Libur Sekolah Bukan Akhir Pembelajaran, Dokter Anak: Banyak Hal yang Bisa Dipelajari

Libur Sekolah Bukan Akhir Pembelajaran, Dokter Anak: Banyak Hal yang Bisa Dipelajari

Pentingnya Pendidikan Informal Selama Libur Sekolah

Selama masa libur sekolah, banyak orang tua merasa khawatir anak mereka kehilangan ritme belajar. Namun, menurut Dr. dr. Hesti Lestari, Sp.A, Subsp. TKPS(K), anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), proses pendidikan anak tidak hanya terjadi di bangku sekolah. Pendidikan informal yang berlangsung di lingkungan keluarga juga sangat penting.

Pendidikan informal ini menjadi momen penting bagi anak untuk mempelajari keterampilan hidup yang sering kali tidak diperoleh secara optimal di sekolah. Misalnya, anak dapat belajar membantu membereskan tempat tidur, menyapu, atau membersihkan rumah. Hal-hal sederhana ini justru menjadi bagian dari pendidikan yang sangat bermanfaat.

“Anak belajar dengan meniru. Jadi, ketika orang tua memberi contoh, anak akan mendapatkan pembelajaran yang melengkapi apa yang sudah ia peroleh di sekolah,” ujarnya.

Usia dan Kesiapan Anak dalam Pendidikan Usia Dini

Dalam webinar bertema “Kapan dan Usia Berapa Sebaiknya Anak Mulai Sekolah”, dokter Hesti menjelaskan bahwa usia bukan satu-satunya faktor penentu kesiapan anak mengikuti pendidikan usia dini (PAUD). Secara umum, PAUD dimulai sekitar usia 4 tahun. Namun, anak usia 3,5 tahun bisa saja mengikuti playgroup selama kesiapan anak terlihat.

Alasan utama anak mengikuti playgroup adalah untuk bersosialisasi, bukan untuk mengejar kemampuan akademik seperti membaca atau menulis. Oleh karena itu, konsep bermain harus tetap menjadi fokus utama. Playgroup seharusnya menjadi tempat bermain dan bersosialisasi sesuai usia.

Stimulasi Anak di Rumah dan Lingkungan Sekitar

Stimulasi anak tidak harus selalu dilakukan di lembaga pendidikan. Orang tua juga dapat memberikan stimulasi yang kaya dan sesuai usia di rumah. Jika anak menunjukkan antusiasme untuk bersosialisasi dan lingkungan playgroup mampu memberikan stimulasi yang sesuai, maka tidak ada salahnya anak mengikuti playgroup lebih dini.

Selain playgroup, dokter Hesti juga menyampaikan pentingnya penitipan anak bagi orang tua yang bekerja. Tempat penitipan anak harus memperhatikan aspek nutrisi, kebersihan, serta pencegahan penyakit, mengingat anak berada di lingkungan bersama banyak anak lainnya.

Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus

Dokter Hesti turut menjelaskan penanganan dan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, khususnya anak dengan spektrum autisme. Ia menekankan pentingnya deteksi dan intervensi dini. Autisme sebaiknya dideteksi sedini mungkin, bahkan sejak usia sekitar 2 tahun, karena semakin dini intervensi dilakukan, hasilnya akan semakin baik.

Ketika anak dengan autisme memasuki usia sekolah, keputusan untuk memasukkan anak ke sekolah umum atau sekolah khusus bergantung pada kemampuan anak. Anak dengan kemampuan fokus dan duduk yang cukup dapat mengikuti sekolah inklusif, terkadang dengan bantuan shadow teacher atau pendamping.

“Kalau kemampuannya belum mencukupi, misalnya pada anak dengan kondisi lebih berat atau terapi yang tidak rutin, maka anak bisa bersekolah di sekolah luar biasa (SLB),” ujarnya.

Kombinasi Terapi dan Pendidikan

Namun demikian, dokter Hesti menegaskan bahwa pada usia sekolah, anak berkebutuhan khusus tidak cukup hanya menjalani terapi saja. Baik di sekolah inklusif maupun eksklusif, anak tetap membutuhkan stimulasi dari lingkungan sekolah. Terapi dan pendidikan harus berjalan beriringan.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan