Penjelasan Luhut Binsar Pandjaitan Terkait Polemik Bandara IMIP
Mantan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan angkat bicara terkait polemik yang terjadi di sekitar bandara PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Morowali, Sulawesi Tengah. Polemik ini muncul setelah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengkritik operasi bandara tersebut yang dinilai tidak dijaga oleh perangkat negara.
Luhut menyatakan bahwa dirinya yang memimpin rapat yang mengizinkan pembangunan bandara tersebut. Ia menegaskan bahwa bandara itu hanya untuk penerbangan domestik dan tidak diizinkan menjadi bandara internasional. Selain itu, ia juga memastikan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak terlibat dalam keputusan tersebut.
Berikut beberapa poin penting dari pernyataan Luhut:
1. Pimpin Rapat
Luhut mengakui bahwa izin pembangunan bandara di kawasan industri pengolahan nikel itu diputuskan dalam rapat yang ia pimpin sendiri bersama sejumlah instansi terkait. Saat itu, ia masih menjabat sebagai Menko Marves yang turut terlibat dalam suksesi pembangunan IMIP.
Menurutnya, izin pembangunan bandara diterbitkan sebagai bentuk fasilitas kepada para investor. Tindakan itu, kata dia, biasa dilakukan di negara seperti Vietnam dan Thailand.
“Jika mereka berinvestasi USD 20 miliar, wajar mereka meminta fasilitas tertentu selama tidak melanggar ketentuan nasional,” ujar Luhut.
2. Tak Izinkan Jadi Bandara Internasional
Luhut mengatakan bahwa bandara IMIP hanya melayani penerbangan domestik sehingga tidak memerlukan penjagaan petugas Imigrasi serta Bea dan Cukai. “Memang tidak memerlukan bea cukai atau imigrasi sesuai aturan perundang-undangan,” katanya.
Ia juga menyebut bahwa tidak pernah mengizinkan Bandara di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menjadi bandara internasional. Pernyataan ini disampaikan saat menjelaskan seluk beluk kawasan IMIP yang kembali menjadi perhatian publik setelah disorot oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
3. Pasang Badan untuk Jokowi
Luhut juga “pasang badan” guna membela Presiden RI Ke-7 Joko Widodo (Jokowi) terkait polemik IMIP. Ia menegaskan bahwa kebijakan membangun kawasan industri pengolahan nikel yang diisi perusahaan dari China itu bukan keputusan sepihak Jokowi.
Luhut menyatakan bertanggung jawab atas pembangunan investasi selama 11 tahun, termasuk saat IMIP bergulir. “Apabila ada pihak yang menuduh keputusan ini dibuat sepihak oleh Presiden Joko Widodo, saya tegaskan bahwa koordinasi penuh dijalankan oleh saya,” katanya.
4. Dimulai Era SBY
Ia juga menyebut bahwa kawasan industri Morowali dimulai pada era Presiden RI Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan diresmikan di era Jokowi. “Saat itu Tiongkok adalah satu-satunya negara yang siap masuk (jadi investor IMIP),” ujarnya.
Luhut lalu menyinggung pihaknya juga mendorong kebijakan hilirisasi sektor pertanian, herbal, dan hortikultura agar diterapkan Presiden Prabowo Subianto yang saat ini menjabat. Di antaranya melalui proyek Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) di Humbang.
5. Pastikan Tidak Menjadi "Negara Dalam Negara"
Luhut Binsar Pandjaitan mengaku telah berkoordinasi langsung dengan sosok yang ditunjuk Presiden China, Xi Jinping, untuk memastikan IMIP tidak menjadi “negara dalam negara”. Ia menyebut bahwa sosok tersebut adalah Wang Yi yang menjadi mitra utama Indonesia dari China.
Koordinasi dengan Wang Yi, kata Luhut, juga meliputi persoalan lingkungan dan lainnya. Selain itu, sejak 2021, ia telah meminta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menindak perusahaan-perusahaan pengolah nikel asal China yang merusak lingkungan.

Profil Luhut Binsar Pandjaitan
Luhut Binsar Panjaitan lahir di Simargala, Huta Namora, Silaen, Toba Samosir, Sumatra Utara, 28 September 1947. Putra Batak ini merupakan anak ke-1 dari 5 bersaudara pasangan Bonar Pandjaitan dan Siti Frida Naiborhu. Luhut adalah Kakak dari Kartini Pandjaitan. Ia menikah dengan Devi Simatupang dan memiliki 4 anak, yaitu: Paulina, David, Paulus dan Kerri Pandjaitan.
Luhut adalah lulusan terbaik dari Akademi Militer Nasional angkatan tahun 1970. Pada Tahun 1967, Luhut masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Darat dan 3 tahun kemudian meraih predikat sebagai Lulusan Terbaik pada tahun 1970, sehingga mendapatkan penghargaan Adhi Makayasa.
Karier militernya banyak dihabiskan di Kopassus TNI AD. Di kalangan militer dikenal sebagai Komandan pertama Detasemen 81. Berbagai medan tempur dan jabatan penting telah disandangnya. Komandan Grup 3 Kopassus, Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), hingga Komandan Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI Angkatan Darat. Ketika menjadi perwira menengah.
Pengalamannya berlatih di unit-unit pasukan khusus terbaik dunia memberinya bekal untuk mendirikan sekaligus menjadi komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Sat-81/Gultor) kesatuan baret merah Kopassus, menjadi salah satu pasukan khusus penanggulangan terorisme terbaik di dunia.
Pada Tahun 2001 Luhut Panjaitan mendirikan Politeknik Informatika Del di Desa Sitoluama, Toba Samosir.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar