
Penurunan Penjualan Kembang Api di Medan
Penjualan kembang api menjelang malam pergantian tahun di Kota Medan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Para pedagang musiman yang biasanya membuka lapak di Jalan KH Zainul Arifin mengaku bahwa kondisi tahun ini jauh dari harapan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Sejumlah pedagang menyebutkan bahwa mereka telah membuka gerai penjualan selama empat hari terakhir, tetapi hingga saat ini pembeli masih sangat sedikit. Hal ini berbeda jauh dengan suasana jelang Tahun Baru pada tahun-tahun sebelumnya.
Lisa (37), salah satu pedagang kembang api di kawasan tersebut, mengungkapkan bahwa penurunan penjualan tahun ini bahkan lebih sepi dibandingkan masa pandemi Covid-19. “Tahun ini paling sepi, bahkan lebih sepi dari masa Covid,” ujarnya.
Menurut Lisa, lesunya pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi sejumlah wilayah yang masih berjuang pasca-bencana, tetapi juga oleh kekhawatiran masyarakat menyusul adanya larangan dari Mabes Polri untuk tidak memasang kembang api pada malam pergantian tahun. “Orang jadi ragu beli, takut nanti tidak boleh dipakai,” katanya.
Dari sisi harga, Lisa menyebutkan terdapat sedikit kenaikan pada beberapa jenis kembang api, meski tidak signifikan. “Ada yang naik harga, tapi tidak banyak, sekitar Rp 2.000 saja. Itu pun untuk kembang api jenis kecil,” jelasnya.
Jalan KH Zainul Arifin selama ini dikenal sebagai pusat penjualan kembang api di Medan. Setiap akhir tahun, kawasan tersebut juga menjadi salah satu titik favorit masyarakat untuk merayakan malam Tahun Baru. Warga bahkan biasanya datang sejak sore hari demi mendapatkan posisi strategis untuk menyaksikan pesta kembang api. Namun, situasi tahun ini berbeda. Para pedagang mengaku mulai diliputi kekhawatiran setelah adanya larangan pemasangan kembang api.
Bukan hanya soal penurunan omzet, tetapi juga potensi kerugian. “Kalau memang dilarang betul, ya bukan cuma turun omzet, bisa merugi juga,” ungkap Lisa.
Kekhawatiran itu tercermin dari berkurangnya jumlah pedagang yang berjualan di kawasan tersebut. “Biasanya ada sekitar 10 pedagang. Ini sudah empat hari buka, paling hanya ada lima pedagang,” tambahnya.
Lisa menilai kebijakan larangan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi bencana yang terjadi di sejumlah daerah. Namun, di sisi lain, kebijakan itu menjadi dilema bagi pedagang musiman yang menggantungkan pendapatan tahunan dari momen pergantian tahun. “Biasanya masih ada saja yang beli, dibawa ke kampung untuk dirayakan di sana,” ujarnya.
Pantauan di lokasi dalam beberapa jam terakhir menunjukkan kondisi lapak yang relatif sepi. Pembelian yang terjadi pun hanya terbatas pada kembang api berukuran kecil. Setiap pedagang rata-rata menawarkan sekitar 25 jenis kembang api, dengan variasi harga mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 5 jutaan.
Meski demikian, hingga kini harapan pedagang masih bertumpu pada meningkatnya pembelian menjelang malam Tahun Baru.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar