Ludah di Meja Kasir: Etika Guru di Ruang Umum

Ludah di Meja Kasir: Etika Guru di Ruang Umum

Peristiwa di Meja Kasir sebagai Cerminan Kegagalan Pendidikan

Peristiwa seorang dosen yang meludahi petugas kasir di sebuah swalayan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, pada Kamis, 25 Desember 2025 bukan sekadar insiden etika individual. Ia adalah “cermin retak” yang memantulkan wajah buram pendidikan kita hari ini: ketika kecerdasan intelektual melesat, tetapi kedewasaan moral meleset.

Kejadian itu berlangsung bukan di ruang kuliah atau forum akademik, melainkan di meja kasir, ruang publik paling egaliter yang pernah diciptakan peradaban modern. Di hadapan antrean, semua gelar akademik luluh. Tidak ada profesor, doktor, atau pejabat; yang ada hanyalah manusia yang tunduk pada satu hukum universal: waktu dan ketertiban.

Ketika hukum sederhana ini dilanggar, lalu disusul dengan tindakan meludahi sesama manusia, maka yang runtuh bukan hanya martabat personal, melainkan otoritas moral dunia pendidikan.

Antrean sebagai Ukuran Peradaban

Antrean sering dianggap remeh, padahal ia adalah kontrak sosial paling jujur dalam masyarakat modern. Dalam antrean, ego ditanggalkan, jabatan dibekukan, dan kesabaran diuji. Ketidakmampuan mengantre sejatinya menunjukkan ketidakmampuan mengelola diri di hadapan sistem yang adil.

Laporan lintas negara dari OECD menunjukkan penurunan kepercayaan publik terhadap institusi elite, termasuk pendidikan tinggi, bukan karena rendahnya kapasitas intelektual, melainkan karena jarak moral yang kian melebar antara kaum terpelajar dan masyarakat. Pendidikan dinilai mencetak orang pintar, tetapi tidak selalu melahirkan manusia yang pantas diteladani.

Dalam konteks ini, meja kasir berubah menjadi ruang ujian karakter, dan kegagalan di sana memiliki implikasi sosial yang jauh lebih luas daripada pelanggaran disiplin pribadi.

Ilmu Tanpa Kendali Diri

Sejak lama para ahli mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan emosional adalah kombinasi berbahaya. Daniel Goleman menegaskan bahwa tanpa pengendalian diri, empati, dan kesadaran sosial, kemampuan kognitif justru dapat mempercepat perilaku destruktif.

Kasus di Makassar memperlihatkan bagaimana ilmu yang tidak disertai adab berubah menjadi instrumen dominasi. Gelar akademik, yang seharusnya menjadi simbol tanggung jawab moral, dipakai untuk menuntut perlakuan istimewa di ruang publik. Di sinilah letak masalah struktural pendidikan kita: “karakter sering diperlakukan sebagai pelengkap, bukan fondasi”.

Ruang Kelas yang Bergeser Arah

Masalah ini tidak berhenti pada satu peristiwa. Di banyak ruang kelas hari ini, terjadi pergeseran peran guru yang mengkhawatirkan. Alih-alih menjadi teladan akhlak dan penjaga nilai, sebagian pendidik larut menjadi kawan sebaya yang kehilangan jarak etika.

Anak didik tidak lagi diajak menumbuhkan adab, melainkan diajak main TikTok, berjoget bersama, demi mengejar viralitas sesaat yang miskin makna pedagogis. Ruang kelas berubah dari arena pembentukan karakter menjadi panggung hiburan media sosial.

Fenomena ini diperkuat data. Hasil PISA 2022 menunjukkan capaian literasi membaca dan matematika Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD, sementara indikator student well-being dan discipline climate menunjukkan tantangan serius dalam ketertiban, fokus belajar, dan resiliensi. Artinya, problem kita bukan hanya kognitif, tetapi karakter dan iklim belajar.

Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam berbagai evaluasi Profil Pelajar Pancasila juga menunjukkan bahwa dimensi berakhlak mulia, mandiri, dan bernalar kritis belum merata implementasinya.

Banyak satuan pendidikan kuat pada aktivitas, namun lemah pada internalisasi nilai. Anak-anak mungkin tampak “aktif” dan “happy”, tetapi gagap bersikap ketika berhadapan dengan aturan, kesabaran, dan rasa hormat.

Laporan UNESCO (Global Education Monitoring Report) menegaskan bahwa sistem pendidikan yang menomorduakan character education cenderung melahirkan generasi yang riuh secara ekspresi, tetapi rapuh secara esensi. Media sosial dapat menjadi alat pedagogis, namun tanpa bingkai nilai dan keteladanan, ia berubah menjadi distraksi massal.

Pembalikan Peran Moral

Ironisnya, dalam peristiwa di swalayan itu, justru petugas kasir yang tanpa gelar akademik menunjukkan keteguhan sikap dan kepatuhan pada aturan. Ia tidak membalas keburukan dengan keburukan. Terjadi pembalikan peran yang menyakitkan: “yang bergelar gagal menjadi teladan, yang tak bergelar justru mengajarkan teladan martabat manusia”.

Di sini relevan gagasan Aristoteles tentang phronesis, kebijaksanaan praktis, yakni kemampuan bertindak benar dalam situasi nyata. Pendidikan tinggi kehilangan makna ketika gagal melatih kebijaksanaan paling dasar dalam kehidupan bersama.

Ketegasan Institusi dan Peringatan Kolektif

Keputusan institusi untuk menjatuhkan sanksi tegas patut diapresiasi. Ia menegaskan bahwa kampus bukan sekadar pabrik gelar, melainkan benteng nilai. Namun sanksi administratif saja tidak cukup. Kasus ini harus dibaca sebagai peringatan kolektif bahwa orientasi pendidikan kita perlu dikoreksi.

Di Meja Kasir, Peradaban Diuji

Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia, bukan semata apa yang diketahui, melainkan bagaimana seseorang bersikap ketika pengetahuan dan otoritas berada di tangannya. Peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar, tetapi karena terlalu banyak orang pintar yang kehilangan kerendahan hati.

Dalam lanskap ini, dosen dan guru adalah chef (juru masak) pendidikan. Dari tangan merekalah nilai diracik, karakter dimatangkan, dan selera moral generasi dibentuk. Jika juru masaknya abai pada etika, coba-coba pada adab, kotor dalam emosi, dan tergesa mengejar sensasi, maka “masakan” pendidikan yang tersaji boleh jadi tampak lezat di etalase, tetapi hambar makna, bahkan beracun bagi watak. Ilmu pun berubah menjadi hiasan, bukan nutrisi.

Jika dalam antrean saja kita gagal menjadi manusia yang utuh, maka ilmu setinggi apa pun hanya akan menjadi gema kosong. Dan ketika meja kasir tak lagi mampu menahan kesombongan, di situlah kita tahu bahwa pendidikan bukan soal kurikulum, melainkan soal membangun karakter.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan