menyerang kehidupan.
“Hhh…” Tiwi menghela napas.
Kemudian ia pindah ke laki-laki téréna. Mahasiswa kampus swasta yang ganteng, setiap pagi selalu membawakan ke sekolah.
“Hhh…” Tiwi bangun, ingin mencari tempat yang aman.
Berjalan ke laki-lakinya. Laki-laki tunggal yang tidak bisa dijadikan laki-laki.
Tiwi tiba-tiba berdiri, “uwwooork…” lalu berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan tangan.
“Haram jadah. Sudah lima bulan masih keneh u-o!” ibunya sudah ingin menyalahkan, tapi ditahan oleh Bapa téréna.
Pratiwi
Sukmawati. Telah ditinggalkan oleh Bapa saat berumur tujuh tahun. Anak yang asalnya tidak tahu bahagia dan membawa kebahagiaan tersebut dari awal menjadi kesedihan. Tidak seperti itu, bagi dirinya Bapa adalah satu-satunya orang, teman, dan gunung penopang. Dan ibunya sangat sibuk. Jarang di rumah, sebagai sekretaris perusahaan besar. Pergi sering, kembali sudah gelap. Seperti itu setiap kali bertemu minggu akhir pekan.
Itu terlalu banyak, pekerjaannya tidak ada waktu. Untuk Tiwi, Bapa adalah satu-satunya orang yang mengisi hidupnya. Ada laki-laki tunggal yang tidak jauh dari ibunya. Ketika tidak ada di rumah, bermain dengan teman-temannya, berkumpul, bermain, merokok di Paviliun. Untuk Tiwi, jika ada banyak motor di halaman, sering buru-buru ke kamar. Menyuruhnya sendiri.
Setiap pagi pergi bersama motor dan Bapa. Mobil milik Mamah. Dibawa ke kantor setiap hari oleh Mamah.
Setiap hari ke sekolah dengan masker, bekel sangu mendapatkan masakan Bapa, ada juga si bibi. Istirahat meminta jajan ke Bapa. Kembali bersama, meskipun Bapa selesai kerja dua shift. Sedangkan Tiwi adalah siswa kelas tiga, bagian pagi terus. Jam sepuluh sudah selesai. Tapi betah Tiwi, sering menunggu di perpustakaan, membaca buku-buku. Sering sampai tiba waktu tidur.
Hingga suatu waktu, pulang sekolah. Pada hari ulang tahun, Tiwi mendapat kue tart dan Bapa telah janji.
“Tiwi antosan di sini, Bapa akan meuntas. Tidak lama lagi akan memesan, ambil.”
Tiwi mengeluh, terdengar marah.
Bapanya meuntas meninggalkan Tiwi yang sedang menunggu di motor, melewati jalan bersama, tidak bisa kembali.
Tidak lama, Bapanya pergi keluar toko kue sambil menangis. Sambil meuntas ingin kembali, tapi dihentikan dan melihat Tiwi tersenyum bahagia.
Apa itu, ada suara klakson yang tarik. Jegér!
Kue ulang tahun meluncur ke jalan aspal. Bapanya terluka karena tertabrak truk. Dibawa ke rumah sakit, tetapi tidak sadarkan diri.
Geus
Hampir sebulan Tiwi tidak ke sekolah, padahal seminggu lagi ujian. Pakaian sudah tidak bisa dikancingkan. Cita-citanya ingin melanjutkan kuliah itu sudah hancur. Setiap kali membaca, matanya selalu mengarah pada bayangan yang semakin gelap. Tidak bisa disembunyikan lagi.
Jika wali kelas tidak menelepon ibunya, maka tidak akan tahu kondisi Tiwi. Bahkan pihak sekolah melakukan kunjungan rumah, tetapi hanya ada dirinya dan si Bibi.
“Kenapa kamu pergi tanpa membawa Tiwi, Pa…” Tiwi menangis, memegang bantalnya. “Tiwi tidak kuat, Pa. Tidak kuat…”
Setelah menangis hingga lelah, Tiwi berada di samping ranjang. Berbaring lama-lama. Melihat ke arah meja rias. Terlihat dari cermin wajahnya yang putih, matanya sudah redup, wajahnya pucat.
Suara, membuka laci meja rias. Masuk ke cutter. Seretannya mengalir darah segar. Clak… clak… ke lantai. Langsung tidak ingat di dunia ini.
Selengseng
bau alkohol. Nafsu untuk minum. Kembali ke sekitar. Mengingat kenapa ia mabuk di sini.
“Wi…?” suara Dadan, laki-laki téréna.
Tiwi mengangkat kembali matanya. Harapan bahwa ia hilang dari pandangan Dadan.
“Mamah sudah dihubungi. Katanya akan datang. Pemimpin meeting.”
Tiwi tidak ingin menjawab.
“Pami si Bibi tidak ke kamar saya sudah bagaimana, kaleresan Aa baru saja ke bumi. Apa mani dengan luluasan?” suara Dadan terdengar mengganggunya.
“Sudah, jangan banyak emosi, Aa akan tanggung jawab,” katanya dengan nada keras.
Tiwi menggeleng, melihat lelaki sepasang mata yang basah. Mata yang ingin sekali dikojay, tetapi sudah menjadi laki-laki.
“Wi…”
“Tidak perlu!”
“Tiwi percaya pada Aa?” tanyanya dengan ramo-ramo leungeun yang digunakan, dan leungeun katuhunnya sedang diinfus.
Lalu luka yang diperbanyak diusap.
“Omat, jangan ada emosi ingin menyetujui kematian lagi!”
Tiwi bangun dari posisi tidurnya yang terganggu jantungnya. Tapi Dadan lebih kuat mengguncang ramonya.
“Jangan ganggu kehidupan orang lain!”
“Siapa orang lain itu?”
“Mau apa saja, jangan jadi pahlawan!”
“Lalu bagaimana keinginan Tiwi?”
Jep jempling.
Pintu kamar rawat inap terbuka. Dadan mengeluarkan sandalnya. Tak... tuk... tak… tuk… suara sepatu pantopel menghampiri ranjang.
“Mau membuat kekacauan lagi, kamu?” Ibu Tiwi tiba-tiba muncul.
“Jika kamu bunuh diri, tidak ada masalah lagi untuk Mamah? Untuk keluarga kita? Pikirkan, bagaimana perasaan orang lain jika kamu mati karena reuni.”
Dadan berdiri, memberi korset untuk yang tertawa.
Tiwi duduk. Matanya mengalir air mata. Mamah hanya memikirkan harga dirinya. Tidak pernah sekalipun memikirkan dirinya. Tidak hanya harga diri, nyawa pun ingin dihilangkan Tiwi.
“Pokoknya jika tidak bisa menyelesaikan apapun, kembali ke rumah sakit langsung ke Bogor dan si Bibi. Tinggal di villa sampai mengajar. Urusan Mamah. Kamu kembali ke sekolah, bisa kuliah ke luar negeri. Tidak ada anak saya yang tidak punya ijazah SMA-SMA!”
Ibu Tiwi berjalan keluar dari ruang rawat inap.
Jep jempling. Tidak ada lagi yang berkata. Dadan hanya berdiri, menatap pipi Tiwi yang merah. Sejak ulang tahun ke tujuh belas, Tiwi sudah tidak ada. Yang ada hanya boneka Mamah yang selalu patuh pada semua keinginannya.
Rasanya lulus SMP, Tiwi yang memiliki pilihan masuk SMK ternyata tidak disetujui oleh Mamah, Mamah memiliki pilihan sendiri. SMA favorit.
Dari awal masuk SMA, Tiwi tidak punya teman, dan di sekolah favorit itu teman-temannya sangat sombong, tidak peduli, tidak peduli. Harus. Kerja kelompok di kafe. Tidak mampu, tapi tidak suka. Bahkan ketika ayahnya pergi. Anak pengusaha itu, anak pejabat itu. Sedangkan dirinya? Memiliki ayah yang sekarang adalah Bapa téréna.
Masuk SMA itu bukan keinginannya, tambah tidak ada yang mengatakan. Tugas kelompok kecil, tugas individu dikerjakan, hasil akademiknya terpuruk. Tiwi yang pintar itu sudah kehilangan. Pergi ke sekolah hanya berlarian, dan pasti tidak punya semangat. Setiap kali hanya duduk di bawah jendela kelas. Teman-temannya sudah tahu bahwa di kelas ada murid bernama Pratiwi Sukmawati. Ada tapi tidak, disebut tidak tapi ada. Ada dan tidaknya tidak ada perbedaan.
Naik ke kelas sebelas semakin sulit. Dipanggil oleh BP beberapa kali.
“Tiwi terlihat oleh Bapa seperti ada masalah,” kata guru BP dulu.
Awalnya tidak bisa bercerita. Tapi akhirnya juga didekati.
“Bapa sudah meninggal, bukan kesalahan Tiwi,” katanya sambil menenangkan Tiwi yang menangis.
Tangannya mengusap wajah Tiwi yang basah.
“Sudah, berdamailah. Sudah cukup Tiwi menyesali diri, bertahun-tahun tidak bisa pulih. Pasti Bapa juga akan sedih melihat Tiwi seperti ini. Semoga sekarang berhenti.”
Tiwi tidak menangis, hanya meremas rambutnya yang berada di pipinya.
“Pami ada sesuatu di sini. Kita sharing.”
Tiwi hanya mengangguk.
Sejak dulu Tiwi punya teman bercerita. Termasuk menceritakan bagaimana kesedihan Mamah menikah lagi. Tidak suka sikap Mamah terhadap Bapa téréna yang sering mempermalukan dirinya.
“Tiwi harus menerima. Mamah adalah wanita dewasa yang memiliki kebutuhan biologis. Bukan berarti sudah meninggalkan Bapa,” katanya dulu.
“Nanti Tiwi akan mengerti. Sekarang jangan banyak emosi, sekolah saja yang semangat, ya.”
Tiwi mengangguk. Terlalu tenang dan setiap kata yang diucapkan oleh guru BP terasa oleh Tiwi. Bahkan ketika mengusap pipi, ada harapan kembali memiliki Bapa.
Di luar ruang BP langit sudah gelap. Kelas sudah selesai sejak tadi. Tiwi menggenggam tasnya menuju gerbang.
Reg sedan hitam menunggu di gerbang. Tiid… Menyala.
Kaca depan menggerakkan kepala guru BP.
“Sepertinya hujannya akan mengguyur, menunggu siapa?”
“Grab,” jawab Tiwi sambil memasuki.
“Batalkan saja, mari kita jalan-jalan.”
“Eu…”
“Mari!”
Akhirnya kabandang.
Hujan semakin deras. Cuaca musim hujan membuat Grab banyak pesanan.
“Mengguyur ini mah macetnya. Sindang dulu ke kontrakan Bapa sakedap, ya?”
Tiwi hanya mengangguk. Kembali ke rumah tidak ada siapa pun. Jika tidak kembali, tidak ada yang mencari.
Guru BP memutar setir, belok ke kiri. Ke luar jalan provinsi. Bus ke jalan kecil. Tidak lama reg di depan rumah kecil tapi rapi.
“Mau menunggu saja di sini?” tanya guru BP sambil menunjukkan kunci.
Tiwi turun mengikuti guru BP masuk ke rumahnya.
Di luar hujan semakin deras, kicau burung terdengar.
“Leuh basuh baju mu,” kata guru BP kepada Tiwi yang kedinginan, “Mau ganti kaos Bapa?”
Tiwi tidak menjawab.
Guru BP membuka, tidak lama kembali membawa baju kecil dan kaos. Lalu baju Tiwi dibuka.
Semua terasa damai. Setiap malam sering bermimpi, merasa mati ayah karena dirinya tidak dipikirkan lagi.
Anak remaja yang lama terpisah dari ayahnya berharap menemukan kembali ayah yang memperhatikan, mencintai, sering menenangkan, dan selalu menemani hingga tidur.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar