
jateng.nurulamin.pro, SEMARANG - Tanah longsor menjadi bencana alam paling mematikan di Jawa Tengah sepanjang 2025. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, longsor menelan korban jiwa terbanyak dibandingkan jenis bencana lainnya.
Selama 2025, tercatat terjadi 45 kejadian tanah longsor di berbagai wilayah Jawa Tengah. Dari peristiwa tersebut, sebanyak 68 orang meninggal dunia.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Jawa Tengah Muhamad Chomsul mengatakan longsor secara jumlah kejadian tidak menempati urutan pertama, tetapi dampaknya tergolong paling fatal.
“Memang tanah longsor ini dampaknya sangat signifikan. Korban jiwa yang ditimbulkan cukup banyak akibat bencana tanah longsor,” kata Chomsul kepada nurulamin.pro, Senin (12/1).
Secara keseluruhan, BPBD Jawa Tengah mencatat 368 kejadian bencana sepanjang 2025. Banjir menjadi bencana dengan frekuensi tertinggi, yakni 148 kejadian. Disusul cuaca ekstrem berupa angin puting beliung sebanyak 123 kejadian.
Sementara itu, tanah longsor menempati posisi ketiga dari sisi jumlah kejadian dengan 45 peristiwa.
Selanjutnya, kebakaran hutan dan lahan tercatat sebanyak 20 kejadian, terutama saat memasuki musim kemarau.
Bencana kekeringan dan kebakaran permukiman masing-masing terjadi 16 kali. Adapun gempa bumi dan kegagalan teknologi masing-masing tercatat satu kejadian.
Chomsul menjelaskan dari total 368 kejadian bencana tersebut, jumlah korban jiwa mencapai 90 orang. Tanah longsor menyumbang korban terbanyak, yakni 68 orang meninggal dunia.
Pihaknya terus mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan longsor, agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat musim hujan dengan intensitas tinggi.
“Untuk banjir ada lima korban jiwa, tanah longsor 68, cuaca ekstrem empat, kebakaran permukiman sembilan, serta kegagalan teknologi empat orang akibat kebocoran sumur minyak di Blora,” ujarnya. (ink/jpnn)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar