Laporan Pengawas Sekolah (39)


Catatan Pengawas Sekolah (39)

Sekadar informasi: Catatan (29) sampai dengan Catatan (38) telah dijadikan buku dengan judul Catatan Ringan Pengawas Sekolah 4 dan diterbitkan oleh CV Mudilan Grup tahun 2020 dengan ISBN Nomor 978-623-7242-40-6.

Berikut kelanjutan catatan mulai tanggal 18 April 2019. Selamat membaca!

Kamis, 18-04-2019

Tahapan pemilu setelah pencoblosan cukup panjang. Setelah para pemilih menggunakan hak pilihnya pada hari Rabu, 17 April 2019, penghitungan suara langsung dimulai di tingkat TPS. Jumlah TPS se-Indonesia pada pemilu 2019 sebanyak 809.563 (delapan ratus sembilan ribu lima ratus enam puluh tiga) TPS. Batas waktu penghitungan suara di TPS hingga 18 April 2019.

Dari TPS-TPS itu digabungkan di kecamatan (PPK= Panitia Pemungutan Kecamatan). Jumlah kecamatan 7.201 (tujuh ribu dua ratus satu). Proses penghitungan atau penggabungan penghitungan suara di tingkat kecamatan berlangsung mulai 18 April hingga 4 Mei 2019.

Dari jumlah penghitungan di tingkat kecamatan kemudian digabung di tingkat kabupaten dan kota. Jumlah kabupaten dan kota adalah 514. Proses penggabungan suara di tingkat kabupaten dan kota mulai 22 April hingga 7 Mei 2019.

Setelah jumlah suara di tingkat kabupaten dan kota terkumpul, selanjutnya dilakukan penggabungan suara di tingkat provinsi mulai 22 April hingga 12 Mei 2019. Jumlah provinsi ada 34. Kemudian hasil suara untuk pilpres, DPD, dan pemilihan anggota DPR RI digabungkan di tingkat nasional.

Pada hari Kamis tanggal delapan belas April 2019 saya bangun pagi seperti biasa. Menjelang pukul setengah enam pagi, istri saya bersiap untuk menggoreng telur dadar. Sebelum panci semacam Teflon dinaikkan ke kompor, saya gunakan dulu untuk merebus air.

Tidak perlu waktu lama untuk mendidihkan air di dalam cerek. Saya segera membuat kopi ginseng. Untuk menemani minum kopi, saya ambil satu lembar roti tawar. Selai rasa strawberry saya oleskan. Dalam waktu sekejap, ludes sudah kedua santapan itu.

Ada pepatah, belum makan kalau belum menyantap nasi. Pepatah itu berlaku untuk saya. Selesai mencuci cangkir bekas kopi, saya segera ambil piring untuk menyantap telur dadar ditemani sedikit nasi putih. Kerupuk koin tidak ketinggalan.

Jumat, 19-04-2019

Kemarin cuaca cukup panas. Dalam satu hari saya minum lebih tujuh gelas. Minum pertama, saat mau makan roti tawar. Secangkir kopi ginseng. Minum kedua, satu gelas tanggung teh hangat di kantin disdikpora. Saat itu saya dan Pak Anas Baenana bersiap untuk menghadiri MKKS di MTs Al Banjari di km 3 Penajam. Berhubung hari masih pagi, bersantai dulu di kantin yang dikelola oleh istri Pak Ismail Nurdin Said.

Minum ketiga, kopi hitam di ruang pertemuan MKKS di MTs Al Banjari di km 3 Penajam. Ada dua macam kue menemani kopi hitam tersebut. Pada saat acara MKKS, setelah pembukaan, sambutan tuan rumah, Pak Yamani, saya diminta memberikan sambutan atas nama pengawas. Saat memberikan sambutan saya menyampaikan kekagetan saya, mengapa? Saya diminta secara mendadak. Tanpa pemberitahuan dulu dan tanpa ada mandat dari korwas. Istilahnya ditunjuk tiba-tiba oleh pembawa acara sekaligus sekretaris MKKS, Bu Yaleswati, kepsek SMPN 9 PPU di Tanjung Jumlai.

Minum keempat di lapangan Merdeka, Balikpapan, saat saya mengantarkan istri "kontrol" ke RSPB Balikpapan. Saat kami datang, pelayanan pendaftaran seang istirahat. Kami disuruh menunggu beberapa menit. Berhubung saya belum makan, bergegas saya meninggalkan istri di ruang tunggu pasien rawat jalan RSPB. Saya beli minum es kelapa muda seharga delapan ribu rupiah setelah makan gado-gado seperti yang pernah saya makan beberapa hari sebelumnya di tempat yang sama.

Minum kelima, saya beli dawet atau es cendol di dekat penjual tiket kapal klotok. Saat selesai urusan di RSPB (istri buka perban di leher dan buka jahitan bekas operasi di kelopak matanya), kami langsung pulang. Tidak mampir ke mana-mana.

Minum keenam di rumah. Saya buat minum teh hangat di sore hari ditemani roti yang terhidang di atas meja. Minum ketujuh yang berkali-kali saya lakukan tetapi tidak segelas penuh saat meminumnya, yaitu air putih hangat. Sekali saya minum air putih hangat sekitar sepertiga cangkir. Namun saya lakukan berulang-ulang. Setiap merasa haus di rumah, saya lakukan seperti itu. Jarang sekali saya di rumah minum air putih biasa. Selalu saya upayakan minum air putih hangat.

Semalam saya jaga air lagi. Air PDAM mengalir sekitar pukul setengah enam senja. Aktivitas senja hingga malam berlangsung seperti biasa. Saya makan nasi di malam hari ditemani telur dadar yang pagi hari masih sisa. Istri saya minta dibelikan bakso Joss. Ya. Begitu. Hidup hanya berdua satu rumah. Urusan selera makan sesuai keinginan.

Lewat pukul sembilan malam saya baru sibuk mengurusi cucian dan mengisi tempat penampungan air. Pakaian kotor yang saya cuci tidak terlalu banyak karena sehari sebelumnya saya sudah mencuci. Hanya ada satu kemeja batik lengan panjang, satu kaos langon panjang, tiga buah kaos dalam (singlet) dengan pasangannya tiga buah CD (celana dalam), satu celana pendek, dan satu celana training.

Pukul sepuluh malam saya sudah bisa mulai berbaring tetapi tetap harus waspada karena tandon air 1200 liter belum penuh. Pompa air masih bekerja. Saat air tandon penuh, pasti ada tandanya, yaitu suara tumpahan air ya g mengenai seng penutup mesin pompa air alias alkon.

Hari Jumat tanggal Sembilan belas April 2019 merupakan hari libur nasional keagamaan. Meskipun begitu, saya tetap menjalankan rutinitas pagi seperti hari-hari sebelumnya. Bangun pagi tidak jauh beda dengan bangun pagi pada saat hari kerja.

Sebelum pukul enam pagi, istri saya sudah sibuk di dapur. Pagi ini dia memasak oseng-oseng tempe plus sayur kacang panjang yang dipotong menjadi pendek-pendek. Tentu ada beberapa bumbu seperti bawang merah, garam, kecap, dan lombok.

Sarapan nasi putih ditemani sayur oseng-oseng cukup nikmat di pagi hari yang masih terasa gerah. Kipas angina masih menyala. Sementara itu kompor masih menyala. Di atasnya cerek berisi air minum siap dididihkan.

Usai menyantap nasi dan sayur yang masih cukup hangat, saya segera meramu minuman kopi ginseng. Untuk penyemangat di pagi hari memang perlu minuman yang spesial. Roti tawar yang masih satu sisir saya olesi dengan selai strawberry. Jika tidak segera dihabiskan, khawatir didahului jamur. Istri saya kurang suka makan roti tawar. Kalau pun mau, biasanya dibakar dulu dan diberi olesan yang berbeda.

Usai menikmati secangkir kopi ginseng plus roti tawar, saya segera keluar rumah, mengecek meteran air PDAM. Kran air yang berada di dekat meteran itu saya putar. Alhamdulillah, air masih mengalir. Segera saya nyalakan pompa air. Selanjutnya, bak-bak cucian saya siapkan untuk diisi air lewat kran di samping kanan rumah kami. Cukup deras air memancar. Tiga buah bak cucian tidak lama sudah penuh. Selanjutnya saya putar kran air di kamar mandi. Bak mandi masih belum penuh.

Sambil menunggu tempat penampungan air penuh terisi air, saya merapikan plastik sampah yang siap dibuang. Pagi hari ini saya berencana berjalan kaki membuang sampah ke tempat pembuangan sampah sementara yang berada di seberang jalan kantor Inspektorat Penajam Paser Utara. Sudah cukup lama saya tidak membuang sampah dengan berjalan kaki.

Ada dua kantong plastik yang saya tenteng. Saya berjalan melewati gang di samping kiri rumah. Gang itu persis di belakang rumah Pak Edy Prayitno, kepsek SMPN 1 PPU. Saya berjalan lurus ke arah jalan provinsi, jalan raya beraspal yang menghubungkan Kaltim dan Kalsel.

Gang di situ sudah jarang sekali saya lewati. Suasananya masih sepi. Belum banyak orang yang lewat. Jarak dari rumah ke tempat penampungan sampah di depan kantor inspektorat sekitar tujuh puluh meter saja. Saat saya sampai di samping kantor inspektorat, saya lihat mobil truk pengangkut sampah sedang parkir di sana. Ada tiga petugas sedang memindahkan sampah dari bak sampah di pinggir jalan ke atas truk. Saya lihat Zaial Abidin, adik istri saya, sedang berada di atas truk. Tugasnya menata sampah yang disorong temannya dari bawah.

"Paket khusus! Paket khusus!"

Saya berucap sambil menyorongkan dua kantong plastik sampah yang saya tenteng ke atas truk sampah. Saya tidak menaruhnya di bak penampungan di pinggir jalan tetapi langsung saya naikkan ke atas truk.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan