Laporan Merah Akhir Tahun, Timbangan Jadi Cermin, Niat untuk 2026

Refleksi tentang Kesehatan dan Kesadaran Diri

Akhir tahun selalu menjadi momen yang tepat untuk berhenti sejenak dan melakukan refleksi. Saat-saat seperti ini memberikan ruang bagi kita untuk mengevaluasi kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin terlupakan, serta mempertanyakan apa yang perlu diperbaiki sebelum melangkah ke tahun berikutnya.

Di tengah kesibukan pekerjaan dan tugas sebagai orangtua, saya merasa perlu mengambil waktu untuk menoleh ke diri sendiri. Bukan untuk menghakimi, tetapi lebih pada proses bercermin. Tahun ini, cermin itu datang dalam bentuk yang tidak saya duga: sebuah rapor kesehatan dengan dua catatan merah.

Kisah ini dimulai pada September 2025 ketika saya melakukan skrining riwayat kesehatan melalui aplikasi BPJS Kesehatan. Tujuan dari skrining ini adalah untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak jangka panjang, terutama bagi kelompok usia 45-59 tahun seperti saya.

Pada tahap awal, skrining dilakukan dengan mengisi formulir yang mencakup riwayat hipertensi, stroke, dan penyakit jantung iskemik. Pilihan jawaban yang tersedia sangat sederhana, hanya "ya" atau "tidak". Prosesnya relatif mudah dan praktis karena bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Sebulan kemudian, saya menerima pesan WhatsApp dari akun resmi BPJS Kesehatan yang telah terverifikasi centang biru. Pesan tersebut berisi kesimpulan hasil skrining yang telah saya lakukan: adanya risiko penyakit yang memerlukan konsultasi lanjutan dengan dokter di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), atau melalui layanan telekonsultasi.

Bulan berikutnya, saya akhirnya melakukan konsultasi dan pemeriksaan kesehatan di puskesmas terdekat. Dari pemeriksaan itu, saya kembali menerima pesan WhatsApp berupa rapor kesehatan yang merangkum kondisi tubuh saya saat itu.

Dalam rapor tersebut, terdapat dua nilai berwarna merah. Keduanya menjadi penanda adanya kesenjangan antara hasil pemeriksaan dan nilai normal. Catatan merah itu berkaitan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang berada di atas batas ideal—yakni melebihi rentang 18,5–25,0 kg/m²—serta lingkar perut yang telah melampaui 90 sentimeter.

Rapor kesehatan tersebut merekomendasikan penurunan berat badan melalui pola makan sehat dan seimbang, disertai aktivitas fisik atau olahraga minimal 30 menit per hari sebanyak 3–5 kali dalam seminggu. Selain itu, disarankan pula konsultasi rutin dengan ahli gizi atau dokter keluarga.

Hasil pemeriksaan lainnya, seperti tekanan darah, gula darah, dan indikator penyakit tidak menular, masih berada dalam kategori hijau atau normal.

Di usia kepala lima, saya mulai menyadari bahwa tubuh tidak lagi bisa diajak berkompromi. Dengan tinggi badan sekitar 160 sentimeter, berat badan saya kini berada di angka lebih dari 70 kilogram—angka yang terasa semakin jauh dari ideal atau biasa disebut obesitas. Lingkar perut pun telah melampaui batas aman bagi laki-laki dewasa.

Dampaknya terasa sederhana, tetapi nyata: badan menjadi lebih berat, perut tampak buncit, pakaian kian sempit, dan tubuh lebih cepat lelah. Berat badan berlebih atau obesitas ternyata tidak memilih siapa korbannya. Ia bisa datang kepada siapa saja, termasuk orangtua seperti saya.

Penyebabnya sering kali sederhana: asupan yang tidak seimbang dengan aktivitas fisik. Sehari-hari, aktivitas di kantor relatif minim dan lebih banyak dihabiskan dengan duduk. Sesekali memang turun ke lapangan dan berjalan kaki, tetapi tidak dilakukan secara rutin. Begitupun perjalanan menuju tempat kerja lebih sering ditempuh dengan sepeda motor atau mobil. Sementara, jalan pagi atau olahraga biasanya baru sempat dilakukan pada akhir pekan.

Di sisi lain, hari libur saya sebenarnya cukup aktif. Saya memelihara ikan di dua kolam, mengurus satu kandang dengan puluhan ekor ayam, dan merawat berbagai tanaman hias. Aktivitas-aktivitas ini memberi kesenangan sekaligus ketenangan, namun rupanya belum cukup untuk menyeimbangkan asupan harian yang masuk ke tubuh.

Pola makan saya tergolong wajar, bahkan terasa normal. Pagi hari saya sarapan ringan dan minum kopi tanpa gula. Di kantor, sering tersedia makanan ringan, minuman manis, atau kopi. Makan siang lengkap, disusul makanan ringan saat sore hari, lalu makan malam lengkap di rumah. Di sela-sela itu, terkadang masih ada mi instan yang terasa sulit ditolak.

Faktor lain yang tidak kalah berperan adalah stres. Kelelahan bekerja, pikiran tentang kebutuhan anak dan istri, serta keinginan yang tidak selalu bisa terwujud, kerap menumpuk menjadi beban pikiran. Dalam kondisi seperti itu, porsi makan sering bertambah tanpa benar-benar disadari. Makan bersama keluarga, makan bersama rekan kerja, atau menikmati masakan istri yang memang nikmat, membuat selera makan seolah tak terelakkan.

Sampai kemudian, kesadaran itu datang perlahan, bukan melalui sakit atau diagnosis berat. Saya hanya merasa lebih cepat lelah, pakaian semakin sempit, dan penampilan terasa kurang proporsional. Menariknya, saat mengikuti skrining dan pemeriksaan kesehatan gratis pada November lalu, sebagian besar hasil pemeriksaan saya dinyatakan normal. Namun, tetap ada satu catatan penting hari itu: berat badan yang perlu diturunkan.

Di titik inilah pengukuran—timbangan berat badan benar-benar menjadi cermin. Ia tidak memarahi dan tidak menakut-nakuti, melainkan menunjukkan kondisi apa adanya. Dari sana saya sampai pada satu kesadaran sederhana: ini bukan semata-mata soal penampilan, melainkan tentang menjaga tubuh agar tetap mampu menjalani peran sebagai orangtua dengan lebih baik.

Karena itu, saya tidak ingin memasang resolusi yang berlebihan. Untuk tahun 2026, saya hanya memiliki satu niat: menurunkan berat badan secara bertahap. Targetnya sederhana—berat badan 65 kilogram dan lingkar perut maksimal 90 sentimeter. Sebuah tujuan yang mudah diikrarkan, tetapi saya sadar memerlukan usaha, konsistensi, dan kesabaran.

Saya tidak mengejar perubahan drastis. Saya hanya ingin lebih sadar dalam makan, lebih rutin bergerak, dan lebih jujur pada tubuh sendiri. Jika langkahnya kecil namun konsisten, saya percaya arah hidup pun dapat berubah.

Menutup tahun 2025, saya belajar bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah awal dari perubahan. Timbangan bukan musuh, melainkan pengingat. Dan 2026, bagi saya, bukan tentang menjadi sempurna—melainkan tentang hidup yang lebih sehat, lebih sadar, dan lebih seimbang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan