Laporan Buang Sine Diproses di Polres Belu, Heri Buka Trauma Hingga Dikucilkan

Laporan Buang Sine Diproses di Polres Belu, Heri Buka Trauma Hingga Dikucilkan

Penyidik Polres Belu Periksa Staf BPBD Terkait Pengaduan Pencemaran Nama Baik

Heribertus Lau, salah satu staf di kantor BPBD Kabupaten Belu, kembali diperiksa oleh penyidik Satreskrim Polres Belu pada hari Sabtu, 3 Januari 2026. Pemeriksaan ini dilakukan terkait pengaduan dugaan pencemaran nama baik yang dilaporkan oleh akun Facebook Buang Sine.

Ferdinandus Maktaen, kuasa hukum dari Heribertus, mengapresiasi respons cepat jajaran Satreskrim Polres Belu dalam menangani laporan ini. Menurutnya, pengaduan tersebut telah memicu interpretasi negatif yang sangat memengaruhi mental klien mereka.

"Baru sekitar dua minggu pengaduan masuk, Polres langsung merespons dengan memeriksa kami. Kami sangat mengapresiasi karena postingan tersebut telah menimbulkan interpretasi negatif yang memukul mental klien kami," ujar Maktaen usai pemeriksaan di ruangan Tipiter polres Belu.

Menurut Maktaen, pihaknya telah mengantongi sejumlah bukti berupa tangkapan layar (screenshot) terkait postingan Buang Sine. Dalam postingan tersebut, Buang Sine mempertanyakan status pekerjaan Heribertus dan alasan ia berada di lokasi penemuan mayat Frans Asten.

Pada postingan tersebut, Buang Sine juga menyebutkan bahwa Heribertus Lau adalah orang yang datang ke rumah almarhum Frans Asten pada pagi hari tanggal 8 November 2025 pukul 06.00 Wita, lalu datang lagi pada siang hari. Namun, menurut Maktaen, fakta yang sebenarnya berbeda.

Maktaen menantang Buang Sine untuk secara ksatria datang menemui penyidik dan membuktikan postingan yang menyangkut keberadaan Heribertus pada 1 hari sebelum penemuan jenazah Frans Asten. Padahal, Heribertus secara fakta tidak pernah datang ke rumah almarhum pada waktu itu apalagi dengan tujuan mengecek.

Beberapa waktu kemudian, Buang Sine memosting permohonan maaf dan klarifikasi di akunnya melalui media. Namun, menurut Maktaen hal tersebut tidak menghapus unsur pidana.

"Permintaan maaf dilakukan setelah laporan polisi dibuat dan opini publik sudah terlanjur terbentuk. Jika ingin kooperatif, silakan datang ke Atambua, temui penyidik, dan minta dipertemukan dengan klien kami. Jangan hanya berdalih lewat 'mimpi' atau perkiraan di ruang publik," tegas Maktaen.

Trauma Psikologi Berat yang Dialami Heribertus

Sementara itu, Heribertus Lau menceritakan bahwa dirinya tidak mengetahui postingan Buang Sine yang menyebut namanya. Ia diberitahu oleh keluarganya bahwa namanya disebutkan oleh Buang Sine saat misteri kematian Frans Asten sedang panas dibahas publik.

"Saya langsung dikucilkan keluarga mereka yang biasa akrab dengan saya tidak hubungi saya, mereka tanyakan kepada keluarga lain kenapa Heri datang cek almarhum pada tanggal 8 di pagi dan siang hari. Mereka kecewa dan sedih karena menduga saya pelaku pembunuhan sebab saya kerumah almarhum," ungkap Heribertus.

Heribertus mengatakan bahwa dirinya hanya pegawai kecil dan baru saja diangkat menjadi PPPK di BPBD pada tahun 2025. "Sejak kecil sampai umur sudah 41 tahun ini saya baru pertama kali masuk ke kantor Polisi buat pengaduan dan diperiksa. Saya tidak pernah urusan dengan polisi apalagi buat kasus, ini hal pertama dalam hidup saya," ujarnya.

Menurut Heribertus, ia bersama istri dan anak serta keluarga besar tinggal di Halituku Kecamatan Taifeto Barat Kabupaten Belu. Isu dirinya datang ke rumah almarhum dan mengecek tersebut cepat sekali beredar bahkan orang-orang menshare postingan Buang Sine kemana-mana.

"Kami benar-benar dikucilkan, saya hampir tidak mau keluar rumah dan alami trauma akibat postingan itu. Soalnya di Facebook orang sudah buat narasi yang tidak tidak dan tanyakan ada urusan apa saya kerumah almarhum apalagi datang cek keberadaannya," ucap Heribertus.

Dampak pada Keluarga dan Anak-anak

Saking malu dan trauma, Heribertus dan istrinya tidak datang ke sekolah untuk menerima rapor dan seorang anak lainnya tidak lagi berlatih tinju di salah satu sasana di Belu. Keluarga kandungnya juga turut mengultimaltum bahwa jika tidak pernah datang ke rumah almarhum atau tidak tersangkut kasus ini maka segera laporkan akun Buang Sine.

"Sebelum datang ke Polres bapak saya tanya dua kali, Heri apakah kamu bemar tidak datang dan tidak tahu apa-apa kasus ini, saya jawab kalau saya datang kerumah atau terlibat maka tidak perlu lapor saya akan datang sendiri. Akhirnya bapak saya dan keluarga besar bilang mari kami dampingi kamu ke Polres Belu," bebernya.

Untuk saat ini, pihak Heribertus telah menyerahkan sepenuhnya kepada kuasa hukum. Selain berharap kasusnya diproses, Heribertus juga meminta kasus kematian pimpinannya Frans Asten segera terungkap sehingga tidak ada lagi narasi negatif terhadap dirinya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan