
Keberadaan Monyet Darre yang Terancam Punah
Banyak satwa di Indonesia yang menghadapi ancaman kepunahan. Beberapa di antaranya nyaris punah, bahkan ada yang sudah tidak ditemukan lagi di habitat alaminya. Salah satu spesies yang terancam adalah monyet darre atau Macaca maura, yang juga dikenal dengan nama monyet hitam Sulawesi. Berdasarkan data dari Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) tahun 2015, monyet ini masuk dalam kategori "terancam punah" (endangered).
Monyet darre merupakan primata endemik Indonesia yang hanya ditemukan di Sulawesi Selatan. Spesies ini dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Upaya konservasi sangat penting untuk menjaga keberadaannya.
Di Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), unit konservasi Taman Safari Indonesia (TSI) di Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, individu-individu Macaca maura masih terlihat lincah dan aktif. Bahkan, beberapa di antaranya baru saja lahir, menunjukkan bahwa upaya konservasi dapat memberikan harapan bagi kelangsungan hidup spesies ini.
Primata yang Dilupakan
Kurator PCBA, Jochen Menner (34), menjelaskan bahwa banyak jenis primata yang sering kali diabaikan dalam upaya konservasi. Salah satunya adalah monyet darre. Ia menyebutkan bahwa Macaca maura tinggal di kawasan karst Makassar, khususnya di kawasan Karst Maros-Pangkep, yang menjadi habitat penting bagi spesies ini.
Status "terancam punah" dari monyet darre tidak lepas dari kerusakan habitat dan pandangan masyarakat sekitar yang memandang mereka sebagai hama. Selain itu, penampilan bulu yang berwarna hitam dinilai tidak menarik. "Di seluruh Indonesia, hanya satu jenis macaca yang mendapat perhatian dari komunitas konservasi, yaitu Macaca nigra (monyet wilai)," ujar Jochen.
Macaca nigra merupakan primata khas Indonesia yang berasal dari Sulawesi Utara. Jochen menjelaskan bahwa spesies ini memiliki status "terancam punah kritis". Populasinya di dunia mencapai sekitar 100.000 individu, namun sebarannya di alam hanya tersisa beberapa ratus ekor.
Menurut Jochen, dulu ketika ia masih kecil, sekitar 15-20 tahun lalu, Macaca maura masih bisa ditemukan di kebun binatang di Jerman. Saat ini, hanya tersisa dua jantan. Ia menyebutkan bahwa penurunan jumlah Macaca maura di kebun binatang Eropa disebabkan oleh kurangnya minat publik. "Mereka dianggap galak," ujarnya.
Data dan Penelitian Mengenai Monyet Sulawesi
Berdasarkan laporan IUCN, perkiraan kepadatan populasi Macaca maura di luar kawasan lindung berkisar antara 16 hingga 98 individu per kilometer persegi. Deden Ismail dan Moh. Agus Sutiarso dalam bukunya Primata yang Dilindungi di Indonesia menyebutkan bahwa penelitian mengenai monyet Sulawesi lebih fokus pada pertanyaan mengapa lebih banyak jenis monyet marga Macaca di Sulawesi dibandingkan dengan keseluruhan monyet di Asia.
Namun, menurut mereka, hal yang lebih menarik adalah bagaimana monyet tersebut berada dan menyebar di Sulawesi serta bagaimana bentuk morfologi yang berbeda tersebut terbentuk. Penelitian seperti ini penting untuk memahami keanekaragaman hayati dan strategi konservasi yang efektif.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar