Longsor Cisempur: Ayah dan Anak Selamat, Empat Pekerja Meninggal

Longsor Cisempur: Ayah dan Anak Selamat, Empat Pekerja Meninggal

Tragedi Longsor di Cisempur, Jatinangor Menewaskan Empat Pekerja

Pada Jumat (2/1/2026) siang, sebuah tebing di kawasan perbukitan Kampung Salam Kuning RW 01, Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, tiba-tiba ambrol. Peristiwa ini menimpa enam orang pekerja yang sedang melakukan proyek pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT). Akibatnya, empat orang dinyatakan meninggal dunia, sementara dua lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dan langsung mendapatkan perawatan medis.

Detik-Detik Kejadian: Longsor Terjadi Tanpa Hujan

Ketua RW 01 Desa Cisempur, Utar, mengatakan bahwa laporan kejadian diterima sekitar pukul 13.35 WIB. Ia langsung menuju lokasi lima menit kemudian. Saat tiba, satu orang sudah berhasil dievakuasi dan selamat. Utar menegaskan bahwa saat peristiwa terjadi tidak ada hujan, baik pada hari kejadian maupun sehari sebelumnya. “Di sini enggak ada hujan, bahkan dari kemarin juga enggak ada hujan,” katanya.

Para korban diketahui tengah mengerjakan proyek pembangunan TPT di area dataran tinggi yang rencananya akan digunakan sebagai fasilitas olahraga berupa lapangan mini soccer. Proyek tersebut telah berjalan sekitar dua hingga tiga bulan.

Evakuasi Dramatis, Sempat Dihentikan karena Hujan Deras

Setelah kejadian, warga setempat bersama rekan pekerja melakukan evakuasi dengan alat seadanya. Aparat gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Kantor SAR Bandung, dan relawan kemudian berdatangan dan mensterilkan lokasi dari warga yang menonton.

Namun, proses pencarian lima korban yang tersisa sempat terkendala hujan deras yang mengguyur kawasan Cisempur pada siang hingga sore hari. Kondisi tanah menjadi licin dan rawan longsor susulan, sehingga evakuasi sempat dihentikan sementara demi keselamatan petugas.

Setelah hujan reda, tim SAR gabungan kembali melanjutkan pencarian secara manual, lantaran alat berat tidak dapat menjangkau lokasi yang berada di perbukitan kaki Gunung Geulis.

Dua Selamat, Empat Korban Ditemukan Tak Bernyawa

Secara bertahap, tim SAR berhasil mengevakuasi seluruh korban. Dua pekerja berhasil diselamatkan, yakni:

  • Dian (41), warga Desa Cisempur
  • Ahmid (71), ayah Dian, warga Desa Cisempur

Keduanya dievakuasi ke RS Unpad Jatinangor dan dilaporkan dalam kondisi membaik. Sementara itu, empat korban lainnya dinyatakan meninggal dunia, yakni:

  • Ivan, warga Rancaekek, Kabupaten Bandung
  • Ujang, warga Rancaekek, Kabupaten Bandung
  • Ade Hilir, warga Babakan Harja, Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung
  • Hery, warga Kampung Karasak, Desa Cisempur

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Bandung, Mochamad Adip, mengatakan medan evakuasi sangat berisiko. “Alat berat enggak bisa naik, jadi kita lakukan penggalian manual. Kami juga menempatkan petugas safety untuk peringatan dini jika ada potensi longsor susulan,” ujarnya.

Evakuasi jenazah terakhir berhasil dituntaskan pada pukul 19.09 WIB dengan penerangan lampu darurat.

Bupati Sumedang: Proyek Tak Berizin, Akan Ditutup

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, turun langsung meninjau lokasi longsor pada Jumat malam. Ia menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya empat pekerja. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Sumedang, saya menyampaikan duka yang mendalam. Semoga para korban husnul khatimah,” ucapnya.

Dalam pernyataan tegasnya, Dony memastikan proyek pembangunan di lokasi longsor tidak mengantongi izin resmi. “Saya sudah cek ke DPMPTSP. Ini tidak ada izinnya. Karena tidak berizin, akan ditutup,” tegas Dony.

Menurutnya, longsor tersebut merupakan dampak langsung dari aktivitas pembangunan yang tidak sesuai ketentuan. Pemerintah Kabupaten Sumedang akan menindaklanjuti kasus ini sesuai prosedur hukum dan peraturan yang berlaku.

Area Dijaga Ketat, Warga Diminta Menjauh

Pasca evakuasi, aparat gabungan masih melakukan pengamanan ketat di sekitar lokasi untuk mengantisipasi longsor susulan. Garis polisi dipasang dan warga yang tidak berkepentingan dilarang mendekat ke zona rawan.

Tragedi longsor Cisempur ini menjadi pengingat keras akan pentingnya keselamatan kerja, kajian teknis lingkungan, serta kepatuhan terhadap perizinan, terutama pada proyek pembangunan di kawasan rawan bencana.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan