
Kehilangan Seluruh Dunia dalam Hitungan Menit
Susi (30), seorang perempuan asal Kabupaten Bener Meriah, kini tengah berjuang memulihkan kondisi psikisnya setelah mengalami kehilangan yang sangat mendalam. Hidupnya seperti sebuah buku yang ditulis dengan tinta air mata, di mana setiap bab kebahagiaan selalu diakhiri oleh duka yang mendalam.
Kehilangan yang dialaminya terjadi hanya dalam hitungan menit. Saat itu, Susi sedang menyiapkan makanan di dapur ketika melihat pemandangan mengerikan lewat jendela. Batang-batang kayu raksasa hanyut deras dihantam arus. Dengan suara teriakan "Bang, air!", ia tidak sempat menyelamatkan diri dari hantaman dahsyat yang merobek dinding rumahnya.
Perjalanan Kehidupan yang Penuh Tantangan
Dari kecil, Susi tumbuh tanpa figur seorang ibu. Ia hanya mengenal kasih sayang melalui tangan sang ayah dan kerabat yang mengasuhnya secara bergantian. "Aku bahkan lupa rasanya memiliki orang tua yang lengkap," ujar dr Insan Sarami Artanoga SpKJ, yang merupakan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Bener Meriah.
Meski hidupnya penuh perpindahan, semangat Susi tak pernah padam. Beasiswa Bidikmisi membawanya lulus dari prodi PGSD Unsyiah, sebuah pencapaian yang membuatnya merasa setara dengan nasib baik orang lain. Keberhasilannya ini menjadi titik balik dalam hidupnya.
Enam tahun lalu, Susi menikah dengan Romi, seorang pria asal Kampung Rime Raya. Mereka dikaruniai dua putri, seorang putri berusia 4,5 tahun dan bayi perempuan berusia 9 bulan. Kehadiran anak-anak mereka melengkapi peran Susi sebagai seorang ibu.
Namun, takdir berkata lain dan menjadi ujian paling kelam pada akhir tahun 2025.
Petaka 26 November 2025: "Bang, Air"!
Pagi itu, hujan rintik seolah enggan berhenti di kawasan Dusun Sejahtera. Di dapur, Susi sedang menyiapkan makanan, hingga sebuah pemandangan mengerikan tertangkap matanya lewat jendela. Batang-batang kayu raksasa hanyut deras dihantam arus.
"Bang, air!" Hanya dua kata itu yang sempat terlontar sebelum hantaman dahsyat merobek dinding rumahnya. Banjir bandang setinggi atap menerjang tanpa ampun. Susi tergulung dalam pusaran lumpur, kayu, dan puing selama dua menit yang terasa selamanya.
Ditengah kegelapan lumpur, pikirannya hanya meneriakkan satu hal: "Anak-anakku." Secercah mukjizat muncul saat tangannya meraih sepotong ranting kayu. Dengan sisa tenaga, Susi berpegangan pada ranting tersebut dan menarik tubuhnya keluar dari kubangan maut.
Jiwa yang Terperangkap dalam Trauma
Sepuluh hari dirawat di Puskesmas Pembantu (Pustu), luka fisik Susi mulai pulih, namun jiwanya hancur berkeping-keping. Bayangan bayinya yang terseret arus dan rintihan minta tolong putri sulungnya terus terngiang di telinganya.
Tak hanya kedua putrinya, suami dan mertuanya juga menjadi korban dalam peristiwa memilukan itu. Hingga saat ini, jasad keempat anggota keluarganya belum ditemukan.
"Setiap kali melihat perutku, ada bekas operasi sesar itu. Bekas yang seharusnya menjadi pengingat kebahagiaan, kini menjadi luka yang paling perih," ungkapnya dengan mata yang terus membasah.
Jalan Panjang Menuju Pemulihan
Dokter spesialis kedokteran jiwa, dr Insan SpKJ yang menangani Susi sejak 1 Januari 2026, menyatakan bahwa kondisi psikis pasien memerlukan perhatian intensif. "Kami memberikan kombinasi terapi Psikofarmaka, psikoterapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy), dan psikoterapi religi untuk membantunya mengelola trauma yang sangat berat ini," ujar dr Insan.
Susi adalah potret nyata bahwa dampak bencana melampaui kerugian materi. Dibalik angka statistik korban banjir Bener Meriah, ada seorang ibu yang kehilangan seluruh dunianya. Ia kini tengah berjuang untuk sekadar berani bercerita kembali tanpa harus tersedak oleh air mata.
Bagi Susi, fajar yang menyingsing bukan lagi soal masa depan, melainkan tentang bagaimana ia bertahan hidup dengan memori yang telah hanyut dibawa arus banjir bandang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar