Libur Nataru, Wisata Dokar di Denpasar Masih Sepi

Libur Nataru, Wisata Dokar di Denpasar Masih Sepi

Kehilangan Penumpang, Dokar Wisata di Denpasar Mengalami Penurunan

Meski berada di tengah liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), kondisi penumpang dokar wisata di Denpasar terlihat sepi. Hal ini disampaikan oleh Nengah Saba, salah satu kusir dokar yang sedang mangkal di Jalan Kaliasem, Bali, pada Kamis 25 Desember 2025.

Sejak pukul 08.00 hingga 11.00 Wita, Nengah Saba hanya mengantar satu kali penumpang. Ia menyebutkan bahwa dalam dua hari sebelumnya, dari pagi hingga sore, hanya empat kali penumpang yang ia antarkan. Sebaliknya, saat libur Nataru tahun lalu, dalam sehari ia bisa mengantar tujuh kali wisatawan keliling Denpasar.

"Kalau memang sepi, mungkin jam 2 pulang. Jam 8 mulai keluar," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa sejak menjadi kusir dokar sejak tahun 1974, jumlah penumpang semakin menurun.

Dulu, Nengah Saba sering nangkring di Pasar Badung, mengantarkan warga yang berbelanja atau pedagang yang ke pasar maupun pulang dari pasar. "Dulu kan beda, Pasar Badung mulai buka jam 7 sampai jam 5 sore. Saat itu memang ramai pengguna dokar," katanya. Pria yang telah merantau ke Badung (saat ini Denpasar) sejak 1971 ini mengaku awalnya bekerja sebagai kusir dokar di area tersebut.

Setelah masa pandemi, barulah dirinya beralih menjadi kusir dokar pariwisata. Lewat program dokar gratis dari Dinas Pariwisata Denpasar, ia bergabung bersama 7 kusir dokar lainnya. Namun, saat akhir tahun, program tersebut berhenti dan akan dilanjutkan Februari 2026 mendatang jika dilanjutkan.

Oleh karena itu, Nengah Saba secara mandiri menarik dokar selama program tersebut belum dimulai lagi. Tarif untuk naik dokar ini adalah Rp 100 ribu dengan rute memutar kawasan Jalan Gajah Mada. Untuk sekali memutar, dokar bisa ditumpangi oleh empat orang.

"Sekali memutar 100 ribu berapa pun penumpangnya dan maksimal empat. Kalau misalnya sepi dari pagi, ada yang menawar lebih murah saya layani," papar pria asal Gegelang Karangasem ini. Dirinya pun menambahkan jika tarif tersebut akan menyesuaikan dengan tujuan penumpang.

"Biasanya yang naik dokar kebanyakan keluarga yang mengajak anak. Anaknya yang minta naik dokar," katanya.

Perubahan Kondisi Dokar Wisata

Perubahan kondisi ini mencerminkan tren pergeseran minat wisatawan terhadap transportasi tradisional seperti dokar. Meskipun memiliki nilai budaya dan sejarah, dokar kini tidak lagi menjadi pilihan utama bagi para pengunjung. Banyak faktor yang turut memengaruhi, termasuk aksesibilitas dan kepraktisan transportasi modern.

Selain itu, adanya program-program seperti dokar gratis yang sempat membuat aktivitas kusir dokar meningkat, tetapi setelah berakhir, banyak kusir kembali mengandalkan pendapatan sendiri. Hal ini memberikan tantangan tersendiri bagi mereka yang bergantung pada penghasilan dari aktivitas ini.

Beberapa kusir bahkan harus menyesuaikan harga dan waktu kerja agar tetap bisa mendapatkan penumpang. Misalnya, Nengah Saba seringkali menawarkan harga lebih rendah jika penumpang tidak banyak, meskipun hal ini berdampak pada pendapatannya.

Tantangan dan Harapan

Dengan semakin menurunnya jumlah penumpang, banyak kusir dokar menghadapi kesulitan ekonomi. Mereka harus mencari alternatif lain untuk tetap bertahan, seperti menjual barang dagangan atau membuka usaha sampingan.

Namun, meski situasi tidak mudah, beberapa kusir tetap berharap agar program dokar gratis dapat dilanjutkan. Program ini tidak hanya membantu mereka secara finansial, tetapi juga memberikan peluang untuk memperkenalkan budaya lokal kepada wisatawan.

Tidak hanya itu, adanya kebijakan yang mendukung pariwisata lokal bisa menjadi jalan keluar untuk menghidupkan kembali aktivitas kusir dokar. Dengan promosi yang tepat dan kolaborasi dengan pihak terkait, dokar bisa kembali menjadi bagian penting dari pengalaman wisata di Denpasar.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan