Lidah Tersandera Rasa Durian Rogoselo Pekalongan

Lidah Tersandera Rasa Durian Rogoselo Pekalongan

Perubahan Ekonomi Desa Rogoselo Berkat Durian

Di Desa Rogoselo, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, durian bukan sekadar buah musiman. Buah ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga setempat, sekaligus penanda perubahan arah ekonomi desa. Dari kebun sederhana hingga lapak penjualan di pinggir desa, durian menjadi penggerak utama perekonomian masyarakat.

Hampir 90 persen warga Rogoselo kini menggantungkan penghasilan dari durian. Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Rusaknya jaringan irigasi membuat pertanian sawah tidak lagi menjanjikan. Sengon yang sempat menjadi andalan pun pernah mengalami penurunan harga. Dalam kondisi tersebut, durian dipilih sebagai tanaman pengganti yang dinilai lebih adaptif dan bernilai ekonomi tinggi.

"Air sudah tidak mencukupi untuk pertanian. Daripada lahan tidak produktif, warga akhirnya menanam durian," ujar Kepala Desa Rogoselo, Saronto, kepada Tribun Jateng, Kamis (25/12/2025). Saronto, yang juga dikenal sebagai petani durian, menjelaskan bahwa durian dipilih karena mampu beradaptasi dengan kondisi lahan serta memiliki nilai jual yang stabil.

Citarasa Beragam

Selain itu, durian lokal Rogoselo memiliki keunggulan dari sisi cita rasa yang beragam. "Durian lokal itu unik. Setiap pohon rasanya berbeda. Ada yang manis, manis pahit, sampai rasa gurih atau nyanten. Justru itu yang dicari pembeli," ujar Saronto. Keberagaman rasa tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat durian.

Banyak pembeli datang langsung ke Rogoselo untuk menikmati durian lokal, sementara durian premium seperti duri hitam, musang king, bawor, dan matahari menyasar segmen konsumen menengah ke atas dengan harga yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram.

Meski demikian, musim panen tahun ini tidak sepenuhnya menguntungkan. Produksi durian menurun cukup tajam akibat faktor cuaca. Setelah kemarau memicu keluarnya bunga, hujan yang turun hampir setiap hari menyebabkan banyak bunga rontok sebelum menjadi buah.

"Panen tahun ini bukan panen raya. Produksi hanya sekitar 20 persen dari kondisi normal. Cuaca sangat berpengaruh dan sulit dikendalikan," ungkapnya. Di tengah keterbatasan panen, roda ekonomi desa tetap bergerak. Warga masih mempertahankan durian lokal unggulan, sementara durian premium menjadi tambahan sumber pendapatan.

"Sistem penjualan dilakukan secara langsung di lokasi sehingga pembeli dapat memilih durian sesuai selera," ucapnya. Menariknya, Saronto tidak hanya berperan sebagai kepala desa, tetapi juga turut terjun sebagai petani dan penjual durian.

Latar belakangnya sebagai pedagang sayur dan petani sebelum menjabat kepala desa, membuat Saronto memahami betul dinamika ekonomi warga. "Saya petani juga. Jadi saya tahu betul bagaimana kondisi di lapangan. Daripada waktu luang tidak dimanfaatkan, saya ikut jualan durian," katanya.

Penikmat Durian

Cita rasa durian lokal Rogoselo terus menarik perhatian para penikmat durian dari luar desa. Salah satunya Any, warga Kota Pekalongan, yang sengaja datang ke kedai durian milik Saronto. Any mengaku, datang bersama teman-temannya setelah mendapat kabar bahwa durian lokal Rogoselo sudah mulai dipanen.

"Saya dikabari oleh Pak Lurah (Kepala Desa Rogoselo, Saronto—Red) bahwa durian lokal Rogoselo sudah ada yang panen. Akhirnya saya datang bersama teman-teman," ujar Any. Menurut Any, daya tarik utama durian lokal Rogoselo terletak pada cita rasanya yang bervariasi dan tidak bisa disamakan antara satu buah dengan yang lain.

Hal tersebut justru menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan durian jenis premium. "Durian lokal Rogoselo rasanya bikin penasaran karena beraneka ragam. Saya pribadi lebih suka durian lokal dibandingkan durian premium, seperti bawor dan jenis lainnya," katanya.

Selain soal rasa, harga durian lokal Rogoselo dinilai masih terjangkau bagi masyarakat. Harga durian bervariasi tergantung ukuran dan kualitas buah sehingga pembeli dapat menyesuaikan dengan selera dan kemampuan.

"Harganya masih standar. Ada yang Rp 100 ribu bisa dapat tiga buah, ada juga yang Rp 50 ribu per buah, bahkan Rp 75 ribu per buah, tergantung selera pembeli," jelas Any.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan