Mahasiswa ITS Surabaya ciptakan alat pendeteksi TBC lewat suara batuk

Mahasiswa ITS Surabaya ciptakan alat pendeteksi TBC lewat suara batuk

SURABAYA, nurulamin.proMahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan alat skrining Tuberkulosis (TBC).

Alat skrining ini dimungkinkan lebih cepat mendeteksi penyakit karena berbasis suara batuk.

Alat tersebut dirancang oleh lima mahasiswa Program Studi Teknologi Kedokteran ITS Surabaya yang tergabung dalam tim TBCare. Yakni, Nikolas Stanislaus Sanjaya, Faisal Azmi Sirajudin, Miskiyah, M Rizki Dwi Kurnia Putra dan Nathania Cahya Romadhona.

Nathania, selaku ketua tim, mengatakan, terdapat tantangan dalam pengolahan sinyal batuk karena suara batuk bersifat inharmonik yang memiliki pola spektral tidak beraturan.

Sementara itu, deteksi kecerdasan buatan yang saat ini dikembangkan masih berfokus pada model deteksi batuk dengan fitur akustik, seperti Mel-Frequency Cepstral Coefficients (MFCC).

“Diperlukan pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas sinyal batuk secara lebih komprehensif,” kata Nathania, Senin (12/1/2026).

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Nathania dkk memanfaatkan metode deep learning untuk mencari karakteristik akustik pada suara batuk pasien TBC.

“Data itu lalu diolah dengan Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet) untuk memvalidasi jenis suara,” jelasnya.

Model tersebut dinilai memiliki akurasi dan performa yang lebih unggul dalam mengklasifikasi dan memvalidasi suara batuk di berbagai kondisi lingkungan.

Selain itu, mereka juga memodifikasi sejumlah arsitektur deep learning dengan cara mengekstraksi fitur menggunakan MFCC lalu diproses sebagai input untuk Long Short-Term Memory (LSTM).

“Tujuannya untuk mendapatkan data tingkat akurasi yang lebih optimal dalam membedakan batuk TBC dan non-TBC,” tuturnya.

Rekaman suara batuk yang mereka rancang akan terintegrasi dengan sistem Internet of Things (IoT) dengan basis data sejumlah rumah sakit. Artinya, pengiriman dan pengolahan data rekam medis lebih efisien.

“Perangkat ini memiliki kemampuan pra-skrining TB portable yang mudah dioperasikan oleh kader kesehatan di berbagai daerah,” terang Nathania.

Ia menegaskan bahwa inovasi timnya telah melalui uji validasi medis yang menghasilkan tingkat klasifikasi batuk tuberkulosis dengan sensitivitas sebesar 76 persen.

Rancangan mereka telah meraih medali emas dalam Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (Pimnas) 2025 lalu dan mendukung pencapaian tujuan ke-3, ke-9 dan ke-10 Sustainable Development Goals (SDGs).

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan