Mahasiswi UNIMA yang Tewas Usai Dilecehkan Dosen Punya Keinginan Mulia, Pesan WA Jadi Bukti

Kehilangan yang Menyedihkan

Malam terasa jauh lebih kelam ketika Antonius akhirnya tiba di rumah persemayaman putri tercintanya, Antoineta Evia Maria Mangolo, di Perumahan CBA Gold, Mapanget, Minahasa Utara, Rabu (31/12/2025) dini hari. Di hadapannya, terbaring tubuh sang anak mahasiswi yang meninggal secara tak wajar di kamar kosnya di Tomohon, Sulawesi Utara. Jenazah Evia ditemukan pada Selasa siang. Sejak saat itu, waktu seolah berhenti bagi keluarga.

Tangis pecah di tengah malam. Begitu melihat jasad putrinya, Antonius tak lagi mampu berdiri. Tubuhnya tersungkur. Tangisnya pecah, sejadi-jadinya. Malam itu terasa seperti akhir segalanya. Ia adalah seorang buruh bagasi, pekerja keras dengan penghasilan pas-pasan. Bertahun-tahun ia menahan lelah demi satu harapan: melihat anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan. Kini, penyemangat hidupnya telah terbujur kaku.

Uang Dikirim Sedikit demi Sedikit

Ketsia, tante korban, mengatakan bahwa kedua orang tua Evia bekerja tanpa kenal lelah demi menghidupi Evia dan adiknya. Meski tak selalu mudah, mereka rutin mengirim uang untuk kebutuhan sang anak. “Setahu saya mereka kirim lewat orang lain yang kemudian mentransfer ke Evia,” katanya. Di balik keterbatasan, ada tekad besar agar anaknya tidak bernasib sama, agar pendidikan menjadi jalan keluar dari kerasnya hidup.

Evia dan Janji pada Orang Tua

Menurut Ketsia, Evia adalah sosok yang berjuang keras di bangku kuliah. Ia ingin membalas jerih payah orang tuanya dengan prestasi. Beberapa waktu lalu, Evia sempat mengunggah sebuah story foto selembar kertas yang diduga sebagai bukti kelulusan Kuliah Kerja Nyata (KKN). “Ia menulis kado Natal untuk mama,” kata Ketsia. Unggahan sederhana itu kini menjadi kenangan yang menusuk, janji kecil yang tak sempat terwujud sepenuhnya.

Keputusan Berat: Otopsi Jenazah

Keluarga akhirnya memutuskan bahwa jenazah Evia Maria Mangolo akan menjalani otopsi di RS Kandou Manado, Rabu (31/12/2025). Keputusan berat ini diambil setelah keluarga menemukan sejumlah luka membiru pada tubuh almarhumah. Ketsia mengisahkan, pada Rabu malam di rumah duka, ia terdorong untuk memeriksa kaki jenazah. “Saat itulah ada tanda biru serta tanda seperti luka,” katanya. Tak lama kemudian, atas saran seseorang, keluarga memeriksa bagian tubuh lain. “Beberapa saat kemudian, atas saran seseorang, pihaknya membuka tubuh jenazah dan ditemukan tanda biru di pinggang kiri dan di paha atas,” ungkapnya. Dari temuan itulah, keluarga sepakat mengambil langkah otopsi.

Menyerahkan Kebenaran pada Hukum

Ketsia menuturkan, ayah Evia telah tiba sejak Kamis dini hari. Pada Kamis pagi, ia langsung menuju Polda untuk persiapan proses otopsi. Sebenarnya, jenazah Evia direncanakan dipulangkan ke kampung halaman pada Kamis. Namun rencana itu dibatalkan demi kepentingan penyelidikan. Kini, keluarga memilih satu jalan: menyerahkan sepenuhnya penanganan kematian Evia kepada pihak berwajib. Di balik tangis dan kelelahan, tersisa harapan agar kebenaran menemukan jalannya agar kepergian Evia tidak menjadi duka yang sunyi tanpa keadilan.

Kronologi Penemuan Jenazah

Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, peristiwa ini pertama kali diketahui sekitar pukul 08.00 Wita. Penemuan bermula saat pemilik kost berinisial YR menerima telepon dari salah satu penghuni yang melaporkan adanya penghuni kost ditemukan meninggal dunia. YR kemudian segera menuju lokasi indekost. Setibanya di tempat kejadian, ia melihat korban berada di depan pintu masuk kost dalam kondisi sudah tidak bernyawa. YR lalu melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kelurahan. Tak lama berselang, personel Polsek Tomohon Tengah mendatangi lokasi. Kapolsek Tomohon Tengah IPTU Stenly Tawalujan, bersama tim identifikasi dari Polres Tomohon, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Korban Mengadu, Namun Tak Mendapat Perlindungan

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa sebelum tragedi terjadi, Maria sempat melaporkan dugaan pelecehan tersebut kepada dosen pembimbing akademiknya. Namun laporan itu diduga tidak ditindaklanjuti secara serius. Fakta inilah yang memicu kemarahan publik. Banyak pihak mempertanyakan mekanisme perlindungan korban kekerasan seksual di lingkungan kampus, serta sejauh mana tanggung jawab institusi pendidikan dalam melindungi mahasiswa.

Dalam suratnya, Maria menuliskan dampak psikologis yang ia alami: “Kejadian tersebut masih dalam lingkup kampus FIPP. Dampak yang saya rasakan adalah trauma dan ketakutan. Setiap bertemu DM, saya merasa malu jika ada mahasiswa yang melihat saya naik atau turun dari mobilnya karena bisa menjadi bahan pembicaraan. Saya merasa tertekan dengan masalah ini.”

Pengakuan tersebut menggambarkan tekanan mental mendalam yang dialami korban, terlebih karena dugaan pelecehan terjadi di ruang akademik yang seharusnya menjadi tempat aman.

Permohonan Terakhir kepada Pimpinan Fakultas

Di bagian akhir suratnya, Maria secara tegas menyampaikan harapannya agar pihak fakultas bertindak. “Saya memohon agar pihak pimpinan dapat menangani masalah ini.” Ironisnya, surat ini justru viral setelah korban meninggal dunia, bukan ketika ia masih hidup dan membutuhkan perlindungan nyata.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan